Dirjen Diksi: Mahasiswa Bukan Pekerja tapi Motor Penggerak Industri Pariwisata

Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto saat pembukaan FGD tentang Pengembangan Akademis Prodi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Padang (PNP)
Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto saat pembukaan FGD tentang Pengembangan Akademis Prodi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Padang (PNP) (Ist)
PADANG, KLIKPOSITIF

- Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Wikan Sakarinto, meminta mahasiswa untuk tidak hanya merasa diri mereka sebagai pekerja, tapi menjadi motor penggerak kebangkitan dunia pariwisata , karena pariwisata mengalami dentuman yang signifikan sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

"Mari kita ubah bencana pandemi tersebut menjadi kekuatan. Yakinlah, pariwisata tidak tidur tapi bangun dengan kondisi yang tak sama dengan kondisi sebelum Covid-19. Mari bersatu untuk bangkit dengan kekuatan 10 kali lipat," katanya dalam pembukaan FGD, Senin (19/10/2020).

baca juga: Surfa Yondri Dinobatkan Jadi Tokoh Keterbukaan Informasi Publik, PNP Jawaranya untuk Kategori PTN dan PTS

FGD tentang Pengembangan Akademis Prodi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Padang ( PNP ) itu digelar secara online dan ofline di Grand Zuri Hotel. Kegiatan yang digelar PNP itu bekerjasama dengan DUDI dan diikuti oleh mahasiswa Prodi Usaha Perjalanan Wisata PNP .

Lebih kanjut Wikan menyampaikan, andaipun pandemi berlangsung setahun, tetaplah memperkuat softskill dan praktik. Jangan puas dengan simulasi dan teori. "Alumni, di pasar kerja nanti Anda tak ada jaminan ketemu bos yang baik hati, adanya bos yang galak dan banyak tuntutan ini dan itu," ujarnya berseloroh.

baca juga: Disparpora Agam Dorong Terbentuknya Pokdarwis

Wikan juga mengimbau agar para dosen vokasi benar-benar menghasilkan penelitian yang tak sekedar menghasilkan paper terindeks scopus dan memenuhi persyaratan naik pangkat, tapi hasilnya harus benar-benar terpakai dan dibutuhkan masyarakat.

Untuk tahu kebutuhan pasar dan masyarakat, sebutnya, mereka harus datang dan magang di industri. Perguruan tinggi vokasi masa kini tidak cukup mengandalkan 50 jam per prodi setiap semester, namun menuntut sertifikat kompetensi.

baca juga: Buka Wisata Awards, Irwan Prayitno Katakan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Tumbuh Positif

"Pengalaman magang guru dan dosen minimal empat tahun sekali, dan menjalani training teaching factori 'konsep pembelajaran yang berorientasi pada produksi dan bisnis untuk menjawab tantangan perkembangan industri," harapnya

Wikan juga menyampaikan soal kebutuhan pariwisata di Indonesia. Kata dia, kalau pariwisata mulai bangkit apakah turis tak perlu guide dan apakah turis bisa gali sendiri informasi dari platform digital dan mencari daerah tujuan wisata melalui teknologi dan siap menjadi self touris atau turis mandiri?

baca juga: PNP Teken Kerjasama Program D-II Fast Track dengan SMK dan Industri

Jika itu faktanya dan opportunity untuk guide, tentu dibutuhkan hal yang tak bisa lebih dari friendship dan pendekatan psikologis. Kasus ini mirip dengan mahasiswa sudah belajar dari youtube dan apakah masih membutuhkan kehadiran dosen.

Oleh sebab itu, Ia menekankan softskill dan keterampilan berkomunikasi harus dimiliki oleh mahasiswa Prodi Usaha Perjalanan Wisata.
"Perguruan tinggi vokasi jika hanya mengajari hardskill tanpa menyertakan softskill, tanpa ancaman Covid-19 pun akan runtuh," ungkapnya.

Ia menyebut, perguruan tinggi butuh kecepatan untuk mengubah mindset kurikulumnya, menciptakan branding yang kuat agar diminati masyarakat (input) dan industri (output).

Sehubungan dengan itu, pimpinan, kepsek, dekan, direktur politeknik dan jajarannya juga dituntut memiliki kemampuan leadership, visioner, dan punya kemampuan manajerial yang kuat. "Pengajar tamu ahli (expert) dari industri bahkan minimal dibutuhkan 20 persen," imbuhnya.

Alumnus Teknik Mesin yang mengaku pernah menjadi guide yang laris manis di masa remajanya ini juga menekankan, the best strategy dalam marketing adalah kepuasan pelanggan.

Sekaitan dengan itu, kekuatan promosi dari mulut ke mulut harus powerfull sambil intens menggrap medsos untuk mendapatkan sebanyak mungkin simpati kaum millenial.

Sebagai pelaku industri, pengelola perguruan tinggi harus paham kalau dunia medsos didominasi oleh kaum milenial yang sangat aware dengan digital technology.

"Fenomena ini harus bisa diterjemahkan oleh mahasiswa dan dosen yang terlalu teoritis, dan jadi pertimbangan juga bagi perancang industri berbasis kewirausahaan yang kuat," tegasnya.

Ketua Panitia Penyelenggara, Sarmiadi, S.E., M.M., menyampaikan, selain Dirjen Diksi Wikan Sakarinto, ST, M.Sc. Ph.D., panitia FGD juga menghadirkan Keynote Speaker Dr. Diena M. Leny, A.Par, M.M, Sekjen Hildiktipari, Prof. Azril Azahari, Ph.D.

Kemudian, juga hadir Ketua Umum ICPI, dan Novrial, SE, MA. A.K, Kadis Pariwisata Provinsi Sumbar, dan Dra. Gemala Ranti, M.Si, Kadis Kebudayaan Provinsi Sumbar.

"FGD ini dibuka secara resmi oleh Direktur Politeknik Negeri Padang , Surfa Yondri, S.T., S.S.T., M.Kom. Selain mahasiswa Prodi Usaha Perjalanan Wisata PNP , FGD ini juga diikuti oleh kalangan akademik, praktisi industri pariwisata , dan birokrat terkait," katanya.(*)

Editor: Riki