Puluhan Tahun Hidup di Rumah Tidak Layak Huni, Janda Miskin di Pasbar Ini Butuh Uluran Tangan

Rumah Juwana tampak dari samping belakang
Rumah Juwana tampak dari samping belakang (Irfansyah Pasaribu)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Janda miskin bernama Juwana dengan dua orang anak yang masih dalam tanggungan, hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Ia sudah tinggal di rumah reyot selama puluhan tahun dengan kondisi rumah terbilang tidak layak huni. Janda miskin berumur 56 tahun itu tinggal di Bancah Inai, Jorong Langgam, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat .

baca juga: Ini Profil Mantan Wali Nagari Kinali yang Dampingi Petahana di Pilkada Pasbar

"Kerja saya serabutan, dalam sehari saya menerima upah Rp60 ribu itu pun kalau ada orang yang minta bantuan tenaga saya, bagaimana kami memperbaiki rumah, dapat makan saja sudah sukur," sebut Jawana pada wartawan, Rabu (5/8/2020).

Sejauh ini Jawana berupaya terus bekerja demi membiayai dua anak nya agar tetap sekolah. Akan tetapi karena usianya yang sudah masuk lanjut usia, sehingga menjadi pertimbangan bagi orang lain untuk memperkerjakannnya.

baca juga: Kabar Baik, Plt Direktur RSUD Pasaman Barat Beserta Paramedis Sembuh dari Virus Corona

"Jika ada orang yang minta tolong, saya akan bekerja, kalau tidak ya menganggur. Apa saja saya kerjakan, guna membiayai kedua anak saya agar tetap bisa melanjutkan sekolah mereka yang duduk di bangku SMA dan SMP," katanya.

Rumah Juwana ini jauh dari keramaian, dari jalan lintas Manggopoh berjarak sekitar delapan kilometer ke arah barat laut. Meski jauh dari keramaian, di sekitar rumah Jawana masih ada sekitar 10 rumah lainnya yang bertetangga dengannya.

baca juga: Pasien Positif Corona Terus Bertambah, Warga Pasbar Diminta Bekerjasama Basmi Penyebaran

Kediaman Juwana, selain tak layak huni juga tak ada aliran listrik, sedangkan atap rumahnya dari atap rumbia yang sudah banyak bocor. Jika hari hujan, rumah akan digenangi air. Kemudian, mereka pun tidak memiliki MCK.

Rumah Juwana bisa terbilang bukan sebuah ramah, tetapi bisa dikatakan sebuah gubuk untuk pelepas tempat berteduh dari terik matahari, namun tidak dari derasnya air hujan.

baca juga: 68 Karyawan Bank Nagari di Simpang Empat Pasbar Jalani Tes Swab

Dinding-dinding rumah nya pun sudah dibuatkan kayu penahan dinding agar tidak roboh dalam sewaktu-waktu jika ada angin kencang atau badai menerjang.

Selain itu, kedua putri dari Juwana tetap semangat dalam menuntut ilmu. Meski jarak yang ditempuh sejauh 8 kilometer menuju rumah sekolah dengan berjalan kaki menelusuri perkebunan sawit mereka tetap semangat.

Mustika Weli (16) salah seorang putri Juwana menyebutkan menuju sekolah ke SMA dan SMP di Kinali harus melewati kebun sawit yang sangat sepi. Sedangkan mereka tidak memiliki kendaraan roda dua.

"Kadang kami numpang naik sepeda motor, kadang berjalan sejauh 8 km untuk sekolah, kami berangkat usai salat subuh," sebutnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Haswandi