Muncul dan Hilang Misterius, Fakta Monolit Logam di Utah Mulai Terkuak?

Logam misterius yang menghilang.
Logam misterius yang menghilang. (AFP)

KLIKPOSITIF - Sebuah monolit logam di Utah menjadi pembicaraan karena muncul dan menghilang secara misterius . Menyadur Sky News Kamis (03/12), beberapa fakta di balik logam misterius itu mulai terkuak.

Seorang fotografer bernama Ross Bernard mengatakan melihat empat pria memindahkan monolit logam itu pada Jumat malam. Awalnya, ia bersama tiga orang temannya pergi ke lokasi monolit itu untuk mengambil foto.

baca juga: Facebook Larang Iklan Aksesori Senjata Jelang Pelantikan Joe Biden

Ketika mereka sedang beristirahat, datang segerombolan pria yang memindahkan logam setinggi dua orang dewasa itu dari gurun menggunakan gerobak.

"4 orang berbelok di tikungan dan 2 dari mereka berjalan ke depan. Mereka mendorong monolit dan salah satu dari mereka berkata 'Lebih baik kamu mengambil gambarmu'.

baca juga: Ilmuwan Temukan Spesies Baru Kelelawar

"Dia kemudian mendorong dengan sangat keras, dan pergi. Logamnya miring ke satu sisi. Dia berteriak lagi pada temannya yang lain bahwa mereka tidak membutuhkan alat itu."

Ross juga mengatakan bahwa salah satu dari mereka berseru 'inilah alasannya, mengapa kamu tidak boleh meninggalkan sampah di gurun'.

baca juga: Niat Uji Nyali di Rumah Kosong, 8 Remaja Ini Malah Ketakutan Saat Buka Kulkas

"Mereka dengan cepat menyelesaikannya dan saat membawa ke gerobak dorong, salah satu dari mereka melihat kembali pada kami dan berkata 'jangan tinggalkan jejak'," katanya.

Ross juga menjelaskan, ia dan temannya sengaja tak mencegah aksi tersebut. Menurutnya monolit logam misterius di gurun itu sudah mulai merusak lingkungan sekitar.

baca juga: Ingkar Janji Saat Kampanye, Wali Kota Ini Diikat ke Pohon Oleh Warga

"Kami benar-benar dapat melihat orang-orang mencoba mendekatinya dari segala arah untuk mencoba dan mencapainya, secara permanen mengubah lanskap yang belum tersentuh," katanya.

"Ibu Pertiwi adalah seorang seniman, yang terbaik adalah menyerahkan seni di alam liar kepadanya."

Editor: Eko Fajri