Mengenal Eddy Junaedi, Orang Nomor Satu di Lapas Pariaman

Eddy Junaedi.
Eddy Junaedi. (Ist)

PARIAMAN , KLIKPOSITIF - Lapas paling jorok dan lapas dengan angka peredaran narkotika tertinggi menjadi momok bagi Lapas Kelas ll B Pariaman . Namun persoalan tersebut dijawab secara tuntas oleh seseorang pria kelahiran Jember, Jawa Timur dengan kehadirannya sebagai Kepala Lapas yang baru.

Pria itu bernama Eddy Junaedi. Di tangannya, momok menakutkan Lapas Pariaman telah pudar dengan cara menorehkan berbagai penghargaan.

baca juga: Jumlah Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Turun di Pariaman, Ini Penjelasan Polisi

Eddy Junaedi lahir dari pasangan guru yang bernama Hardijanto Karidi dan Juminah pada 1 Juni 1973. 'Eddy kecil', pada awalnya bernama Toto Setianto hingga usia balita. Namun satu minggu ditangan seorang kiai bernama Abdul Rahmat (orang Madura), nama Toto Setianto berganti menjadi Eddy Junaedi. Namanya diganti lantaran sering sakit-sakitan.

Eddy Junaedi sendiri merupakan anak ke 4 dari 5 saudara. Kelima saudara tersebut sedari kecil sudah diajarkan disiplin dan mandiri oleh ke dua orang tua mereka.

baca juga: Seluruh Nagari di Wilayah Hukum Polsek Sungai Limau Telah Resmi Menjadi Kampung Tangguh Nasional

"Bapak orangnya keras dan disiplin. Ibu orangnya sabar dan selalu bersyukur. Kami lahir tidak dari orang kaya. Hal itu membuat saya harus mencari tempat kuliah tanpa biaya alias gratis," ungkap Eddy Junaedi pada KLIKPOSITIF .

Usut punya usut, Eddy mendapatkan kabar bahwa ada Sekolah Ikatan Dinas yaitu Akademi Ilmu Pemasyarakat (AKIP) yang membuka pendaftaran secara gratis.

baca juga: Ratusan Pegawai RSUD Pariaman Tuntut Direktur Mundur dari Jabatan

"Brosur saya bawa ke bapak. Oleh bapak, saya diizinkan untuk kuliah di sana. Beliau berikan uang sebanyak seratus tiga puluh delapan ribu rupiah. Ada 5 lokasi tempat tes, saya ambil lokasinya di Jakarta," sebut Kalapas itu.

Saat itu tahun 1991, sebanyak puluhan ribu calon mahasiswa AKIP mengikuti tes. Dari 63 yang lulus, terdapat nama Eddy Junaedi di antaranya.

baca juga: Kerjasama Pemko Pariaman dan Pemko Pekanbaru Terkait Wisata dan Perdagangan Terjalin

"Saya menjalani kuliah D3 di sana dari tahun 1991 hingga 1994. Penuh perjuangan, pernah juga kelaparan dan masalah lainnya. Hari demi hari saya lalui hingga menyandang gelar D3 pada 1994," sebutnya.

Pada akhir 1995 Eddy mendapat tugas pertama di Kalimantan sebagai staf di Lapas dengan gaji seratus tiga ribu rupiah sebulan.

"Hari demi hari saya lalui sebagai staf di sana dengan gaji awal tak sampai dua ratus ribu rupiah. Sementara itu keinginan untuk melanjutkan pendidikan S1 terus saja terpikirkan," jelas Eddy.

Semangatnya yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan terwujud. Eddy mendaftar kuliah S1 dengan jurusan Administrasi Negara di salah satu kampus swasta.

"Ini termaksud masa masa sulit bagi saya. Gaji hanya seratus tiga ribu rupiah, kita hanya bekerja sebagai staf Lapas. Jarak tempat kuliah dari kantor sekitar 4 kilo. Saya beli sepeda balap bekas dengan harga sembilan puluh ribu rupiah, uang saya masih bersisa untuk makan meskipun harus dihemat," jelas Eddy.

Diceritakannya, saat itu Eddy menjadi salah satu staf dengan jadwal paling padat. Pagi dia harus bekerja dan sore harinya mendayung sepeda balap dengan jarak tempuh 4 kilo untuk kuliah. Sampai di kampus dia tidak langsung masuk kelas, dia harus mengeringkan keringat setelah bersepeda sejauh itu.

"Seharusnya saya bisa lulus kuliah 2 tahun namun karena terkendala biaya maka bisa saya selesaikan lima tahun. Saya masih menjabat sebagai staf saat itu semenjak 1995 hingga 2001. Nah pada tahun 2003 saya baru dapat jabatan di Lapas," ungkap Eddy yang dikaruniai dua putri itu.

Pada 2005 ada program kuliah S2 dari Kemenkumham. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Eddy.

"Saya ambil kesempatan untuk sekolah S2 itu. Dari Kalimantan saya menuju Jakarta untuk ikut seleksi masuk kuliah. Sampai di sana saya terlantar selama 4 jam. Kondisi kesehatan saya memburuk, akhirnya saya dijemput oleh sepupu dengan keadaan demam," sebut Eddy.

