Kritisi Hasil Survei Poltracking, SBLF Riset: Mahyeldi - Audy Lebih Unggul, Ini Penjelasannya

Direktur SBLF Riset & Consultant Edo Andrefson
Direktur SBLF Riset & Consultant Edo Andrefson (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF - Menurut Sumatra Barat Leadership Forum (SBLF) Riset pasangan Mahyeldi Ansharullah- Audy Joinaldy lebih unggul dibandingkan tiga pasangan calon gubernur dan wakil lainnya.

Direktur SBLF Riset & Consultant Edo Andrefson mengatakan, secara komposisi daerah pasangan nomor urut 4 Mahyeldi - Audy Joinaldy tampak mengamankan Kota Padang (dapil dengan pemilih terbesar) dengan minimal raihan 70 persen suara, Kota Padang Panjang, Sawahlunto, Kabupaten Tanah Datar, Dharmasraya dan Sijunjung.

baca juga: Pramuka Diminta Fokus Sukseskan Vaksinasi dan Lawan Hoaks

Selain itu, tiga daerah yang mendukung kuat karena faktor Audy Joinaldy , yaitu Solok Raya (Kota Solok, Kabupaten Solok dan Solok Selatan). Serta Kota Pariaman dan Payakumbuh yang notabene sebelumnya tampak mendukung Paslon Mulyadi - Ali Mukhni .

Sementara Paslon Nomor Urut 1 Mulyadi - Ali Mukhni mampu mengamankan setidaknya 6 daerah di Dapil II Sumbar, di antaranya Kabupaten Lima Puluh Kota, Agam, Kota Bukittinggi, Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat, dan Padang Pariaman (karena faktor Ali Mukhni ).

baca juga: Sumbar Butuh SDI agar Semua Program Tepat Sasaran

Untuk Paslon Nomor Urut 2 Nasrul Abit - Indra Catri tampak unggul di Pesisir Selatan dan sebagian kecil daerah lain.

Dari sisi pemilih milenial, potensi pemilih milenial pada Pilgub Sumbar 9 Desember nanti mencapai 40 persen. Sehingga, mengamankan kantong suara ini menjadi kewajiban bagi paslon yang berlaga.

baca juga: Audy: Pembangunan Sumbar Butuh Dukungan DPD RI

Menurut Edo Andrefson, dari empat pasangan dan delapan kandidat yang berlaga di Pilgub Sumbar , tak terbantahkan bahwa Audy Joinaldy yang paling mewakili kalangan milenial. Sebab, umur Audy masih 37 tahun. Selain itu, di banyak aktivitasnya di lapangan, pemberitaan cetak dan daring, serta puluhan video yang bertebaran di instagram dan youtube, Audy Joinaldy adalah tokoh yang paling "hadir" dan melebur bersama milenial.

Termasuk bersama warga Sumbar dari semua kalangan. Aktivitas itu dapat dilihat di berbagai kanal youtube dan instagram. Menurutnya, Audy tampil sebagai anak muda dengan tutur pembicaraan yang runut dan visioner, memiliki kegemaran layaknya anak muda seperti lari, menggebuk drum, bersepeda, dan lain sebagainya.

baca juga: Wagub Sebut Kunjungan Pariwisata Sumbar Ternyata Perantau Pulang Kampung: Pemasaran Harus Diperluas

Hal lainnya, pemilih dari kalangan milenial memiliki kecenderungan memilih calon yang mewakili kalangan milenial itu sendiri. Milenial cenderung melihat jauh ke depan, melek digital, dan suka kebaharuan. Konsep-konsep itu kerap ditawarkan oleh Audy Joinaldy selaku Cawagub Nomor Urut 4 yang berpasangan dengan Cagub Mahyeldi .

