Pengerjaan Proyek Abrasi Pantai Muaro Lasak Abaikan Keselamatan Warga

Kondisi jalan di kawasan Tugu Merpati Pantai Muaro Lasak, Jumat, 5 Februari 2021
Kondisi jalan di kawasan Tugu Merpati Pantai Muaro Lasak, Jumat, 5 Februari 2021 (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Pengerjaan proyek abrasi Tugu Merpati, Pantai Muaro Lasak, Kota Padang mengabaikan keselamatan masyarakat. Pasalnya tanah bekas angkutan mobil proyek berisi batu menguning di badan jalan objek wisata itu.

Selain licin saat musim hujan, bekas tanah yang tersebut juga memicu debu saat musim panas. Dampaknya tentu saja masyakarat sekitar yang berjualan di pantai dan pengendara jalan yang melewati kawasan tersebut.

baca juga: Peringati Hari Kesiapsiagaan Bencana 2021, BPBD Payakumbuh Gelar Apel dan Latihan Evakuasi Bencana

Ima (32) warga setempat mengeluhkan debu dari bekas tanah yang masih bertaburan di badan jalan. Dia yang berjualan di kawasan itu merasakan sekali dampaknya.

Dia menjelaskan, awal pengerjaan proyek sekitar pertengahan Januari 2021, jalan itu dipenuhi tanah bekas material yang melekat pada batu yang diangkut truk proyek untuk dipasang di pantai.

baca juga: Pemprov Sumbar Antarkan Rendang Pakai Heli BNPB Dari Masyarakat Sumbar Untuk Warga NTT

"Pertengahan Januari banyak menguning tanah arah ke jembatan Purus sampai ke depan tugu Merpati. Bahkan ada polisi yang datang untuk melihat kondisi itu, lalu beberapa hari belakangan disiram namun hanya sekadar dan asal siram, sekali lalu saja," ungkapnya, Jumat, 5 Februari 2021.

Disampaikannya, beberapa hari belakangan tidak pernah disiram lagi sehingga dari pagi hingga sore kawansan tersebut dipenuhi debu. Dampaknya pendapatnya dan beberapa pedagang sekitar menurun tajam, pengunjung tidak mau singgah karena debu.

baca juga: BNPB Bantu Sumbar Senilai 1,5 Miliyar, Bantuan Berupa Rapid Tes Antigen, Masker dan Hand Sanitizer

"Ada yang singgah, tapi hanya sebentar karena pengunjung tidak mau makan dan minum ditengah debu. Tidak hanya itu, kami yang punya bayi juga cemas dengan kondisi ini, anak kami mulai batuk-batuk," ungkapnya.

Ima mengaku senang dengan upaya pemerintah untuk menyelamatkan kawasan Muaro Lasak dari abrasi. Tetapi, harus tetap mengedepankan keselamatan masyarakat dalam pengerjaan.

baca juga: Kepala BNPB Tinjau Pembangunan Batu Pemecah Ombak Tugu Merpati: Tanam Pohon Sepanjang Pantai!

"Kami jelas senang dengan adanya pemasangan batu ini, tapi jangan seperti ini juga. Siram dong bekas tanah sampaikan habis jangan asal siram," pintanya.

Sebelumnya persoalan tanah yang memiliki debu dikawasan ini sudah menjadi perhatian Kalaksa BPBD Sumbar Erman Rahman. Bahkan, Kamis, (28/1) Erman Rahman sudah memngagil anggotanya yang bertanggung jawab atas proyek tersebut untuk segera melakukan penyiraman.

Namun hasil dilapangan masih banyak tanah di badan jalan yang memicu debu dan lumpur saat hujan.

Erman Rahman menyampaikan, proyek penanganan transisi darurat ke pemulihan abrasi pantai Kota Padang sedan berjalan.

Mengunakan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB sebesar Rp19 miliar itu untuk tiga titik abrasi. Penganganan darurat abrasi Pantai Padang Padang Kawasan Tugu Merpati, Kawasan Masjid Al Hakim dan Pasir Jambak.

"Pengerjaan sedang berjalan dengan target 70 hari kerja selesai," ungkapnya.

Erman Rahman menjelaskan, penanganan abrasi dilakukan dengan pemasangan batu seawall, grip, ground T atau penghalang ombak, sehingga masjid dan Tugu Merpati tetap berdiri kokoh.

"Agar Tugu Merpati, Masjid Al Hakim dan Pasir Jambak akan terbebas dari abrasi," terangnya.

Untuk diketahui, Penganganan darurat abrasi Pantai Padang Padang Kawasan Tugu Merpati memakan anggaran Rp5,9 miliar dengan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) terhitung 11 Januari 2021.

Paket ini dikerjakan oleh PT. Graha Bangun Persada dengan konsultan pengawas PT. Yasa Kreasindo Cemerlang.

Pantauan KLIKPOSITIF hingga 10:21 WIB menjelang siang ini belum dilakukan penyiraman. Walaupun sudah ada mobil yang membawa tenk air untuk penyiraman.

Dislokasi terpantau juga terpantau plang tulisan untuk berhati - hati karena kendaraan proyek keluar masuk. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir