Ridwan Tulus: Green Tourism Solusi Pariwisata di Tengah Pandemi

Ridwan Tulus, seorang tour designer dan tour operator Green Tourism
Ridwan Tulus, seorang tour designer dan tour operator Green Tourism (Ade Suhendra)
PADANG, KLIKPOSITIF -

Tour Designer Ridwan Tulus bersama Green Tourism Institute gelar workshop tour designer, Sabtu 29 Agustus 2020 di Kyriad Bumi Minang, Padang.

Kegiatan tersebut diikuti oleh kolaborasi stakeholder atau pentahelix pariwisata seperti akademisi, pelaku, komunitas, pemerintah, dan media.

Ridwan Tulus didampingi Sekretaris Green Tourism Institute Mulyandri Ramadhan Bachtiar mengatakan kegiatan tersebut sengaja digelar untuk berbagi dan membuka cakrawala berbagai stakeholder.

baca juga: Libur Panjang, Polres Payakumbuh Tingkatkan Pengawasan di Objek Wisata

Ia menjelaskan bahwa pariwisata tersebut sangat luas dan saat ini yang dilakukannya baru kulitnya saja.

"Mari kita sama-sama memikirkan pariwisata Sumbar. Kegiatan ini kami gelar untuk memberikan pengetahuan tentang green tourism dan ke depan akan dilakukan secara bertahap untuk merancang berbagai program green tourism ini," kata Ridwan Tulus yang pernah membuat rekor dunia dengan berjalan kaki di Jepang sejauh 400 kilometer sambil membawa bendera merah putih tahun 2002 lalu.

baca juga: Bawa 6 Jerigen Tuak, Pengendara Ini Ditangkap Saat Razia Masker di Payakumbuh

Ia menjelaskan, dengan kondisi Pandemi ini sebenarnya kendala apapun bisa dijadikan sebagai program pariwisata . Tinggal bagaimana pelaku pariwisata atau tour operator mengelolanya menjadi sebuah paket wisata.

"Green tourism ini adalah solusi sebenarnya kalau jeli. Apalagi saat ini paket pariwisata yang ditawarkan oleh green tourism ini juga banyak seperti Forest Healing, Oceanic Healing, dan banyak lagi program yang menyehatkan dan dapat disesuaikan dengan pandemi," kata Ridwan Tulus dan Mulyandri R. Bachtiar.

baca juga: Inovasi Pelayanan Kesehatan RSUD Painan Saat Pandemi

Kemudian menurutnya, momen pandemi ini dapat digunakan untuk menggali potensi daerah . Sebab masih banyak yang harus digarap karena dikatakannya bahwa hal biasa menurut seseorang belum tentu biasa menurut orang lain.

Penulis: Ade Suhendra | Editor: Eko Fajri