Tinggal Dua kelompok Pengrajin Batik Sampan yang Masih Bertahan di Pariaman

Pengrajin muda sedang berkarya
Pengrajin muda sedang berkarya (Rehasa)

PARIAMAN , KLIKPOSITIF - Produksi Batik Sampan di kota Pariaman Sumatera Barat (Sumbar) kembali menggeliat, yang tak lepas dari bantuan Dinas Perindagkop.

Berdasarkan keterangan Kadis Perindagkop Kota Pariaman , Gusniyeti Zaunit, di Pariaman ada dua kelompok pengrajin Batik Sampan yang masih bertahan.

baca juga: Tren Pelanggaran Perda AKB di Pariaman Meningkat

"Ada dua kelompok pengrajin Batik Sampan yang masih bertahan hingga kini. Saat pandemi datang usaha batik tersebut sempat "guncang", lalu kami dukung dengan menambah modal serta membeli produk usaha batik," ungkap Gusniyeti Zaunit, Kamis 24 September 2020.

Lebih lanjut Kadis Perindagkop itu menuturkan, produksi batik yang dibeli pihaknya semata-mata untuk membantu para pengrajin agar tidak berpindah profesi. "Produksi mereka yang kami "ambil" diberikan kepada dinas-dinas Pemerintahan Pariaman ," sebut Gusniyeti.

baca juga: Sekda Pariaman Diganti, Walikota: Ini Bukan Unsur Politik

Dikatakannya juga, pada akir Maret 2020, pandemi membuat para pengrajin kewalahan lantaran pasar sepi. Semenjak itu pula dinas terkait membantu untuk bertahan.

Di kota Pariaman ada dua kelompok pengrajin Batik Sampan yang masih bertahan yakni di Desa Sungai Kasai dan Desa Pungguang Ladiang.

baca juga: Kisah Azwardi Merawat Tiga Anaknya yang Mengalami Karapuhan Tulang Semenjak Bayi

Pengrajin dari Desa Sungai Pasai bernama Rahmayeni (30) yang mempunyai delapan orang anggota menjelaskan awal dirinya merintis usaha batik tersebut. Usahanya diberi nama IKM Pesona Minang.

"Pada Oktober 2019 saya pulang dari rantau. Sampai di Pariaman saya lihat peluang ekonomis dari usaha Batik Sampan. Dari sana lah saya memulai usaha secara manual," jelas Rahmayeni.

baca juga: Kapolsek Sungai Limau Beberkan Alasan Aparat Keamanan Turun Tangan Kuburkan Jenazah Terkomfirmasi Covid-19

Produksi pertama Batik Sampan Rahmayeni yang bermotif Tabuik dipertunjukkan kepada Dinas Perindagkop. "Kadis datang langsung ke sini dan bersedia membantu. Lalu saya diajak mengikuti pelatihan dan juga dibantu hal lainnya sehingga sampai sekarang masih bertahan," jelasnya.

Rahmayeni juga mengatakan, ada 8 orang anggotanya. Dalam sebulan mereka bisa mengerjakan puluhan Batik Sampan dengan motif Tabuik, Sala dan ikon Pariaman lainnya.

"Di sini anggota dapat bayaran setiap harinya, mulai dari 40 hingga 50 ribu rupiah," ulasnya.

Sementara itu untuk harga Batik Sampan, dibanderol mulai dari harga dua ratus hingga lima ratus ribu rupiah.

Cerita tentang Rahmayeni senada dengan penjelasan Dewi, pengrajin Batik Sampan 3 Diva. Di Desa Pungguang Ladiang.

"Kami ada 10 anggota yang bekerja dari Senin hingga Sabtu. Dalam sebulan bisa mengerjakan sekitar 30 batik dengan motif ikon kota Pariaman ," jelas Dewi.

Saat ini pihaknya sedang menggagas pemasaran online karena tuntutan pandemi. "Ya semenjak pandemi kami harus mencari peluang pemasaran melalui online, karena kondisinya seperti itu," sebut Dewi.

Penulis: Rehasa | Editor: Eko Fajri