Melirik Bisnis Kuliner Randang Ega di Pessel

Mega Yuliana pemilik bisnis Rendang Ega di Pessel
Mega Yuliana pemilik bisnis Rendang Ega di Pessel (istimewa)

PESSEL , KLIKPOSITIF - Meski tengah pandemi COVID-19, bisnis kuliner Randang Ega di Kabupaten Pesisir Selatan ( Pessel ), Sumatera Barat tetap berproduksi seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, bahkan pesanan rendang di musim pandemi ini diakui meningkat.

"Alhamdulillah masih konstan, bahkan pada masa pandemi ini pesanan terasa ada peningkatan dari biasanya," ungkap Mega Yuliana (35) saat berbincang-bincang dengan KLIKPOSITIF .

baca juga: Korban Banjir di Muaro Painan dan Batangkapas Pessel Dievakuasi

Randang Ega merupakan, salah satu usaha kuliner yang terus berkembang sampai sekarang. Bertempat di Nagari Bungo Pasang Salido, Kecamatan IV Jurai, usaha yang dirintis sejak 2015 lalu juga merambah pasar internasional.

Bahkan saat ini, usaha Mega Yuliana telah memiliki pelanggan tetap. "Namun, untuk mancanegara terkendala pengiriman. Tapi, untuk Jabodetabek masih tetap," jelasnya.

baca juga: Warga Batangkapas Pessel Nekat Terobos Banjir

Rendang diproduksi Mega memiliki berbagai varian, mulai dari rendang spesifik lokan, daging, limfa, paru, hati, tuna dan jengkol. Selain itu, tempat usaha ini juga memproduksi dendeng.

Berproduksi di masa pendemi, Mega Yuliana tidak menapik ada kendala. Meski pesanan dan produksi lancar, tapi untuk pengiriman sedikit menjadi keluhannya.

baca juga: Pessel Dilanda Banjir dan Jalan Terban, Akses Warga Terganggu

Bukan, soal awetnya rendang yang dikirim. Namun, soal cepat pesanan sampai pada pelanggan. Karena kebanyakan kirim yang diantar menggunakan pihak ketiga lebih banyak melalui darat.

"Jadi, soal cepat pengiriman agak terkendala. Tapi, kalau soal awet selain rendang lokan pakis itu bisa tahan satu bulan, tapi lokan pakis 15 hari," terangnya.

baca juga: Hari Ini Kasus COVID-19 di Pessel Jadi 181, Meninggal 6 Orang

Berbicara peningkatan pada masa pendemi ini, dalam satu minggu ia memproduksi sebanyak 60 kilogram. Hal itu, katanya sedikit meningkat dari biasanya yang hanya 40 kilogram.

"Yang dominan itu rendang lokan, kebanyakan yang sudah menerima pesanan, kembali berpesan. Jadi produksi-pun ikut ditingkatkan," tutupnya.

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Haswandi