Cerita Warga Pilubang yang Menggantungkan Hidupnya dari Hasil Menjual Rumput

As dan Elok usai menyabit rumput
As dan Elok usai menyabit rumput (Rehasa)

PADANG PARIAMAN , KLIKPOSITIF - Ada satu simpang di Korong Kampuang Jua, Nagari Pilubang , Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman -Sumbar yang dikenal dengan nama Simpang Rumpuik (Simpang Rumput ). Simpang tersebut menjadi saksi betapa gigihnya warga Pilubang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan hasil menjual rumput .

Konon kabarnya, satu abad sudah lamanya, Simpang Rumpuik menjadi pusat perdagangan rumput satu-satunya di Kecamatan Sungai Limau. Sebelum ada perdagangan rumput , simpang tersebut bernama Simpang Banda Gadang.

baca juga: Seekor Buaya Muncul di Pantai Batang Gasan Padang Pariaman, Polisi Amankan TKP

Salah satu warga yang menggantungkan hidup dengan menjual rumput di Simpang Rumpuik bernama Zulmaida (45) mengatakan, sedari kecil dia telah melihat orangtuanya berjualan rumput di sana. Rumput itu dijual kepada pembeli yang membutuhan makanan untuk ternak sapi dan ternak lainnya.

"Sudah lama kami menjadi tukang rumput , sejak kecil Abak saya sudah bekerja sebagai tukang jual rumput ," ungkap Zulmaida, ibu rumah tangga yang dikaruniai tujuh orang anak, Senin 4 Januari 2021.

baca juga: Ditangkap Polisi, Pengakuan Pelaku Cabul Ini Bikin Geleng-geleng Kepala

Lebih lanjut Zulmaida yang kerap dipanggil Elok itu menuturkan, sudah masuk usia 50 tahun dia masih menekuni pekerjaan tersebut.

"Ya sudah turun temurun, dari orang tua bekerja seperti ini. Kami rata-rata warga di sini bekerja sebagai pedagang rumput di sela pekerjaan tani," sebutnya sembari mendorong gerobak yang dipenuhi rumput untuk makan ternak.

baca juga: Tiga Pria di Sungai Geringging Ditangkap Polisi, Diduga Edarkan Sabu

Dikatakannya, sudah lebih 100 tahun lokasi tersebut dijadikan tempat jual rumput . Saat dia berusia balita, sering menemani orang tuannya menanti pembeli rumput datang.

"Di sini satu ikat rumput (sagarondong) dijual seharga 10 ribu rupiah. Bisa membeli beras, minyak dan sembako untuk kebutuhan dapur," sebut Elok dengan gestur lelah.

baca juga: Diduga Cabuli Gadis 14 Tahun di Padang Pariaman, Seorang Pemuda Diringkus di Kabupaten Kampar

Ternyata, Elok sudah sedari pagi menyabit rumput di area pesawahan. Sore itu tampak empat Garondong rumput milik Elok siap dikepak untuk dijual.

Perihal senada juga diutarakan As (50). As merupakan teman seperjuangan Zulmaida dalam mencari rumput , namun mereka tinggal di Korong yang berbeda.

"Kalau pekerjaan rumah telah selesai, kami berdua pergi mencari rumput setiap hari. Nah pada sore harinya, kami kumpulkan rumput di Simpang Rumpuik ini untuk dijual pada pembeli," ungkap As.

Di sela-sela jari tangan As masih tampak bekas lumpur dan rumput . Sementara bagian jarinya tampak bekas luka. Bekas luka tersebut didapat As dari sabit yang dia gunakan saat menyabit rumput .

"Anak saya ada 5 orang, satu sudah meninggal. Selain saya, anak saya juga ikut mencari rumput , apalagi saat sekolah libur karena corona, dia (anak) tiap hari membantu saya," jelas As.

As mengatakan, sehari dia mampu menyediakan 5 garondong rumput . Satu garondong atau satu ikat rumput berbobot sekitar 20 kilogram.

Sementara itu untuk hasil jual per harinya As mengatakan, tidak menentu. "Kadang laku dua Garondong, kadang bisa 5 atau lebih, tergantung kebutuhan orang yang beli," jelasnya.

"Selain itu, untuk menjual kita harus berpacu cepat dengan yang lain. Contoh kalau orang yang beli 10 Garondong, maka kami di sini berlomba untuk memasukan ke dalam mobil pembeli itu. Saya sering kalah cepat dengan yang muda. Saat itu rumput tak laku-laku," sebut As sembari memasukan rumput pada garondong yang telah disediakannya.

Begitulah cerita warga yang menggantung harapan pada Simpang Rumpuik. Secara umum, setiap warga pada kawasan tersebut bekerja sebagai pedagang rumput . Geografis dan hamparan lahan di sana juga mendukung untuk tumbuh suburnya rumput makanan ternak. Seluas mata memandang, hamparan rumput dan sawah tampak begitu manja dipandang mata.

Penulis: Rehasa | Editor: Haswandi