Dua Sekuriti Terdakwa Perkara Pembunuhan Teluk Bayur Divonis Berbeda, PH: Kami Tidak Puas dan Ajukan Banding

Sidang Perkara Pembunuhan di Teluk Bayur yang Digelar Pengadilan Negeri Kelas I A
Sidang Perkara Pembunuhan di Teluk Bayur yang Digelar Pengadilan Negeri Kelas I A (Klikpositif/Haikal)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Pengadilan Negeri Kelas I A Padang menggelar sidang vonis perkara pembunuhan di Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur , Selasa (20/10/2020). Terdakwa Eko Sulistiyono dan Effendi Putra divonis berbeda oleh Majelis Hakim yang dipimpin oleh Leba Max Nandoko, Agnes Monica dan Yose Ana Roslinda.

"Memutuskan terdakwa Eko Sulistiyono divonis 1 tahun 6 bulan pidana penjara dan Effendi Putra divonis 4 tahun 6 bulan pidana penjara," kata Majelis Hakim saat membacakan amar putusan.

baca juga: Teroris Bunuh Satu Keluarga di Sigi, Kapolri : Jika Ketemu Lalu Mereka Melawan, Tembak Mati Saja

Majelis Hakim Leba Max Nandoko menambahkan, terdakwa Effendi bersalah yang menyebabkan hilangnya nyawa orang. "Hal yang meringankan terdakwa saat kejadian sedang bertugas dan memiliki anak dan istri serta korban masuk ke wilayah terlarang," ujarnya.

Sementara itu, Penasehat Hukum kedua terdakwa Julaiddin Cs memutuskan akan mengambil langkah mengajukan banding sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) pikir-pikir.

baca juga: Kasus Mayat Dikubur dalam Rumah Kos Terungkap, Ini Tersangkannya

"Kami tidak puas dengan putusan ini. Dalam hukum pidana juga kita tidak hanya melihat bagaimana matinya orang, tapi bagaimana kronologis seseorang itu bisa mati, apa yang menyebabkan dia mati dan siapa yang membawa senjata," katanya Julaiddin usai persidangan.

Julaiddin menambahkan, yang membunuh korban merupakan dirinya sendiri, siapa yang melihat dan siapa yang menyuruh membawa senjata tajam ke area yang sudah terlarang dimana pelabuhan tersebut merupakan objek vital negara.

baca juga: Rekonstruksi Pembunuhan di Pessel, Tersangka Sembunyikan Jasad Korban Dalam Semak

"Sekuriti tersebut tidak akan melakukan tindakan pidana yang disangkakan, dituduhkan dan diputuskan hari ini apabila korban Adek Firdaus menjalankan perintah saat disuruh keluar dari area Pelabuhan Teluk Bayur ," ujarnya.

Putusan Majelis Hakim sontak mengundang reaksi dari keluarga dan rekan terdakwa sesama sekuriti. Dari pantauan KLIKPOSITIF , salah seorang istri terdakwa langsung pingsan di ruang sidang tersebut. Para istri terdakwa mengungkapkan vonis hakim bagi suaminya tidak adil. "Suami saya saat bertugas itu menjaga aset negara," kata istri Effendi.

baca juga: Ruben Onsu Ngotot Tempuh Jalur Hukum Terkait Kasus Pengancaman Pembunuhan Anaknya

Selain itu, puluhan rekan terdakwa sesama sekuriti, juga memprotes keras putusan majelis hakim, bahkan dua orang diantaranya membuka seragamnya kepada majelis hakim namun segera dicegah oleh petugas.

"Kami merupakan perpanjangan tangan kepolisian untuk menjaga keamanan, kami menjaga aset negara, rekan kami dikorbankan," katanya.

Perkara ini adalah perkara pembunuhan di Pelabuhan Teluk Bayur sekitar Januari 2020 lalu. JPU Kejari Padang menjerat terdakwa Eko dengan pasal 338 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, pasal 170 ayat (2) ke 3 KUHP, Pasal 351 ayat (1) KUHP. Sedangkan terdakwa Efendi dijerat pasal 338 jo 55 ayat 1 ke (1), pasal 170 ayat (2) ke 3 KUHP dan pasal 351 ayat (3) KUHP.

Editor: Muhammad Haikal