BKSDA Sumbar: Hilangnya Perdagangan Telur Penyu Bukti Kesadaran Masyarakat

penyu yang sedang berenang
penyu yang sedang berenang (ilustrasi/indrawadi mantari)

PADANG , KLIKPOSITIF -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA ) Sumbar, menyambut baik program pemerintah Kota Padang , yang berhasil menertibkan pedagang telur penyu , yang selama ini ramai di kawasan pantai Padang .

Koordinator Keanekaragaman Hayati  BKSDA Sumbar, Rusdian Ritongga, di Padang , Senin, 17 Oktober 2016, mengatakan, dengan tidak ada lagi perdagangan telur penyu sejak awal tahun ini, kami sangat bersukur, dan memberi apresiasi terhadap pemerintah Kota Padang , yang berhasil memberi pengertian terhadap masyarakat.

baca juga: Gowes Siti Nurbaya, Pegiat Sepeda: Panitia Harus Perketat Tiga Titik Ini

"Dari sisi konservasi ini merupakan hal yang sangat baik, sebab selama ini telur penyu atau katung tersebut dijual bebas di pantai Padang . Saat ini kami melihat dengan tidak adanya perdagangan tersebut, dapat diartikan masyarakat sudah mulai sadar untuk menjaga kelestarian satwa itu," kata Rusdian.

Dia menegaskan, penertiban yang telah dilakukan pihak pemko Padang patut dicontoh oleh daerah lain, yang masih marak perdagangan telur penyu tersebut.

baca juga: HUT ke-351 Kota Padang, Ini Pesan Mantan Wali Kota

Berdasarkan informasi dilapangan, keberadaan pedagang telur penyu yang telah bertahan sejak puluhan tahun di Kota Padang , mulai hilang sejak penertiban bangunan dilakukan pihak pemerintah setempat tahun 2015. Memasuki tahun 2016, perdagangan telur tersebut berangsur hilang, dan bahkan tidak terlihat lagi disekitar pantai tersebut.

Perdagangan telur penyu sendiri sebenarnya berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, masuk dalam hal yang dilarang.

baca juga: HUT Kota Padang ke-351, Dokter Andani Dapat Penghargaan

Menurut UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan yakni penjual dan pembeli satwa dilindungi seperti penyu bisa dikenai hukuman penjara lima tahun dan denda Rp 100 juta. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.

"Oleh karena itu, hilangnya perdagangan telur penyu tersebut patut kita syukuri," tegasnya. (*)

baca juga: BKSDA Evakuasi Seekor Trenggiling di Gaduik Agam

Penulis: Eko Fajri