Nasrul Abit: Masjid Pemerintah Harus Dikelola dengan Keuangan Daerah dan Tidak Membebani Umat

Nasrul Abit saat melakukan safari politik di Kabupaten Agam
Nasrul Abit saat melakukan safari politik di Kabupaten Agam (Istimewa)

AGAM, KLIKPOSITIF -- Calon Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit berencana akan menggratiskan semua kegiatan di Masjid Raya Sumatera Barat.

"Saya akan gratiskan semua kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Raya Sumbar," ujar Nasrul Abit dalam kegiatan safari politik di Jorong Sago, Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Agam, Kamis 5 November 2020.

baca juga: Kembangkan Ekonomi Umat dan Kemanusiaan, MUI Pariaman Jalin Kerjasama dengan ACT

Menurutnya, saat ini pemakaian masjid milik Pemerintah Provinsi Sumbar itu masih dipungut biaya. Tak tanggung-tanggung, bagi kelompok keagamaan yang ingin memakai gedung masjid harus membayar Rp15 juta untuk sekali acara.

"Ada laporan kelompok keagamaan kepada saya, mereka yang akan memakai gedung untuk kegiatan keagamaan harus bayar Rp15 juta. Karena itu, kami bertekad untuk menata ulang manajemen Masjid Raya Sumbar," katanya.

baca juga: Penambang Emas Tradisional di KPGD Berharap Kemali Bisa Menambang, Polisi: Kalau Ilegal Jelas Langgar Hukum

Ia menyampaikan bahwa masjid pemerintah harus dikelola dengan keuangan daerah dan tidak membebani umat. Tidak hanya menggratiskan kegiatan, ia akan menjadikan Masjid Raya Sumbar sebagai pusat kajian Alquran dan menjadikan Masjid Raya Sumbar bercita rasa Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Program lainnya pada bidang keagamaan, kata Nasrul Abit , ialah memperhatikan fasilitas rumah ibadah dan menyeragamkan pesantren Ramadan di Sumbar. Menurutnya, banyak fasilitasi rumah ibadah yang harus dibenahi, misalnya toilet masjid , ruangan garin, termasuk honor garin dan imam.

baca juga: Wamenkeu: Harmonisasi Peraturan Perpajakan Hadir dalam Momentum yang Tepat

Pasangan nomor urut 2 itu juga memperhatikan kegiatan keagamaan. Nasrul Abit mengatakan bahwa pihaknya akan melibatkan pemerintah nagari dan kecamatan agar kegiatan kembali ke surau di setiap daerah terlaksana.

"Selama berkeliling Sumbar, saya menemukan berbagai persoalan keagamaan. Ada di salah satu musala, imamnya sudah tua dan tak ada penggantinya. Ketika salat berjamaah, laki- laki hanya imam, selebihnya perempuan dan itupun usia 60 ke atas. Jika imam tak bisa hadir, maka perempuan yang jadi iman, sungguh miris," lanjutnya.

baca juga: Pembayaran Pajak di Pariaman Meningkat, ini Faktor Utamanya

Ia menilai bahwa kondisi seperti itu sangat memprihatikan di provinsi yang 97,3 persen penduduknya beragama Islam, tetapi masjid sepi. Karena itu, pihaknya akan menciptakan fasilitas keagamaan untuk iman unggul dan sumber daya manusia unggul untuk semua.

"Ini kebutuhan rohani. Kita hadir dengan program, fasilitas sebagai stimulus. Islam mayoritas dan harus unggul," tutupnya.

Penulis: Halbert Caniago | Editor: Eko Fajri