Kisah Wifatul Hasanah, Berjuang Melawan Cerebral Palsy Ditengah Himpitan Ekonomi Keluarga

Teduh, Wifatul Hasanah saat dipeluk ibunya di rumah petak tempat mereka tinggak
Teduh, Wifatul Hasanah saat dipeluk ibunya di rumah petak tempat mereka tinggak (Klikpositif)

SOLOK , KLIKPOSITIF - Wifatul Hasanah, begitu namanya. Di usianya yang sudah menginjak 9 tahun, gadis cantik ini hanya bisa terbaring lemah di atas kasur. Dia tak mampu menggerakkan tubuhnya seperti anak normal seusianya lantaran Cerebral Palsy dan Epilepsy yang dideritanya sejak bayi.

Sesekali, dia merengek, ibunya Lily Fajrina (35) langsung menggendong tubuh mungilnya. Tubuhnya lemah, tidak seperti anak lainnya. Bahkan, tidak mampu berjalan seperti adiknya yang masih berusia lima tahun.

baca juga: Seekor Buaya Muncul di Pantai Batang Gasan Padang Pariaman, Polisi Amankan TKP

"Memang akhir-akhir ini agak sedikit rewel," kata Lily Fajrina saat KLIKPOSITIF .com mengunjungi kediamannya di sebuah rumah petak di kawasan RT 03 RW 02 Kelurahan Laiang, Kota Solok , Jum'at 11 Desember 2020.

Memang, sejak sebulan terakhir, Lily dan suaminya Ferizal serta ketiga buah hatinya tinggal. Rumah disewa milik pak Tam. Sebelumnya, dia juga mengontrak di kawasan Laiang Pasia. Keluarganya tak punya rumah sendiri.

baca juga: Dukung Upaya Pemberantasan Korupsi, PLN Gandeng KPK Integrasikan Penanganan Pengaduan

Disiang yang cukup sejuk itu, Lily mengisahkan, awalnya Wifa memang sempat panas tinggi dan kejang-kejang saat usianya baru sekitar 4 hari dilahirkan. Bahkan, Wifa kemudian dilarikan ke RSUD Mohammad Natsir dan sempat koma beberap hari.

"Sempat koma, dan akhirnya setelah dirawat kembali normal seperti biasa," sebut Lily yang hanya sebagai ibu rumah tangga biasa sembari memeluk anak keduanya itu.

baca juga: Dua Anggota Teroris MIT Tewas Baku Tembak di Poso

Kala itu, Lily senang, anaknya kembali normal seperti biasa. Tidak ada kelainan, normal seperti bayi pada umumnya. Sampai suatu saat pada usia 4 bulan, Wifa kembali sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit.

"Sejak saat itu, dia tidak bisa bergerak seperti anak normal lainnya, sehari-hari menghabiskan waktu di tempat tidur, kalau makan makanannya harus di blender dulu," kenangnya sembari menyembunyikan mimik kesedihan dari balik wajahnya.

baca juga: Diseruduk Truk, Satu Penumpang Gran Max Meninggal Dunia di Pessel

Lily dan suaminya tidak putus asa. Beragam upaya agar anaknya kembali sembuh seperti semula dilakukan. Ditengah kehidupan keluarganya yang pas-pasan, keduanya berjuang demi kesembuhan Wifa.

Pengobatan secara medis dilakukan, begitu juga dengan pengobatan secara tradisional. Umur 1 tahun, Lily membawa anaknya berobat di rumah sakit, terapi dan kontrol. Harapannya, anaknya bisa kembali normal.

-Tidur di Emperan Rumah Sakit-

Dari rumah di Solok , Wifa sempat dirujuk ke Rumah Sakit Bunda BMC Padang untuk melanjutkan pengobatan. Kenangan berobat di BMC tidak akan terlupakan oleh Lily dan suaminya seumur hidup.

Kala itu, sekitar tahun 2012, Dirinya saat itu harus sampai tidur di emperan rumah sakit sembari menggendong anaknya yang dalam kondisi sakit. Uang senilai 150 ribu yang ada di kantongnya hanya cukup untuk ongkos dan biaya makan.

"Waktu itu, kami coba untuk cari penginapan, paling murah harganya waktu itu 150 ribu rupiah, sementara uang kami hanya segitu, terpaksa kami tidur di emperan rumah sakit," kenangnya menceritakan kisah pilu.

Begitu besar kasih sayang orang tua pada anaknya. Harapan Lily waktu itu cukup sederhana, bukan harta berlimpah atau rumah mewah, tapi kesembuhan buah hatinya.

Sejak saat itu, Wifa rutin berobat ke sejumlah rumah sakit. Lebih banyak di M. Djamil. Memang biayanya pengobatannya ditanggung BPJS, tapi untuk sekali berobat dan terapi, dirinya butuh uang sekitar 500 ribu untuk biaya sekali ke Padang.

"Terkadang alat yang di rumah sakit tanggungan BPJS rusak, dan harus dirujuk ke rumah sakit lain, ya harus membayar," katanya.

Sementara itu, kebutuhan keluarga hanya mengandalkan penghasilan suaminya yang terkadang bekerja serabutan. Kalau ada orang minta bantuan tukang, Ferizal bisa bekerja, tetapi kalau sepi terpaksa menganggur.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan pengobatan anaknya, terkadang ada dermawan yang memberikan bantuan . Termasuk pemilik tanah tempat keluarganya sempat tinggal 7 tahun lamanya di Gurun Bagan.

"Sebelum pindah ke Laiang Taluak, kami tinggal di pondok yang punya kebun, baiklah orangnya, kami pindah karena hanya ingin merubah suasana, sampai kini masih berhubungan baik," ceritanya didampingi dua anaknya, Bayu dan Zakia.

Anak sulung Lily saat ini sudah kelas 3 di MTsN kota Solok . Sementara yang bungsu masih belum sekolah.

-Butuh Kursi Roda dan Bantuan Berobat-

Tidak banyak betul harapan yang diuntaikan dalam setiap do'anya, kesembuhan anaknya yang sakit dan kondisi keluarganya agar lebih baik. Kondisi sulit dan himpitan ekonomi memang sudah biasa bagi Lily, apalagi saat ini pandemi Covid-19, lapangan pekerjaan sangat sulit.

"Saat ini, ya kami sangat ingin Wifa sembuh, makanya terus berobat sebagai bagian dari usaha, terkadang, pengobatan Wifa harus terhenti karena kami tak punya biaya," sebutnya sembari memperlihatkan hasil EEG yang dilakukan di rumah sakit.

Salah satu yang sangat diimpikan Lily saat ini yakni sebuah kursi roda modifikasi. Harganyapun cukup mahal, sekitar 4 juta rupiah lebih. Sementara kondisi keluarganya masih sangat sulit.

"Kebutuhan yang mendesak saat ini, Wifa butuh kursi roda modifikasi serta biaya untuk kontrol sekali sebulan," tutur ibu yang berasal dari Sungai Lasi, Kabupaten Solok itu.

Rencananya, tanggal 22 Desember 2020 ini, Wifa akan kembali kontrol EEG di Padang. Sementara biaya untuk kesana masih belum ada dalam gambaran Lily.

"Semoga dapat uanglah untuk berobat tanggal 22 besok, kalau untuk kebutuhan sehari-hari, Alhamdulillah saat ini Bapaknya dapat kerja bangunan didepan rumah," sebutnya sambil menunjukkan suaminya yang sedang bekerja.

Bagi anda para dermawan yang terketuk hatinya untuk membantu perjuangan Wifatul Hasanah dan keluarganya, bisa menyampaikan donasi ke rekening BRI di nomor 5553 01 009623 53 6, atas nama Lily Fajrina. Atau juga bisa menghubungi di nomor
0823 8615 1360.

Penulis: Syafriadi | Editor: Ramadhani