Selain itu, Audy memiliki beberapa nilai plus lain sebagai kandidat milenial. Di antaranya, sebagai anak muda yang ikut mengemban tanggung jawab adat istiadat sebagai orang Minangkabau karena diangkat sebagai Datuk. Pebisnis/perantau sukses dengan pengetahuan yang luas, terlebih di sektor pertanian yang menjadi sektor pekerjaan terbanyak di kalangan pemilih di Pilgub Sumbar .

Kalaupun ada milenial yang mendukung atau bahkan mati-matian menjagokan pasangan yang bukan dari kalangan milenial, sebagian besar tentu diakomodir sebagai tim sukses atau simpatisan dari calon yang sudah berumur tersebut.

Untuk Paslon Nomor Urut Mulyadi - Ali Mukhni sendiri memiliki kans untuk memperoleh dukungan dari milenial. Sebab, memang telah mulai mendekat kepada kalangan tersebut bahkan sebelum pencabutan nomor urut, dengan melakukan berbagai pertemuan dan acara bersama kaum muda.

Sementara perpaduan Paslon Nomor Urut 2 Nasrul Abit - Indra Catri menjadikan keduanya sebagai paslon dengan rata-rata usia tertua. Lalu, sayangnya, keduanya nyaris belum bergerak dalam upaya merangkul milenial untuk memahami ide keduanya.

Secara umur, komunikasi pasangan ini dengan milenial dinilai tidak akan begitu cair. Namun, di rentang waktu tersisa, pasangan ini masih dapat mendekati milenial dengan mengubah pola komunikasi, memanfaatkan media sosial secara maksimal, mengadakan pertemuan sesering mungkin dengan milenial di tempat-tempat yang santai, dan lain sebagainya.

*Menyimak Survei Poltracking*

Edo mengatakan, lembaga survei politik, baik nasional maupun lokal, tentunya bekerja dengan metodologi, memastikan surveyor di lapangan memiliki kualifikasi dan kualitas teruji, serta kerap bergerak membantu klien dalam hal menentukan strategi dan membangun opini dalam upaya pemenangan kontestasi.

Sehingga, sudah rahasia umum jika lembaga survei belum atau tidak akan merilis hasil survei secara gamblang di saat kliennya belum mendapatkan hasil atau angka yang bagus dari survei tersebut. Misal, hasil di mana kliennya hanya berjarak 2 hingga 5 persen dengan pesaing, biasanya belum akan dipublis.

Menarik melihat rilis lembaga kaliber nasional Poltracking Indonesia terkait peta Pilgub Sumbar beberapa hari lalu. Pada poin ketiga dan keempat latar belakang secara gamblang disebutkan bahwa kepentingan survei sangat bermanfaat bagi para calon kepala daerah, untuk memantaskan diri di depan calon pemilih.

Elite partai ikut mempengaruhi sejauh mana kandidat berpotensi meraih kemenangan, serta menyuarakan pada publik terkait siapa yang layak untuk memimpin daerah. Oleh karena itu, memang untuk kepentingan membangun opini seperti di atas dibutuhkan angka survei yang "bombastis" agar framing (pembingkaian) seorang kandidat menjadi semakin kuat.

Survei ini dinilai justru terlihat sebagai strategi besar dalam upaya pemenanganan. Terlebih, media mainstream secawa luwes menampilkan hasil tersebut sebagai berita utama atau headline.

Edo juga mengatakan, Poltracking Indonesia dalam beberapa waktu terakhir memang kerap dikritisi kredibilitasnya. Menurut Dia, hal itu disebabkan karena ketimpangan hasil survei dengan kenyataan raihan suara kandidat tertentu.

Teranyar di Pilkada Jawa Barat, di mana Paslon Sudrajat-Syaikhu dalam survei meraih 10.7 persen pada Juni, sedangkan pada hasil perhitungan KPU Jabar pascapencoblosan, pasangan ini meraih 28.7 persen. Kabar terakhir, rilis survei di Surabaya, Sulteng, dan Sumbar juga memancing perdebatan. Baca : https://alkhairaat.com/angka-berubah-survei-poltracking-pilgub-sulteng-dinilai-tak-kredibel/04/11/2020/ dan http://cnn.id/565356.