Dua hari menderita demam panas, hari tes masuk kuliah tiba. Eddy menjalani tes dengan keadaan demam.

"Tes saya dalam keadaan demam. Saat itu ada sebanyak 80 peserta. 30 orang diterima termaksud saya," ulas Eddy.

Cita-cita Eddy untuk kuliah S2 terwujud. Dia mengambil jurusan Psikologi Kriminal di Jakarta. Sementara itu, pekerjaannya di Kalimantan harus berpindah ke Jakarta.

"Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan pendidikan S2 selama dua tahun. Dalam perjalanan menyelesaikan S2 itu juga saya menikah," ungkap Eddy.

Setelah Eddy menyelesaikan S2 di Jakarta, pihak Lapas di Kalimantan kembali memanggilnya untuk bekerja kembali di sana.

"Kalapas ingin saya kembali bekerja di Kalimantan karena jabatan saya di sana tidak ditemukan pengganti yang cocok. Mau tak mau saya kembali bekerja di Kalimantan," jelas Eddy.

Lebih kurang dua tahun dia bekerja kembali di Kalimantan. Setelah itu, mutasi kerja kembali terjadi seperjalanan karier Eddy. Dia dipindahkan ke Bengkalis-Riau menjabat sebagai Kepala Rubasan.

"Tiga tahun lamanya saya bekerja di Bengkalis sampai datang masa mutasi lagi sehingga saya dipindahkan ke Sulawesi," ungkap Eddy.

Di Sulawesi, Eddy Junaedi menjabat sebagai Kepala Cabang Rutan. Jabatan di sana merupakan jabatan paling lama baginya.

"Menjadi Kepala Cabang Rutan di Sulawesi saya jalani selama empat setengah tahun," sebut Eddy.

Singkat cerita, setelah 4 tahun 5 bulan di Sulawesi, Eddy dipindahkan ke Lapas Wonosari-Yokyakarta, menjabat sebagai Kepala Rutan selama satu tahun tiga bulan. Setelah itu dia dipindahkan lagi ke Lapas Cipinang-Jakarta dengan jabatan setingkat Kabid.

"Dua tahun saya di Cipinang. Setelah itu nasib membawa saya berlabuh di Pariaman -Sumbar menjabat sebagai Kepala Lapas hingga hari ini, (Selasa 26/1/2021)," jelas Eddy.

Untuk diketahui, pada 23 Januari 2021 genap sudah satu tahun Eddy Junaedi menjabat sebagai Kalapas Pariaman . Selama satu tahun itu pihak nya berhasil mendapat pengakuan dari berbagai instansi Pemerintahan atas pembaharuan yang diperbuat di Lapas tersebut.

Adapun penghargaan yang telah didapatkan yaitu : Penghargaan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia (Yasonna H Laoly) sebagai Lapas yang telah melaksanakan pelayanan publik berbasis HAM. Sebagai Lapas terbaik pertama dalam pengimputan SDP. Sebagai Lapas terbaik pertama dalam penyerapan anggaran. Sebagai Lapas pembangunan zona integritas. Sebagai Lapas yang berhasil menggagalkan peredaran narkotika.

"Itu semua diberikan oleh Menteri pada tahun 2020," sebut Eddy Junaedi.

Tidak hanya itu, berdasarkan pengakuan dari jajaran Lapas dan Narapidana yang telah KLIKPOSITIF dapatkan, selama masa kepemimpinan Eddy, kondisi Lapas jauh berbeda dengan sebelumnya.

Eddy mengakui, dia bekerja secara kolektif bersama jajaran. Menerapkan pendekatan humanisme baik terhadap bawahan maupun narapidana sendiri.

"Secara keseluruhan untuk bekerja saya memegang prinsip Ki Hajar Dewantara. Ada 3 prinsip yang saya pakai dalam diri pertama pemimpin yang menjadi contoh, pemimpin yang mau terlibat aktif dan menjadi pemimpin yang menyemangati atau memberi dorongan pada bawahan," ungkap Eddy.

Dia juga mencontohkan layaknya seperti pemimpin yang berjalan di depan dan juga mampu berjalan berpapasan serta mampu berjalan di belakang bawahan untuk memberikan dorongan.

"Saya juga meyakini prinsip ibu saya. Selain mencontoh disiplin dari bapak, saya juga mengilhami prinsip ibu. Ibu saya selalu bersabar dan bersyukur atas apa yang diberikan Allah. Nah hal itu juga saya tanamkan dalam diri. Sabar dan bersyukur," ungkap Eddy Junaedi.

Begitulah perjalanan hidup Eddy Junaedi. Dia menjadi sosok yang disenangi oleh bawahan serta narapidana. Tidak hanya kalangan Lapas saja, pada tingkat instansi vertikal seperti, Walikota, Kapolres, Dandim, Kejaksaan bahkan di kalangan wartawan, nama Eddy Junaedi alias Toto Setianto sangat familiar. Dia sosok yang ramah dan bersahaja.

Penulis: Rehasa | Editor: Haswandi