Positif Covid-19 Sumbar Meningkat, Epidemiolog: Karena Gagal Mengontrol Pergerakan Orang

ilustrasi
ilustrasi (net)

PADANG, KLIKPOSITIF - Epidemiolog Universitas Andalas (UNAND), Defriman Djafri menilai peningkatan kasus positif covid-19 di Sumatera Barat karena kegagalan dalam mengontrol pergerakan orang.

Menurutnya,testing atau tes PCR swab yang sudah dilaksanakan dalam jumlah besar di Sumbar harus bersamaan dengan pembatasan pergerakan orang.

baca juga: Laga RB Leipzig Vs Istanbul Basaksehir Boleh Dihadiri Penonton

"Terlebih orang-orang yang tidak taat dengan protokol kesehatan," katanya.

Menurutnya, jalur penularan covid-19 adalah dari orang ke orang. "Pengendalian penularan itulah yang memang menitik beratkan mobilitas, aktivitas dan perilaku orang yang perlu dikendalikan," lanjutnya.

baca juga: Cegah Penularan Covid-19 Pada Nakes, Ruang ICU Tak Usah Pakai AC

Ia mengatakan, konsekuensi melakukan testing dengan masif adalah penemuan kasus yang meningkat. "Di sini harusnya dengan masifnya testing dan semakin banyak temuan orang positif, gugus tugas harus berpacu dengan kecepatan penyebaran virus," lanjutnya.

Menurutnya, ada kekeliruan dalam memahami angka positivy rate dibawah 5 persen. "Selama ini kondisi positivy rate di bawah 5 disebut sebagai kondisi aman. Padahal angka positive rate ini kata dia harus dihitung dengan benar," lanjutnya.

baca juga: Bawaslu Pasbar Kembali Teruskan Dua Kasus Dugaan Pelanggaran Netralitas ASN

Ia mengatakan, karena ada individu sampel yang diperiksa berulang, juga harus dilakukan dengan komprehensif surveilans dalam pengujian kasus suspek serta dievaluasi selama dua minggu.

"Bukan tiap hari dilaporkan gugus tugas selama ini. Jika dipastikan kondisi yang baik, angka positive rate yang kurang dari 5 persen juga harus diikuti dengan penurunan kasus rawatan dan ICU secara terus menerus selama 2 minggu," sambungnya.

baca juga: Tren Pelanggaran Perda AKB di Pariaman Meningkat

Menurutnya, saat ini angka positive rate di bawah 5 persen tidak seiring dengan angka peningkatan kasus positif covid-19.

"Ditambah angka kasus rawatan dan angkat kematian karena covid-19 terus meningkat. Beberapa rumah sakit dilaporkan sudah penuh untuk penanganan covid-19 sehingga sudah tidak sanggup lagi penampung pasien," sambungnya.

Ia menyarankan pemerintah menjalankan konsekuensi menyediakan tempat isolasi yang cukup untuk mengisolasi orang-orang yang telah dipastikan positif covid-19.

"Karena selama ini mayoritas kasus positif covid-19 ditangani dengan isolasi mandiri. Sehingga orang-orang yang sudah dinyatakan positif covid-19 ini masih berpotensi menularkan kepada orang lain," sambungnya.

Jika tidak, menurutnya mustahil mata rantai penularan Covid-19 akan terputus.

"Ibarat main petak-umpet (main Cik-Mancik), ketika kita berhasil menangkap, yang ditangkap menularkan lagi karena tempat isolasi yang tidak ada dan isolasi yang tidak benar dilakukan," lanjutnya.

Ia mengatakan, hal tersebut akan menjadi pekerjaan yang sia-sia pada akhirnya dikarenakan strategi dan pengendalian tidak komprehensif dilakukan.

Penulis: Halbert Caniago | Editor: Ramadhani