Hafal 30 Juz, Muhammad Sulthon Rela Tinggalkan Fakultas Kedokteran Demi Menuntut Ilmu Agama ke Madinah

Muhammad Sulthon (23) peserta lomba Tafisr Bahasa Arab Kafilah Sumbar pada Muasabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII.
Muhammad Sulthon (23) peserta lomba Tafisr Bahasa Arab Kafilah Sumbar pada Muasabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII. (Katasumbar)

KLIKPOSITIF - Muhammad Sulthon (23) peserta lomba Tafisr Bahasa Arab Kafilah Sumbar pada Muasabaqah Tilawatil Quran ( MTQ ) Nasional XXVIII.

Tak hanya seorang hafiz dan fasih berbahasa Arab, Sulthon juga menguasai tafsir. Pria kelahiran Padang, 24 Juli 1997 ini sedang menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

baca juga: Jaringan 5G di 4 Wilayah Strategis Ini Bakal Diperluas

Anak tunggal pasangan Bahrun Rusdi dan Rita Yendri Yeni ini sudah hafal 30 Juz sejak duduk dibangku SMA. Motivasi menghafal Alquran sudah didapatnya sejak ia masih TK dan SD di Adzkia Kota Padang.

"Dorongan dan bimbingan dari orang tua hal utama yang harus didapat untuk menjadi seorang hafiz," katanya.

baca juga: Transaksi dengan Uang Kripto Halal Atau Haram? DSN-MUI Jelaskan Kriteria Mata Uang Menurut Islam

Selain hafidz , ia juga pandai berbicara dengan logat Arab. "Saat pertama datang ke Madinah juga belum lancar Bahasa Arabnya tetapi membiasakan diri berinteraksi dengan orang sana," tuturnya.

Ia termotivasi mempelajari Bahasa Arab karena Alquran itu kalamullah dan harus dipahami dengan baik. Diantara wasilah untuk mempelajari Alquran itu salah satunya Bahasa Arab.

baca juga: Soal Kesiapan Padang Menghadapi Gempa, Begini Kata Badrul Mustafa

"Nabi adalah orang Arab dan Alquran diturunkan dalam Bahasa Arab. Jadi barangsiapa yang ingin memahami tafsir dan ilmu-ilmu lain dalam Islam seperti usul dan fiqih maka harus menguasai Bahasa Arab," terangnya.

Sulthon yang sedang kuliah di Universitas Islam Madinah jurusan Syariah ini rela meninggalkan pendidikan kedokteran yang sudah dijalaninya selama 4 semester.

baca juga: Corona Kembali Meningkat, Kemenag Terbitkan Edaran Pembatasan Kegiatan Rumah Ibadah

Waktu tamat SMA, disamping daftar undangan, Ia juga ikut tes Universitas Madinah yang waktu itu diadakan di Medan. Hasilnya keluar setelah tes karena program beasiswa.

"Qodarullah, bukan setahun tapi 2 tahun setelah tes, tepatnya tahun 2017. Sempat ragu juga, kalau 1 tahun sih gapapa-apa karena ga terlalu boros umur," katanya.

Tapi akhirnya ambil cuti dulu, cocok di Madinah atau tidak. "Ternyata cocok, dan alhamdulillah menyenangkan. Akhirnya di Fakultas Kedokteran tidak diperpanjang cutinya dan tetap lanjut di Madinah," terangnya.

"Karena ilmu agama memang bekal dunia akhirat, kita juga bisa salat di Masjid Nabawi dan bisa umrah karena bisa ke Mekkah. Tapi Fakultas Kedokteran juga bagus," katanya lagi

Ia menyampaikan dunia digital dan dunia maya itu seperti pisau bermata dua. "Kalau dimanfaatkan dengan baik dia akan menjadi kebaikan. Kalau dimanfaatkan dengan buruk hasilnya juga akan buruk," tuturnya.

"Mari kita manfaatkan dunia digital itu untuk kebaikan-kebaikan. Mendengarkan ceramah misalnya atau postingan-postingan yang Islami. Kalaupun tidak bisa mengarah ke Bahasa Arab minimal hal-hal yang dapat menambah keimanan kita," jelasnya.

Dibidang prestasi Sulthon juga sudah mengantongi beberapa kejuaraan Nasional dan Internasional. Ia sudah menjadi qori musabaqah Sejak tahun 2012 di Pasaman Barat cabang hifzil quran 20 Juz raih harapan 1.

Harapan 1 hifzhil qur'an 30 Juz tahun 2014, MTQ Provinsi di Sawahlunto. Tahun 2015, harapan 3 hifzhil qur'an 20 Juz STQ Nasional di Jakarta. Tahun 2016 Juara 1 hifzhil qur'an 20 Juz, MHQH Kedubes Arab Saudi tingkat Nasional .

Tahun 2017 juara 2 hifzhil qur'an 30 Juz, STQ Nasional di Kaltara, 2016 Juara 2 hifzhil qur'an 20 Juz, MHQH Kedubes Arab Saudi, tingkat Asia Pasifik. Mewakili Indonesia. Pada tahun 2018 Peserta Dubai International Holy Qur'an Award mewakili Indonesia di Dubai, UAE.

Sumber: Katasumbar

Editor: Eko Fajri