Populasi Murai Batu Perlu Penelitian LIPI

Murai Batu Pasaman/Ilustrasi
Murai Batu Pasaman/Ilustrasi (klikpositif/ Eko Fajri)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, menyatakan untuk menentukan jumlah atau populasi murai batu yang ada di habitat aslinya perlu penelitian oleh pihak terkait.

Koordinator Keanekaragaman Hayati BKSDA Sumbar , Rusdian Ritongga, di Padang, menjelaskan, murai batu atau Kucica hutan (Copsychus malabaricus), tidak termasuk kedalam satwa yang dilindungi, sebab itu kami tidak bisa menjelaskan berapa banyak populasinya di habitat asli burung tersebut.

baca juga: Kunjungan Perdana Wagub ke BLK Padang, Audy: Wah, Ini Menakjubkan Sekali

"Untuk menentukan jumlah populasi satwa tersebut butuh kajian dan juga penelitian dari otoritas keilmuan terkait, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI )," kata Rusdian.

Ia menambahkan, saat ini jika ada masyarakat yang mengatakan murai batu tersebut sulit ditemukan di habitat aslinya, bisa saja hanya asumsi. Sebab itu untuk menetapkan satwa tersebut terancam punah tentu harus berdasarkan penelitian, dan itu yang berhak mengeluarkan pendapat adalah LIPI .

baca juga: Stasiun GAW: Kualitas Udara 16 Kabupaten dan Kota di Sumbar Menurun, Ini Penyebabnya

Untuk menetapkan satwa dilindungi, harus mengacu pada Peraturan Presiden (PP) Nomor 07 Tahun 1999 tentang Satwa dilindungi. Selain itu dalam konvensi Cites satwa tersebut juga tidak termasuk satwa yang dilindungi. Konvensi cites sendiri membahas terkait perdagangan internasional untuk tumbuhan dan satwa liar, yang berlaku sejak tahun 1975.

Hal tersebut dijelaskan BKSDA terkait semakin banyaknya masyarakat yang saat ini memelihara satwa tersebut, baik dari hasil tangkapan hutan maupun hasil penangkaran atau pengembang biakan yang dilakukan pencinta burung itu. Terutama dalam satu tahun terakhir saat perlombaan burung kicau kembali menggeliat, dan hampir selalu ada tiap minggunya. Baik itu dinamakan latihan berhadiah atau lomba dengan skala yang lebih besar.

baca juga: Tujuh Personel Polda Sumbar Dipecat Tidak Hormat , Empat Diantaranya Terkait Narkoba

Untuk daerah Sumatra, murai batu tersebut juga dikenal dengan burung murai batu  aceh, burung murai batu  medan , burung murai nias dan murai batu  lampung.

Dikalangan penghobi burung atau lebih dikenal dengan kicau mania , murai batu merupakan burung favorit, meski harganya terbilang mahal, dimana untuk anakan atau lebih dikenal dengan trotol harganya berkisar Rp2,5 juta untuk tangkaran, dan lebih tinggi untuk hasil tangkapan hutan.

baca juga: Terima Perintah Penyelidikan Dugaan Korupsi Dana Covid-19, Polda Sumbar Bentuk Tim

Meski dengan harga yang dapat menguras isi kantong tersebut, jual beli satwa ini terus marak diberbagai forum jual beli burung, demikian juga di kios burung yang ada. Alasan utama penghobi adalah selain kelasnya yang dianggap khusus dalam perlombaan, juga dikarenakan suaranya yang merdu.

Di habitat aslinya kucica hutan atau murai batu cenderung memilih hutan alam yang rapat atau hutan sekunder untuk tempat tinggalnya. Murai batu merupakan kelompok burung yang dikenal sebagai teritorial dan sangat kuat dalam mempertahankan wilayahnya (Thruses). Burung tersebut juga telah diakui memiliki suara kicau yang bagus dengan memperoleh penghargaan atas nyanyiannya yang sangat indah pada tahun 1947.

Sehubungan dengan itu, Diuih, warga Asli Mapattunggul Selatan, Kabupaten Pasaman, yang mengaku telah sejak SMP mencari berbagai jenis burung di hutan, menjelaskan, saat ini burung tersebut telah sulit ditemukan dialam.

"Sejak beberapa tahun belakangan burung tersebut sulit ditemukan di hutan, sebab itu harganya semakin tinggi. Pada awal tahun 2000an, saat murai batu masih mudah ditemukan harganya tidak setinggi saat ini," tegasnya. (*)

Penulis: Eko Fajri