Usai Ciptakan Robot Pramusaji, Diniyah Putri Padang Panjang Siapkan Robot Muraja'ah

Launching Robot Pramusaji
Launching Robot Pramusaji (Sumbar.kemenag.go.id)

KLIKPOSITIF - Sebuah cafe di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang dinobatkan menjadi cafe pertama di Indonesia yang melayani para tamu menggunakan robot pelayan.

Demikian salah satu poin yang diutarakan Pimpinan Diniyah Putri Fauziah Fauzan el Muhammady saat memberikan sambutan pada acara seremoni pembukaan Lounching Cafe Arfa, dilansir dari laman Sumbar .kemenag.go.id, Kamis (18/02).

baca juga: Moeldoko Masih Mengaku Ketum Demokrat, Begini Respon Tokoh Partai

Fauziah menyebut, kedepan pihaknya tak hanya menghadirkan robot pramusaji. Namun lebih dari itu, ia mengaku tengah menyiapkan robot muraja'ah untuk santriwati. Mengingat tenaga ustadz maupun ustadzah khusus muraja'ah tahfizh, tidak sebanding dengan jumlah santri yang ada. "Tak jarang terjadi, antrian santri menunggu sesi untuk muraja'ah menghabiskan banyak waktu," katanya.

Manfaat robot muraja'ah ini kedepan tentu sangat banyak sekali. Selain akan mempermudah santri dalam proses menghafal Alqur'an, juga semakin efisien tenaga dan waktu, sambung perempuan berkarakter tegas tapi keibuan ini.

baca juga: Jelang Lebaran, Menkes Minta Vaksin Lansia Diprioritaskan

Contohnya, setiap santriwati menyetor ayat hafalan, kemudian lupa atau salah maka robot robot ini nanti akan secara otomatis mengatakan Khata' (salah),"sebutnya.

Menurutnya ide menghadirkan robotik hari ini adalah sebuah keniscayaan, sebagai persiapan generasi bangsa untuk menghadapi era 4.0.

baca juga: Diprotes Warga Soal Pencarian Korban Tenggelam di Pessel, Ini Kata BPBD dan Basarnas

Ditambahkannya robot pramusaji yang dinamai Midun dan Sabai tersebut adalah generasi pertama. Untuk selanjutnya perempuan ini akan mengembangkan fungsi robot yang bisa menggerakkan tangan, kepala atau lainnya.

Ia berharap kedepan, santriwati yang memiliki passion di bidang industri robotik dapat mengembangkan kemampuannya.

baca juga: Dibanding Spotify, Apple Bayar Lebih Besar Royalti di Apple Music

"Semoga dapat menginspirasi teman teman di lembaga pendidikan lain, sehingga robotik tidak dipahami sebagai even perlombaan kemudian selesai dan habis begitu saja, ini memang tidak mudah, dengan dukungan semua pihak insyaallah bisa terwujud," harapnya.

Sementara itu Walikota Padang Panjang Fadly Amran turut mengapresiasi Cafe Arfa yang di dukung duo robotik hasil karya tangan dingin santriwati Diniyah Putri.

Ia menilai sudah selayaknya stakeholder terkait bersama sama mendukung dan memberikan kesempatan bagi generasi bangsa untuk menjadi generasi bernas di tingkat nasional maupun internasional.

"Sungguh capaian yang luar biasa bagi santri santri kita yang bisa menyelesaikan karya layaknya tenaga profesional di bidang industri robot ," katanya.

Terpisah, Raan Shalihan yang sempat ditemui penulis di cafe Arfa mengaku sempat ragu mengiyakan permintaan Fauziah untuk menciptakan robot sebagai pelayan cafe di kampus Diniyah Putri.

Menurut pengakuannya, sepertinya ibu Fauziah tak mau menyia-nyiakan kecanggihan teknologi yang sempat menginspirasinya saat berkunjung ke Jepang pada Tahun 2018, kata Raan.

"Saat mengunjungi sejumlah museum mitigasi, ada sejumlah robot yang menyambut tamu, disitulah bermulanya ketertarikan ibu Zizi sapaan akrab Fauziah." ungkapnya.

Berawal dari ide membuat sebuah kafe pasca berolahraga di taman kampus Diniyah Putri. Tercetuslah keinginannya untuk melengkapi layanan cafe dengan memanfaatkan kecanggihan robot sebagai pramusaji.

Cafe Arfa yang bermakna jaya atau tinggi ini diyakini menjadi cafe pertama di Indonesia yang melayani para tamu menggunakan robot , terang Raan lagi.

Di cafe ini, robot dipekerjakan layaknya pelayan manusia seperti menyajikan makanan dan juga mengambil piring kotor, jelas Raan Sholihan salah seorang instruktur santri.

Ia menuturkan dua robot yang merupakan gagasan murni dari Pimpinan Diniyah Putri tersebut di beri nama Midun dan Sabai.

" Robot Midun berjalan dari dapur dan ke meja, begitu pun sebaliknya. Dengan rangkaian set point PID robot Midun mampu berbelok mengikuti jalur garis hitam strip magnetik yang ada di lantai kafe untuk memandu tugasnya," jelasnya seraya tersenyum.

Sementara robot Sabai berfungsi untuk melayani kebutuhan pengunjung kafe. Ia baru akan bekerja jika sudah diperintah,melalui alat remote control yang dijalankan operator. "Untuk Sabai ini proses pembuatannya cukup lama selama 1,5 bulan ketimbang Midun kendati lebih mahal," katanya.

Robot robot ini, sambung Raan berjalan sesuai dengan jalur yang ada dan tidak sepenuhnya mengambil piring atau pun makanan.

Mereka tetap membutuhkan bantuan manusia. Pelayan di dapur akan menempatkan piring di nampan robot , lalu menekan tombol yang tepat untuk mengirim mesin ke meja yang ditentukan. Begitu robot tiba di meja, seorang pelayan atau pelanggan akan mengambil makanan dari nampannya.

Yang menarik, Raan mengatakan Midun dan Sabai memiliki kelebihan bisa bersuara melalui program MP3. Voice mereka disupport dengan DF player mini MP3 menggunakan micro SB. Voice recorder melalui aplikasi dan playstore baru dimodif ke dalam bentuk MP3.

"Kalau Sabai bisa mengucapkan kalimat seperti "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat menikmati dan terimakasih, sampai jumpa kembali," katanya. Sedangkan Sabai bisa mengucapkan kalimat seperti "Ini pesanannya terimakasih, selamat menikmati dan terimakasih." Beber Raan.

Ketika disinggung alasan pemberian nama unik untuk kedua robot itu. Raan menjelaskan hal itu sesuai dengan harapan Ibu pimpinan yang ingin mengangkat dan mensyiarkan kembali sejarah khas ranah Minang.

Selain itu, hal menarik lainnya di kampus Diniyah Putri ini sudah menyediakan ekskul tata boga. "Nanti diharapkan mampu bergabung dengan koki yang kita datangkan di cafe ini untuk pengembangan kedepan," imbuhnya.

Ia mengakui mempekerjakan robot memang praktis. Jika semua rangkaian tidak mengalami error ini bisa menghemat biaya operasional. Namun tentu saja biaya yang harus dikeluarkan tidaklah murah, sebutnya.

"Untuk 2 robot ini saja sedikitnya menghabiskan dana sekitar 22 juta lebih, dimana Sabai menghabiskan 10 jutaan, dan untuk Midun sekitar 12 jutaan jika ditotal", cetusnya.

Raan menyebut semua dikerjakan oleh santri. Mulai dari proses sorder rangkaian robot , hingga pembuatan body robot laki dan perempuan dengan tinggi mencapai 1,5 meter.

Sementara itu menurut pengakuan santri bernama Wirza Khairunnisa membuat robot merupakan pengalaman baru dan tantangan sendiri baginya. "Kami harus belajar bagaimana mengelas dan menggunakan gerinda tangan," celetuk santri berkeinginan menekuni dunia farmasi ini.

Hal senada diungkapkan santri lainnya Risa Nazhifa Khatin. Kendati bercita cita ingin memperdalam oseanologi ia sepakat dengan rekannya meskipun perempuan, tantangan dan kesulitannya yang menjadi menarik untuk dicoba, akunya.

Untuk membuat robot ini, tim santri yang terdiri dari 9 personil ini harus menguasai setiap komponen robot yang dibuatnya. "Banyak hal yang bisa kami kenang selama proses pembuatan robot ini, begadang hingga nyaris jam 12 malam, saat masuk tahapan finishing," celetuk santri lainnya bernama Nadda Tykia Ullima.

Mereka mengaku membutuhkan waktu untuk belajar menyelesaikan kedua robot tersebut, jelas tim yang pernah mengantongi peringkat ketiga nasional dalam lomba Madrasah Robotik Competition (MRC) kategori Kemenag RI di Bekasi tahun lalu ini.

Prestasi yang ditorehkan duo santriwati yang akrab disapa Wirza dan Risa diharapkan bisa memacu siswa atau santri dan santriwati lainnya di seluruh Indonesia.

"Meskipun ini kali pertama, kami juga terpacu semakin bersemangat lagi belajar menciptakan robot dan ikut berkompetisi di even lainnya," jelas Farras Zahira yang memiliki cita cita menjadi seorang dokter.

Pada acara yang langsung diresmikan kakanwil Hendri itu, apresiasi lainnya juga datang dari mantan Wamendikbud Fasli Jalal, Waryono Direktur PD Pontren Kemenag RI melalui virtual, Kakanwil Kemenag Sumbar Hendri, Owner Kosmetik Wardah Nurhayati Subakat dan sejumlah jajaran stakeholder terkait.

Sumber: Sumbar .kemenag.go.id

Editor: Eko Fajri