Lokakarya Seni dan Pabrik #2 Menjaga Warisan Budaya Melalui Aktivitas Seni

peserta workshop seni
peserta workshop seni (ist)

PADANG , KLIKPOSITIF - SELAMA tiga hari (11-13 November 2020) Cikini Art Stage (CAS) bekerjasama dengan organisais pemuda Indarung ASETI dan IHS (Indarung Heritage Society) menyelenggarakan lokakarya Seni dan Pabrik di bekas pabrik pertama Semen Padang atau dikenal dengan nama Indarung 1.

Lokakarya ini mengundang seniman lintas disiplin dan lintas generasi, yakni Piter Salayan (Musik), M Aidil Usman (Seni Rupa), Jefriandi Usman (Tari), S Metron M (Teater), Heru Joni Putra (Sastra) dan M Ikhsan (Multimedia) sebagai pengampu materi.

baca juga: Audensi dengan Komisi IV DPRD Sumbar, GMNI Padang Sorot Dugaan Penyalahgunaan Dana Covid-19

Sebanyak 35 anak muda mengikuti lokakarya ini. Sebagian besar dari kota Padang . Ada juga dari Agam dan Payakumbuh.

Selama satu hari, para peserta terbagi menurut peminatan masing-masing. Namun, hari berikutnya mereka bergabung bersama-sama, bejalan mencari titik-temu, untuk menciptakan karya kolaborasi dari berbagai lintas disiplin seni.

baca juga: Selama Januari 2021, UPZ Baznas Semen Padang Salurkan Rp548 Juta Zakat Karyawan

"Meskipun dalam waktu yang pendek, setidaknya kita bisa berbagi pengalaman dalam penciptaan seni kontemporer. Kini, kita tidak sekadar wajib memperdalam cabang seni masing-masing tetapi juga mesti sanggup berkolaborasi dengan cabang seni lainnya," ujar Aidil Usman.

Selain mendapatkan pengetahuan dari para pengampu materi, para peserta juga mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya kesadaran ruang sebagai bekal untuk menjaga warisan budaya.

baca juga: Dinkes Padang Berikan 1000 Dosis Vaksin Kepada TNI dan Polri

Aidil Usman mengatakan bahwa bekas pabrik Indarung 1 sudah layak dijadikan cagar budaya. Secara historis, Indarung 1 resmi berdiri tahun 1910. Ia merupakan saksi bisu dari pembangunan-pembangunan, terutama infrastuktur di Asia Tenggara sejak zaman kolonial.

"Tentu kita semua sudah tahu bahwa pembangunan fondasi Monas (Monumen Nasional) di Jakarta dari semen yang diproduksi di Indarung 1," demikian Aidil Usman. "Belum lagi bila kita menyebut beberapa bagian kota di Belanda yang menggunakan hasil tambang semen di Indarung 1," lanjutnya.

baca juga: Dinkes Padang Telah Vaksin 10 Ribu Nakes, Kini Giliran Pelayan Publik dan Lansia

Indarung 1 sebagai pabrik pertama Semen Padang sudah lama sekali ditinggalkan. Luas bekas pabrik tersebut sekitar 5 hektar sedangkan kawasan di sekitarnya 9 hektar. Tanahnya milik ulayat, kaum adat.

Salah satu sebab mengapa pabrik pertama itu ditinggalkan tentu saja karena teknologi sudah berkembang dan peralatan produksi di pabrik pertama tersebut sudah tidak memadai lagi. Sehingga, Semen Padang pun telah mengembangkan pabrik-pabrik barunya di sekitar itu.

"Hanya melalui kegiatan seni kita bisa membangkitkan kesadaran ruang dan kesadaran pentingnya merawat sejarah, menjaga warisan budaya," ujar Jefriandi Usman. "Kami sebagai warga Indarung ingin menjadikan bekas pabrik ini sebagai pusat kesenian , yang tak hanya dapat menjadi salah satu ruang penciptaan seni budaya di Indonesia, tetapi juga ruang untuk membangkitkan ekonomi penduduk setempat," lanjutnya.

Lokakarya Seni dan Pabrik ini merupakan kegiatan ketiga yang dilakukan Cikini Art Stage. Tahun lalu, lokakarya serupa juga sudah dilakukan dengan mengundang seniman yang berbeda, yaitu Aidil Usman (Seni Rupa), Bambang Prihadi (Teater), Jefriandi Usman (Tari), S Metron M (Teater), Piter Salayan (Musik), Paimo (Fotografer dan Jurnalis), serta bintang tamu Nadir Rosa (penata rambut). Sedangkan acara pertama yang dilakukan di bekas pabrik tersebut adalah pada saat peringatan 100 tahun Semen Padang , yang mengundang beberapa tokoh lainnya seperti Yoserizal Manua, Vicky Burki dan kelompok musik Debu.

Dengan berdirinya pabrik Semen Indarung 1 yg sekarang sudah tidak berfungsi lagi,maka kami dari Ciikini Art Stage mendorong tempat yg bersejarah itu untuk menjadi ruang bertumbuhnya aktivasi kebudayaan secara berskala. Pabrik tidak hanya menjadi aktefak dari perjalanan sejarah yang meninggalan jejak peradaban.Tapi, juga merupakan kebanggaan yang patut dirawat dan dijaga keberadaannya sebagai kawasan yang memunculkan ilmu pengetahuan dan literasi peradaban. Untuk itu kami mendorong kawasan tersebut ditetapkan oleh BPCB atau pemerintah sebagai kawasan CAGAR BUDAYA yg bisa memberikan kontribusi bagi kehidupan seni dan kebudayaan . Berkat dukungan Ninik Mamak dan Forum Pemuda Indarung , semoga rencana ini bisa terwujud.

Editor: Ramadhani