Singapura Dibuka, Batam Menuju Kehidupan Normal

Batam
Batam (ist)

KLIKPOSITIF - Petugas kebersihan tengah menyapu lantai Pelabuhan Internasional Batam Centre. Lantai itu tidak kotor pada pertengahan Oktober 2020. Tidak satu pun nampak calon penumpang tujuan Singapura atau Malaysia. Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Berjalan melalui jembatan penyeberangan ke pusat perbelanjaan di seberang pelabuhan, pelayan toko dan restoran duduk lunglai.

baca juga: FDA Setujui Obat yang Digunakan Trump Menjadi Obat Covid-19

Menanti pembeli yang tak kunjung datang.

Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

baca juga: Vaksinasi Covid-19 Dimulai November, Ini Kata DPR

Dari jendela-jendela mal, nampak beberapa hotel. Namun sepi. Tidak tampak pelancong yang biasanya lalu lalang membawa koper dan ransel. Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Begitu pula jalanan di sekitar pelabuhan yang biasanya ramai dengan lalu lalang wisatawan dalam dan luar negeri, serta supir taksi yang sibuk menawarkan perjalanan, namun hari itu lengang. Dan, tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

baca juga: Di Rumah Aja Bikin Anak Rawan Obesitas, Ini Cara Mencegahnya

Pandemi COVID-19 adalah mimpi buruk bagi kehidupan di Batam. Gairah kehidupan seperti mati seketika. Tentu saja ini tidak hanya terjadi di Batam. Hampir seluruh dunia pun begitu.

Tapi menjadi semakin buruk di Batam, karena disadari atau tidak, denyut nadi ekonomi Batam berlabuh di Singapura . Negara yang menutup pintu, demi menyelamatkan warganya dari paparan Virus Corona .

baca juga: JK: Penemu Obat Corona Berjasa dalam Kemanusiaan

Petugas kebersihan tengah menyapu lantai Pelabuhan Internasional Batam Centre. Lantai itu tidak kotor pada pertengahan Oktober 2020. Tidak satu pun nampak calon penumpang tujuan Singapura atau Malaysia. Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Berjalan melalui jembatan penyeberangan ke pusat perbelanjaan di seberang pelabuhan, pelayan toko dan restoran duduk lunglai.

Menanti pembeli yang tak kunjung datang. Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Dari jendela-jendela mal, nampak beberapa hotel. Namun sepi. Tidak tampak pelancong yang biasanya lalu lalang membawa koper dan ransel. Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Begitu pula jalanan di sekitar pelabuhan yang biasanya ramai dengan lalu lalang wisatawan dalam dan luar negeri, serta supir taksi yang sibuk menawarkan perjalanan, namun hari itu lengang. Dan, tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 adalah mimpi buruk bagi kehidupan di Batam. Gairah kehidupan seperti mati seketika. Tentu saja ini tidak hanya terjadi di Batam. Hampir seluruh dunia pun begitu.

Tapi menjadi semakin buruk di Batam, karena disadari atau tidak, denyut nadi ekonomi Batam berlabuh di Singapura . Negara yang menutup pintu, demi menyelamatkan warganya dari paparan Virus Corona . Tentu saja ini akibat pandemi COVID-19.

Ketika Singapura membatasi arus lalu lintas antarnegara dengan ketat, Batam bagai perawan yang patah hati ditinggal kekasih. Merana. Tidak heran sebenarnya, Batam sangat identik dengan Singapura . Identik, bukan serupa. Namun, ketika menyebut Batam di dalam negeri, maka akan terlintas Singapura .

Kalau Anda berkesempatan datang ke Batam - saat kehidupan normal, sebelum dijajah pandemi- maka yakinlah Anda akan tergoda untuk melanjutkan perjalanan ke Singapura .

Ketika pelancong Nusantara ke Batam, oleh-oleh apa yang akan dibawanya untuk kerabat? Cokelat Singapura ? Kaos bergambar Merlion? gantungan kunci Merlion? dan semua yang berbau Singapura .

Sebelum dijajah pandemi, hubungan Batam dan Singapura tidak bertepuk sebelah tangan. Karena warga Negara Singa juga suka menghabiskan waktu di Batam.

Setiap hari ada saja wisatawan mancanegara (wisman) yang datang. Entah itu warga negara Singa, atau pun dari negara lain yang masuk ke Indonesia dari sana. Apalagi saat akhir pekan. Pusat perbelanjaan, hotel, dan jalan-jalan penuh dengan turis.

Bahkan Manager Operasional PT Sinergy Tharada, pengelola Pelabuhan Internasional Batam Centre, Nika Astaga, pernah mencatat dalam satu hari masuk sekitar 18.000 orang dari Singapura . "Kalau sekarang, jangan sebut. Kemarin saja hanya 64 orang," kata Nika.

Pelabuhan Internasional Batam Centre hanya satu dari sejumlah pelabuhan yang melayani pelayaran antarnegara, di antaranya Pelabuhan Internasional Sekupang yang juga tidak kalah ramai, Pelabuhan Harbour Bay, dan Pelabuhan Nongsa Pura. Sebatas itu? Tidak. Karena sebagian nadi dari industri di Batam, berada di Singapura .

Ketika Singapura membatasi arus lalu lintas antarnegara dengan ketat, Batam bagai perawan yang patah hati ditinggal kekasih. Merana. Tidak heran sebenarnya, Batam sangat identik dengan Singapura . Identik, bukan serupa. Namun, ketika menyebut Batam di dalam negeri, maka akan terlintas Singapura .

Kalau Anda berkesempatan datang ke Batam - saat kehidupan normal, sebelum dijajah pandemi- maka yakinlah Anda akan tergoda untuk melanjutkan perjalanan ke Singapura .

Tidak heran sebenarnya, Batam sangat identik dengan Singapura . Identik, bukan serupa. Namun, ketika menyebut Batam di dalam negeri, maka akan terlintas Singapura .

Editor: Fitria Marlina