Sampel Banyak Menumpuk, Hasil Swab Pasien di Agam Lama Menunggu

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

AGAM , KLIKPOSITIF --Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Dinas Kesehatan Agam Tripipo mengatakan, saat ini terjadi penumpukan jumlah sampel di Laboratorium.

Ia mengatakan, penumpukan sampel membuat hasil swab keluar lebih lama dibanding biasanya. "Sebelumnya 3 harian sudah keluar. Sekarang ini bisa 5-7 hari baru bisa diketahui hasilnya. Ini terjadi sejak dua bulan belakangan, Labor memang kewalahan ,"ucap Tripipo saat dikonfirmasi dari Bukittinggi, Jum'at 25 September 2020.

baca juga: KTT G20 Dilangsungkan Secara Virtual Akhir November

Ia mengatakan, jumlah sampel dikirim sering melebihi kapasitas laboratorium sehingga hal ini berakibat dengan telatnya hasil.

"Kita kan mengirim sampel ke Unand dan Veteriner Baso. Kapasitas hariannya sekitar 3000an, sementara sampel yang masuk bisa 5000an setiap harinya,"ucapnya.

baca juga: Seorang Perawat Dianiaya karena Ingatkan Pakai Masker di Kereta

Lamanya hasil swab , kata Pipo, cukup membuat pihaknya kelabakan karena terlambat menentukan positif atau negatifnya pasien. "Contohnya saat kita ingin mengeluarkan pasien dari rumah sakit atau tempat isolasi, tentu akan lebih lama karena hasilnya belum keluar, sehingga perputaran pasien masuk atau keluar akan lebih lama,"ungkapnya.

Sementara salah satu warga yakni Sutan Mangkuto menyebut, ia kedatangan keluarganya dari luar Sumatera Barat. Prosedurnya tentu keluarganya ini mesti diswab dan hal ini sudah dilakukannya.

baca juga: DPRD Sumbar Minta Pemprov Buat Aturan Khusus Terkait Pelaksanaan MTQ Saat Pandemi

"Sekarang keluarga saya itu sudah isolasi mandiri selama seminggu sejak kedatangannya, namun hingga hari ini belum diketahui hasil swabnya,"katanya.

Agam mengkonfirmasi sebanyak 508 kasus hingga Kamis 24 September 2020. Rinciannya sembuh 206, dan 8 meninggal dunia. Sisanya masih menjalani isolasi dan karantina.

baca juga: Kisah Sekeluarga di Agam Tinggal di Rumah Hampir Roboh

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Ramadhani