Unjuk Rasa di DPRD Pasaman Barat, Mahasiswa ke Wakil Rakyat: Giliran Pemilu Ketok Pintu Kami dengan Wajah Manis

Suasana ratusan mahasiswa unjuk rasa di halaman kantor DPRD Pasaman Barat dalam kondisi diguyur hujan
Suasana ratusan mahasiswa unjuk rasa di halaman kantor DPRD Pasaman Barat dalam kondisi diguyur hujan (Irfansyah Pasaribu)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Ditengah guyuran hujan, gabungan mahasiswa di Pasaman Barat melakukan aksi unjuk rasa di halaman kantor DPRD Pasaman Barat ( Pasbar ), Kamis (8/10/2020), menolak Omnibus Law atau UU Cipta Kerja (Ciptaker) yang baru disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

"Kami sebagai mahasiswa penyambung lidah rakyat. Menurut kami UU Cipta Kerja itu merugikan kaum buruh , berhujan-hujan tidak masalah bagi kami," sebut Habibi salah seorang orator.

baca juga: Jangan salah, Begini Ciri - Ciri Ikan Tongkol Segar

Menurut mereka para wakil rakyat tidak pro rakyat dan telah memperkosa hak-hak rakyat. Lanjut Habibi, negara ini sedang dirampok oleh kaum elit politik untuk itu mereka turun serentak.

"Negara ini sedang dirampok dan negara ini sakit. Kita disini juga berjuang dan sama dengan kawan-kawan mahasiswa di pusat dan daerah lain bergerak demi membela rakyat," katanya.

baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Tanah Datar Tercatat 1.313 Orang, Warga Diminta Sukseskan Vaksinasi

Ia juga sangat menyesalkan setiap mahasiswa berunjuk rasa mereka selalu dihadapkan dengan aparat penegak hukum. Namun disetiap pemilu para wakil rakyat dengan wajah malaikat mengetok pintu-pintu rumah warga.

"Ketika kami berunjuk rasa, kami selalu dihadapkan dengan aparat penegak hukum. Namun ketika hendak pemilu para wakil rakyat kami ini dengan wajah manis mengetok rumah kami," sesalnya.

baca juga: Ada Dua Pasar Takjil di Pariaman, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

"Kami hadir disini sebagai pembela masyarakat dan kami disini karena melihat negara ini sedang tidak baik. Kalian itu harus pro rakyat pak dewan terhormat, kalian itu dipilih oleh rakyat bukan dilotre, jangan buat susah rakyat," sambungnya.

Ia juga menilai dalam Omnibus Law atau UU Cipta Kerja (Ciptaker) yang baru disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia ada perampasan hak buruh .

baca juga: Nilai Pesantren Ramadan Masuk dalam Nilai Agama

"Kalian telah memperkosa hak rakyat, untuk itu kami ada disini untuk membela kaum buruh dan rakyat. Namun juga kami sangat menyesalkan anggota DPRD Pasaman Barat yang jumlahnya 40 orang hanya dihadiri 1 orang," jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan ratusan mahasiswa tersebut masih menggelar aksi unjuk rasa dalam keadaan diguyur hujan deras ditemani Ketua DPRD Pasaman Barat dan aparat penegak hukum lainnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Eko Fajri