Diduga Lakukan Penambangan Emas Ilegal, 8 Warga Sawahlunto Dibekuk Polisi

.
. (ist/Katasumbar)

KLIKPOSITIF - Kepolisian Resor (Polres) Sawahlunto mengamankan 8 orang yang terlibat dalam penambangan emas yang diduga ilegal (tanpa ijin).

Para penambang tersebut menambang di aliran Sungai Batang Ombilin, Tapian Tanang, Dusun Siambalau, Desa Talawi Hilie, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto.

baca juga: Krisis Energi Global, Industri Migas Masih jadi Penggerak Ekonomi Global

Kapolres Sawahlunto AKBP Junaidi Nur mengatakan 8 orang tersebut diamankan pada 16 Februari 2021 lalu. Mereka berinisial I, RY, RA, BY, AF, I, BDS dan JA.

Pada saat itu, ke 8 orang tersebut ditemukan sedang melakukan aktivitas penambangan.

baca juga: BI: Rp 710 Miliar Modal Asing Masuk Pada Pekan Ketiga Oktober

"Seluruhnya merupakan warga Sawahlunto. Mereka diamankan berdasarkan 3 laporan polisi yang berbeda," katanya saat jumpa pers di Mapolres Sawahlunto, Rabu (24/2/2021).

Junaidi melanjutkan, atas kejadian itu, mereka dibawa ke Mapolres Sawahlunto untuk diperiksa lebih lanjut.

baca juga: Banyak Faktor Pengaruhi Pemulihan Ekonomi Global, Menkeu: Salah Satunya Vaksinasi dan Dukungan Fiskal

Junaidi Nur menambahkan, hasil penggerebekan tersebut disita sejumlah barang bukti berupa 4 unit ponton, 4 set pompa air, tabung kompresor dan lainnya.

"Mereka dijerat dengan pasal 158 Undang-undang nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral," kata dia.

baca juga: Kemenperin: Produk Olahan Singkong, Panganan dan Camilan Premium Digemari di Banyak Negara Eropa dan Amerika

Sementara itu Kasatreskrim Polres Sawahlunto Iptu Ray Sinurat menambahkan, dugaan pidana terhadap 8 pelaku yakni setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam pasal 37, pasal 40 ayat (3), pasal 48, pasal 67 ayat (1), pasal 74 ayat (1) atau ayat (5).

"Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 10 miliar," ujarnya.

Sumber: Katasumbar.com

Editor: Eko Fajri