203 Orang Positif Corona di Sumbar Selama Seminggu, Epidemiolog: Saya Tidak Kaget!

Ilustrasi tes swab.
Ilustrasi tes swab. (KLIKPOSITIF)

KLIKPOSITIF -- Penularan virus corona kembali melonjak tajam di Sumatera Barat. Selama seminggu ini saja tercatat 203 orang dinyatakan positif. Rinciannya:

  • Selasa (4 Agus) : 13 kasus
  • Rabu (5 Agus) : 19 kasus
  • Kamis (6 Agus) : 32 kasus
  • Jumat (7 Agus) : 41 kasus
  • Sabtu (8 Agus) : 23 kasus
  • Minggu (9 Agus) : 38 kasus
  • Senin (10 Agus) : 37 kasus

Epidemiolog Universitas Andalas ( Unand ) Defriman Djafri mengaku tak kaget dengan lonjakan tajam infeksi virus corona ini.

"Saya tidak kaget karena masyarakat tidak hanya abai, tapi juga seperti tidak mempercayai lagi adanya virus corona ," ujar Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unand ini kepada KLIKPOSITIF .

baca juga: Epidemiolog Sebut Jika Mobilitas Warga Tak Distop, Ini yang Terjadi

Di lapangan, sebutnya, mudah menemui masyarakat tidak menggunakan masker. Meyakinkan masyarakat ini merupakan pekerjaan utama pemerintah.

Ia melihat pemerintah putus asa dalam meyakinkan masyarakat ini. Barangkali, sebutnya, persoalannya adalah pemerintah lebih mengedepankan komunikasi dengan mempublish banyaknya pasien yang sembuh sehingga muncul kesimpulan masyarakat, tidak apa-apa terjangkit, toh akhirnya akan sembuh juga.

baca juga: Agam Terkoneksi, Bupati: Internet Gratis Hingga Pelosok Nagari

Sumbar, sebutnya, di awal-awal kemunculan virus ini sudah mampu mengendalikan karena kekuatan pengujian yang masif. Tapi, memanfaatkan labor saja tidak cukup. Butuh sosialisasi agar masyarakat patuh kepada protokol supaya bisa menekan penularan.

Percuma saja kekuatan pengujian masif sementara tidak mampu mengendalikan tingkat infeksi. Menurut Defriman, keduanya harus seiring yaitu kekuatan pengujian yang masif dan meningkatnya kesadaran masyarakat.

baca juga: Pentingnya 3 M, Tom Frieden: Tak Ada Akhir Seperti Cerita Dongeng Untuk Pandemi

Defriman mengatakan, ada dua solusi yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, masyarakat harus diingatkan betul bahaya penularan ini karena berbicara infeksi adalah penularan dari orang ke orang. Jadi, subjeknya orang. Bahkan disanksi jika aturan dilanggar.

Kedua, dan menurutnya ini yang paling penting, menciptakan atmosfer. Misalnya di bank, kenapa orang tidak merokok? karena atmosfernya dibangun supaya orang tidak merokok dengan memasang AC. Coba kalau ruangan bank dibuat terbuka dan tak ada AC, pasti sulit mencegah perokok.

baca juga: Bertambah 9 Orang, Total Pasien COVID di Pessel Hari Ini Jadi 169 Kasus

Sekarang, pemerintah harus bisa membuat atmosfer bagaimana orang malu tidak menggunakan masker. Bukan sebaliknya, orang yang pakai masker justru yang malu karena di sekitarnya tak ada yang menggunakan masker. (*)

Editor: Pundi F Akbar