Cerita Warga Lima Puluh Kota yang Tetap Rutin Bayar Iuran BPJS Meski Jarang Berobat

Fitri Febriani.
Fitri Febriani. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

LIMA PULUH KOTA , KLIKPOSITIF - Jadi peserta peserta Jaminan Kesehatan Nasional -- Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) semenjak akhir 2017 lalu, warga Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota , Fitri Febriani (27) dan keluarga cukup jarang menikmati layanan kesehatan di fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas ataupun rumah sakit.

"Alhamdulillah kami sekeluarga jarang sakit, sehingga kartu JKN-KIS juga jarang kami gunakan," kata Fitri saat ditemui, Rabu (14/10).

baca juga: Implementasi JKK-RTW, BPJAMSOSTEK Kembali Diganjar Penghargaan dari Kemenpan RB

Meski cukup jarang memanfaatkan kartu JKN-KIS untuk berobat, Fitri selalu rutin melakukan pembayaran iuaran setiap bulannya.

"Di keluarga itu kami ada tiga orang, kami mengambil kelas tiga, jadi setiap bulannya iuaran yang kami bayar Rp76.500. Biasanya tanggal 4 atau 5 di awal bulan sudah dibayar," lanjutnya.

baca juga: JKK-RTW, Program BPJS Ketenagakerjaan untuk Pekerja yang Alami Kecelakaan Kerja

Dikatakan Fitri, dengan rutin membayar iuran JKN-KIS, ia dan keluarga merasa aman karena tidak perlu lagi memikirkan biaya berobat apabila sewaktu-waktu ada anggota keluarga yang sakit dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.

"Biaya berobat sekarang mahal. Kalau ada anggota keluarga yang sakit dan butuh biaya berobat sampai puluhan juta tentu akan menyulitkan. Karena itu, kami tetap rutin membayar iuran BPJS agar bisa tenang dan bila sewaktu-waktu ada yang sakit, kami tidak lagi memikirkan biaya berobat," katanya.

baca juga: Tangannya Tergiling Mesin Saat Bekerja, BPJamsostek Cabang Padang Beri Bantuan Tangan Palsu untuk Mualim

Kekhawatiran Fitri tersebut bukan tanpa alasan, hal sama pernah terjadi terhadap salah seorang kenalanannya yang memutuskan untuk tidak lagi membayar iuran JKN-KIS karena jarang berobat.

"Beberapa bulan setelah tidak membayar iuran JKN-KIS, ada keluarganya yang sakit. Akibatnya, dia cukup kesulitan mencari dana untuk membayar rumah sakit dan terpaksa meminjam uang ke keluarga," pungkasnya. (*)

baca juga: Satu-Satunya Kepala Daerah, Irfendi Arbi Jadi Tokoh Inspiratif Keterbukaan Informasi Publik

Editor: Taufik Hidayat