Pacu Itiak Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya tak Benda, Pemko Payakumbuh Akan Lakukan Hal Ini

Kegiatan Pacu Itiak.
Kegiatan Pacu Itiak. (Ist)

PAYAKUMBUH , KLIKPOSITIF - Dengan ditetapkannya Pacu Itiak sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh akan lebih menggiatkan kegiatan untuk melestarikan budaya tersebut di tengah-tengah masyarakat.

"Tugas kita adalah lebih menggiatkan kegiatan pelestarian untuk Pacu Itiak ini. KIta juga harus lebih bisa mengembangkannya, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat, baik itu pelaku dan peternak itiak (bebek) khususnya," kata Wakil Wali Kota Payakumbuh Erwin Yunaz, Senin (19/10).

baca juga: Pilkada Damai, Aman, dan Sehat Dideklarasikan di Kota Payakumbuh

Menurutnya Erwin Yunaz, Pacu Itiak yang selama ini jadi permainan anak nagari di Payakumbuh memiliki arti cukup penting dalam kehidupan sehari-hari.

"Pacu itiak bisa menjadi simbol keberhasilan panen dan peternakan sehingga kegiatan ini bisa menjadi pencerminan budaya dan ekonomi masyarakat Kota Payakumbuh ," ujarnya.

baca juga: KPU Payakumbuh Temukan Puluhan Surat Suara untuk Pilgub Sumbar Rusak

Bicara sejarah, Pacu itiak bermula pada 1926, dimana seorang petani bernama Burahan yang memiliki bebek atau itiak, tepatnya di Nagari Air Tabik Kelurahan Sicincin Mudik, Kecamatan Payakumbuh Timur.

Merasa heran dengan itiaknya yang bisa terbang, padahal hewan peliharaannya itu adalah itiak petelur. Burahan kemudian menceritakan terkait hal itu kepada teman-temannya yang lain. Namun tak ada satupun yang percaya. Keesokan harinya Burahan mengajak temannya itu ke sawah untuk melihat itiaknya, maka terlihatlah kawanan itiak yang terbang dari sawah ke sawah. Setelah itu, mereka mencoba mengambil itiak dan menerbangkannya dari atas bukit.

baca juga: Pemko Payakumbuh dan BNN Deklarasikan Kelurahan Bersinar

Dari situ yimbullah ide dari Burahan untuk menerbangkan itiak tidak lagi di sawah, melainkan di jalan perkampungan masyarakat, ternyata itiak tetap bisa terbang dengan baik. Burahan dan temannya mencoba mengadakan Pacu Itiak seadanya lalu mengenalkan kemasyarakat tentang kegiatan ini, tepat pada tahun 1928 dari hasil uji coba Pacu Itiak dari atas bukit dan dari sawah ke sawah lalu dibawa ke jalan besar, maka diadakanlah lomba Pacu Itiak pada acara-acara besar yang ada di nagari, seperti Alek Nagari, Pernikahan, Batagak Rumah Gadang, dan alek nagari lainnya yang diiringi dengan pantun-pantun adat dan gurindam.

Adanya proses yang dilalui untuk menjadikan itiak sebagai salah satu ikon Kota Payakumbuh juga memiliki makna penting dan sejarah yang harus dijaga dan dikembangkan.

baca juga: Terpilih di TC GSI Nasional, Sebanyak 3 Pelajar SMP Payakumbuh Berpeluang Tembus Timnas U-16

Karena itu, ke depannya Pacu Itiak tak hanya sebagai hiburan semata, juga akan dikembangkan untuk jangka yang lebih panjang dengan terorganisasi dengan baik, menciptakan lapangan kerja baru yaitu terbentuknya UMKM yang ada dimasyarakat terhadap penghasilan yang ekonomis

"Seperti penjualan baju dengan beground Kota Payakumbuh dan itiak, rendang itiak dan olahan usaha lainnya, serta adanya regenerasi yang akan melanjutkan tongkat estafet Pacu Itiak ini," pungkas Erwin. (*)

Editor: Taufik Hidayat