Perangkat Scanner Panas Buatan PNP Diuji saat Wisuda Virtual ke-58

Dosen Teknik Elektronika Hendrick, ST., MT., Ph.D menjelaskan cara kerja perangkat scanner panas yang dapat mendeteksi panas tubuh manusia yang diduga terpapar Covid-19.
Dosen Teknik Elektronika Hendrick, ST., MT., Ph.D menjelaskan cara kerja perangkat scanner panas yang dapat mendeteksi panas tubuh manusia yang diduga terpapar Covid-19. (Riki S)
PADANG, KLIKPOSITIF

- Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, Politeknik Negeri Padang (PNP) sebagai perguruan tinggi vokasi di Indonesia, membuat terobosan baru dengan menciptakan perangkat scanner panas yang dapat mendeteksi suhu tubuh manusia.

Sabtu (31/10/2020) pagi, perangkat scanner panas yang dibuat oleh dosen Teknik Elektronika
Hendrick, ST., MT., Ph.D dengan dibantu empat orang mahasiswa teknik elektro program studi D4 itu, diuji coba pada acara Wisuda PNP ke-58 yang digelar secara virtual di Ruang Pertemuan Lantai II, Gedung C PNP.

baca juga: Hari Ini, 22 Warga Tanah Datar Terkonfirmasi Positif COVID-19

"Perangkat scanner panas untuk pengecekan suhu tubuh ini baru selesai kami buat, dan diuji cobakan pertama kali pada acara wisud PNP hari ini. Perangkat ini dapat membaca suhu tubuh manusia yang diduga terpapar Covid-19," kata dosen Teknik Elektronika Hendrick, ST., MT., Ph.D, disela-sela wisuda PNP ke 58.

Alumni Politeknik Unand angkatan 1996 itu juga memaparkan cara kerja perangkat scanner panas yang merupakan bagian dari teknologi Internet of Things. Kata dia, perangkat scanner panas ini terdiri dari dua kamera, yaitu kamera pengukur suhu panas dan kamera untuk scanning wajah.

baca juga: Kasus COVID-19 Melonjak, Tempat Tidur di Berbagai Rumah Sakit Mulai Penuh

Kamera pengukur panas ini jenisnya flir lepton 3,5 yang dipesan dari Amerika dan kamera jenis ini biasanya digunakan untuk militer, karena memiliki keakuratan yang tinggi. Sedangkan kamera scannig wajah, sama dengan kamera biasa seperti kamera cctv, namun untuk oengolahan scanning wajah, menggunakan metode deep learning.

"Metode deep learning ini bisa mendeteksi tubuh manusia atau objek lebih dari tiga untuk sekali scanning. Jadi, tidak memakan waktu dan proses scanninya cepat, karena setelah wajah discanning, kamera pengujur suhu langaubg bekerja. Dan hasil scanner panasnya ditampilkan di layar monitor melalaui program python," ujarnya.

baca juga: Pandemi Covid-19, Irwan Prayitno Minta Perkuat Sinergitas Pemulihan Ekonomi

Biaya pembuatan perangkat scanner panas ini, lanjutnya, tidak sampai Rp10 juta dan memakan waktu tidak sampai 1 bulan. Perangkat scanner panas ini cocok digunakan di tempat-tempat dengan mobilisasi yang tinggi seperti bandara, kantor pemerintahan dan lain sebagainya dalam rangka mencegah penularan wabah Covid-19.

"Jadi, scanner panas ini kami buat untuk di pasang di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Namun sebelum kami serahkan ke pihak BIM, tentu kami kembangkan dulu ke people detection. Kalau saat ini perangkat scanner panasnya kan hanya untuk face detection," bebernya.

baca juga: Vaksin Covid-19 Tidak Diprioritaskan Bagi Ibu Hamil dan Anak, Kenapa?

Sementara itu, Ditektur PNP Surfa Yondri menyebut bahwa perangkat scanner panas ini dibuat untuk BIM, karena dalam masa pandemi ini, semua aktivitas bandara harus serba digital. Salah satu yang diusulkan oleh PNP ke BIM adalah perangkat scanner panas yang dapat mendeteksi panas tubuh manusia.

"Salah satu ciri-ciri masyarakat terpapar Covid-19 adalah demam. Orang demam suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celsius dan suhu tubuh itu dapat dipantau melalaui aplikasi scanner panas ini," kata Surfa Yondri

Selain membuat scanner panas untuk BIM, tambah Surfa Yondri, PNP juga membuat alat pengukur ketinggian air di landasan pacu BIM. Saat ini, katanya, pembuatan alatvtersebut masih dalam proses.

"Kemudian, PNP juga memodifikasi roda luncuran garbarata BIM, dan membuat kontrol pengaturan kecepatan di belt conveyor untuk barang yang masuk bagasi," pungkas Surfa Yondri.(*)

Editor: Riki