Dalam dokumen format pdf hasil survei Pilgub Sumbar dari Poltracking Indonesia yang tersebar di banyak kanal, tampak terjadi kenaikan dan tren kenaikan elektabilitas yang signifikan untuk Paslon Cagub-Cawagub Nomor Urut 1 Mulyadi - Ali Mukhni .

Sementara tiga paslon lain, trennya terus menurun. Selain itu, elektabilitas perorangan untuk Cawagub Ali Mukhni juga ikut meroket meninggalkan Cawagub lainnya. Tentu, ini tidak lumrah jika kita melihat upaya sosialisasi tiga cawagub lain sejauh ini.

Terlebih, slide hasil yang beredar pun tidak menampilkan infografis secara utuh. Terutama sekali terkait sebaran elektabilitas per kabupaten/kota. Padahal, dari data itulah bisa diketahui rasionalitas dari elektabilitas keseluruhan.

Pada poin alasan memilih dalam dokumen survei Poltracking tersebut, juga disebutkan bahwa alasan utama masyarakat menentukan pilihan adalah karena faktor figur atau ketokohan calon gubernur dan calon wakil gubernur. Jika memang ini ukuran utama, tentu saja tingginya elektabilitas Paslon Mulyadi - Ali Mukhni , yaitu sebesar 49,5 persen patut diragukan. Mengingat banyak isu dan kasus yang meliputi kasus ini, yang patut dianggap sebagai intrik politik guna memenangkan kontestasi.

Misalnya, kasus dijeratnya Cawagub Indra Catri sebagai tersangka atas kasus pencemaran nama baik Mulyadi , pemindahtugasan Cagub Fakhrizal sebagai Kapolda Sumbar (saat itu) dari jabatan Kapolda Sumbar ke jabatan baru di Mabes Polri, dan beberapa hal lain.

Dari hasil survei Poltracking Indonesia, tampak kesan meng-underestimate (meremehkan) Paslon lain seperti Mahyeldi -Audy dan Fakhrizal- Genius Umar .

Sarana sosialisasi yang populer dan paling banyak memancing perhatian responden dalam setiap pertanyaan survei adalah kesukaan pemilih terhadap aktivitas blusukan para calon ke berbagai daerah kabupaten dan kota.

Sayangnya, poin pertanyaan ini tidak terlihat dari hasil survei Poltracking Indonesia untuk Peta Pilgub Sumbar . Namun jika ini disertakan, jelas mudah diamati bahwa paslon Mahyeldi -Audy akan sangat jauh unggul, karena dalam sehari bisa menghadiri 14 acara di tengah warga.Agenda sepertinya terjadwal rapi.

Selain itu, terkait konsolidasi partai untuk pemenangan calon, PKS yang mengusung Mahyeldi -Audy juga paling kentara terlihat. Menyusul di belakangnya Gerindra yang mengusung Nasrul Abit - Indra Catri , dan kemudian barulah Demokrat yang mengusung Mulyadi - Ali Mukhni .

SBLF Riset & Consultant dan Blueprint Institute pada Oktober 2020 memperoleh hasil survei yang berbeda dengan hasil yang dirilis Poltracking Indonesia. Hasil survei yang akan dirilis dalam waktu dekat tersebut menempatkan Mahyeldi - Audy Joinaldy dengan elektabilitas tertinggi, disusul Mulyadi - Ali Mukhni , Nasrul Abit - Indra Catri , dan Fakhrizal- Genius Umar .

Berbeda dengan Poltracking Indonesia yang merupakan lembaga nasional dan baru pertama kali melakukan survei Pilkada di Sumbar pada tahun ini, maka SBLF Riset & Consultant serta Blueprint merupakan lembaga survei lokal yang berpengalaman dan mengetahui serta menguasai betul medan wilayah pengambilan sampel. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir