Produksi Berkurang, Harga TBS Sawit Melejit di Padang Pariaman

Sawit
Sawit (Rehasa)

PADANGPARIAMAN, KLIKPOSITIF - Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Kabupaten Padang Pariaman naik secara signifikan di tengah produksi sawit yang mengalami penurunan atau 'trek'.

Perihal tersebut diungkapkan oleh para pengepul atau pengusaha komoditas non migas (sawit) yang KLIKPOSITIF temui di beberapa kawasan Kabupaten Padang Pariaman seperti Sungai Limau, Sungai Geringgiang dan Aua Malintang.

baca juga: Wamenkeu: Vaksinasi dan Insentif Perpajakan Jumpstart Ekonomi 2021

"Harga sawit saat ini menyentuh harga tertinggi yaitu Rp1.300 per kilogram. Ini berlangsung semenjak bulan November 2020, seiring dengan berkurangnya produksi sawit di kabupaten ini," ungkap Yusrizal Efendi (40), Kamis 21 Januari 2021.

Lebih lanjut pengepul asal Aua Malintang yang kerap dipanggil Rizal itu menuturkan, musim trek kelapa sawit di Kabupaten ini sudah berlangsung selama tiga bulan.

baca juga: Ini 3 Jenis Bansos yang Akan Cair Bulan Ini

"Biasanya musim trek ini berlangsung selama 5 bulan. Diperkirakan dua bulan ke depan produksi buah sawit sudah normal kembali," ungkapnya.

Perihal trek tersebut katanya, membuat harga sawit melonjak naik, jika musim trek berakhir harga kembali stabil. "Sebelum ini harga sawit berkisar dari Rp700 hingga Rp800 per kilogram," ulasnya.

baca juga: Hari Ini Harga Emas Naik Tipis, Rp 928 Ribu Per Gtam

Tidak hanya Rizal yang mengungkapkan perihal tersebut. Momon (38), pengepul asal Sungai Limau juga mengutarakan hal yang sama.

"Benar, trek saat ini membuat produksi sawit dari petani berkurang. Biasanya saya bisa dapat satu ton, sekarang cuma 500 kilogram saja," sebut Momon.

baca juga: Seekor Buaya Muncul di Pantai Batang Gasan Padang Pariaman, Polisi Amankan TKP

Momon juga mengatakan, kendatipun harga sawit naik para petani tampak tidak begitu senang. "Ya sawit yang akan dijual itu tidak banyak. Jadi petani pun tidak begitu bahagia tampaknya. Beda kalau harga tinggi dan produksi melimpah, namun kan tidak begitu juga, jika produksi melimpah tentu harga standar," ulasnya.

Menurut Momon, trek akan berakhir pada Maret 2021. "Trek ini pasti terjadi satu kali dalam setahun. Ini sudah hal yang biasa bagi kami," sebut Momon.

Penulis: Rehasa | Editor: Eko Fajri