Pemerintah Optimis Ekonomi Segera Pulih

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus berupaya mengembalikan ekonomi Indonesia ke jalur positif.

Dia mengatakan sejumlah indikator pun menunjukkan tren membaik, mulai dari realisasi penanaman modal, neraca perdagangan, inflasi, kinerja pasal modal, stabilitas sektor jasa keuangan, hingga ketahanan sektor eksternal.

baca juga: DPR Harap KONI Konsisten Bantu Pembinaan Atlet Nasional

Sebelumnya, Lembaga Internasional memproyeksikan Ekonomi Global 2020 terkoreksi cukup tajam, namun pada 2021 akan membaik.

"Indonesia diprediksi oleh berbagai lembaga. Di tahun 2020, IMF memprediksi -0,3 persen; World Bank 0,0 persen; ADB -1,0 persen dan OECD -3,3 persen. Sedangkan proyeksi di tahun 2021 seluruhnya positif. IMF memprediksi 6,1 persen; World Bank 4,8 persen; ADB 5,3 persen; dan OECD 5,3 persen," papar Airlangga saat menjadi narasumber dalam acara Teras Kita-Kompas Talks bertajuk "Strategi Indonesia Keluar dari Pandemi ", Sabtu (24/10/2020), secara daring.

baca juga: Kemenperin: Lebih Rp32,5 Triliun Investasi Baru Akan Masuk pada Sektor Agro

Ia pun menerangkan, realisasi Penanaman Modal hingga September 2020 sebesar Rp611,6 triliun atau tumbuh 1,7 persen (yoy). Capaian tersebut merupakan 74,8 persen dari target Penanaman Modal di tahun 2020 sebesar Rp 817,1 triliun.

"Secara kumulatif, penyerapan tenaga kerja dari penanaman modal tersebut hingga September 2020 mencapai 861.581 tenaga kerja atau naik 22,50 persen (yoy) dibanding tahun lalu," ujar Airlangga.

baca juga: Ratusan warga Mengungsi Saat Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas

Adapun kinerja Perdagangan Luar Negeri hingga September 2020 mencatat surplus. Hal ini terjadi seiring penurunan impor lebih dalam dibanding ekspor sehingga neraca perdagangan Januari hingga September 2020 surplus 13,51 dolar AS milliar.

Angka ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu defisit 2,24 miliar dolar AS dengan total defisit 2019 sebesar 3,59 miliar dolar AS.

baca juga: Pandemi, Saham Zoom Melesat Hingga 591 Persen

Perkembangan inflasi di tengah pandemi dipengaruhi oleh kestabilan harga yang terjaga dan kondisi permintaan yang masih membutuhkan dorongan. Dukungan stimulus perlindungan sosial diberikan, agar dapat mendorong naiknya permintaan melalui peningkatan daya beli masyarakat.

"Di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global, stabilitas sektor eksternal masih terjaga. Cadangan devisa tetap memadai untuk pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi nilai tukar," lanjut Menko Perekonomian.

Kinerja pasar modal juga mulai menunjukkan pemulihan sejak penurunan tajam pada 24 Maret 2020. Dari saham sektoral, sektor industri dasar dan pertanian telah meningkat di atas 40 persen sejak titik terendahnya.

"Kalau kita lihat pasar modal, kita sudah kembali ke jalur 5000, dari titik terendah di bulan Maret 2020 kemarin. Kita tetap punya daya tahan," kata Menko Airlangga.

Ia pun menegaskan, stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga. Ke depan, dengan adanya program seperti Penempatan Dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di perbankan, diharapkan stabilitas dan pertumbuhan sektor jasa keuangan terus menguat.

Pemerintah mengakui, Pandemi Covid-19 menyebabkan bertambahnya jumlah pengangguran. Sebelum pandemi terdapat 6,9 juta pengangguran, belum termasuk 3,5 juta pekerja yang di-PHK atau dirumahkan, dan 3 juta angkatan kerja baru yang setiap tahun membutuhkan pekerjaan. Sehingga total kebutuhan lapangan kerja baru mencapai sekitar 13,4 juta.

Editor: Ramadhani