Ramai Penyebaran Video Intim, Apa yang Harus Dilakukan Saat Jadi Korban?

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -Ramai Penyebaran Video Intim, Bagaimana dan Apa yang Harus Dilakukan Saat Jadi Korban ?

KLIKPOSITIF - Dalam beberapa waktu belakangan, ramai diberitakan tentang video intim yang diduga artis ternama tersebar di media sosial. Hanya dalam waktu singkat, video ini kemudian viral dan tersebar luas.

baca juga: Termasuk Hoyak Tabuik, Ditengah Pandemi Pemko Pariaman Agendakan Puluhan Kegiatan Wisata

Dalam Buku Panduan yang dibuat oleh SAFEnet, organisasi masyarakat sipil yang fokus pada hak digital, peristiwa ini dikenal dengan istilah Penyebaran konten intim non-konsensual atau non-consensual dissemination of intimate images (NCII).

"Pelaku memanfaatkan konten intim atau seksual (gambar atau video) milik korban untuk mengancam dan mengintimidasi korban agar menuruti kemauannya," demikian tulis SAFEnet dalam "Panduan Sigap Hadapi Penyebaran Konten Intim Non Konsensual".

baca juga: Ini Kata DLH Padang Tentang Daya Tampung TPU Khusus Covid-19 di Bungus

Kejadian itu bisa masuk ke dalam ranah kekerasan berbasis gender online (KBGO). Selama rentang tahun 2019, menurut catatan SAFENet, kasus NCII merupakan jenis KBGO terbanyak yang dilaporkan.

Lantas, bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika kita menjadi korban KBGO khususnya NCII?

baca juga: Amanda Manopo Ungkap Sudah Pernah Nikah, Begini Reaksi Billy Syahputra

"Penanganan penyebaran konten intim non-konsensual tidak memiliki solusi yang tunggal, dikarenakan konteks dan situasi yang dihadapi korban berbeda-beda," tulis SAFEnet dalam buku panduannya.

Secara umum ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika menjadi korban penyebaran video atau foto intim. Berikut ini langkahnya.

baca juga: Sampah di Padang Berkurang Selama Pandemi, DLH: Lebih 50 Persen

Menyimpan barang bukti

Untuk menghindari trauma, silakan simpan barang bukti di tempat yang tidak terlihat, namun aman. Direkomendasikan untuk menyimpan barang bukti dalam bentuk catatan kejadian kronologis.

Memutuskan komunikasi dengan pelaku

Tutup semua jalur komunikasi dengan pelaku untuk menghindari ancaman pelaku yang biasanya dilakukan secara terus menerus dan mengurangi tingkat kecemasan atau kepanikan. Memutuskan komunikasi dengan pelaku bisa dilakukan dengan memblokir pelaku, melakukan deaktivasi akun digital untuk sementara waktu, atau mengganti/menghapus akun secara permanen.

Melakukan pemetaan risiko

Tujuannya untuk mencari tahu kebutuhan utama dan hal-hal yang bisa diupayakan untuk antisipasi selanjutnya.

Melaporkan ke platform digital

Laporkan akun pelaku atau postingan yang dibuat pelaku di platform digital tempat kekerasannya berlangsung untuk mencegah konten intim tersebar lebih lanjut dan menghindar dari teror pelaku

Editor: Eko Fajri