Secuil Kisah Dibalik Terang

Boy sedang melakukan penggantian CB di sebuah warung bakso di Jalan Ampang, Kelurahan Alai Timur, Kecamatan Kuranji, Jumat (26/02/2021)
Boy sedang melakukan penggantian CB di sebuah warung bakso di Jalan Ampang, Kelurahan Alai Timur, Kecamatan Kuranji, Jumat (26/02/2021) (Halbert Caniago)

Di balik terangnya cahaya lampu di Kota Padang, terselip secuil kisah orang-orang yang hanyut dalam hiruk-pikuk Kota. Mereka adalah sekumpulan lelaki yang selalu mangarungi sampai sudut-sudut perkotaan.

Jumat 26 Februari 2021, jam telah menunjukkan pukul 15.00 WIB, langit Kota Bengkoang sedang kurang bersahabat. Tetesan hujan sudah mulai membasahi tanah setelah hampir satu bulan dilanda kemarau. Boy Putra (37) dan rekannya Novrianto (45) masih mengitari daerah Kecamatan Padang Padang Utara dengan mobil mini bus berwarna putih dengan logo Perusahaan Listrik Negara ( PLN ).

baca juga: Terbanyak dalam Sejarah, Pemerintah Bakal Buka 1,2 Juta Formasi CPNS

"Masih satu jam lagi," katanya kepada rekannya yang mengendarai mobil itu.

"Ya, kalau ada kerusakan lagi, terpaksa pulang agak telat," sahut rekannya.

baca juga: DPR Setujui Rencana Pemerintah Bubarkan Kemenristek

Tiba-tiba, handpon yang ia genggam berbunyi. Ia bergegas membuka sebuah pesan yang masuk pada aplikasi PLN Mobile yang terinstal di telepon pintar miliknya.

Sebuah pesanan menyatakan adanya kerusakan di rumah pelanggan. Ia membuka pesan itu dan melihat titik koordinat dari pelapor yang meminta penggantian Circuit Breaker (CB) di Jalan Ampang, Kelurahan Alai Timur, Kecamatan Kuranji.

baca juga: Baleg DPR Setujui Draf RUU SKN

Novrianto langsung menginjak pedal gas agar cepat sampai di lokasi tersebut. Beberapa menit, ia sudah berada di titik koordinat yang dituju.

Boy langsung menghubungi nomor telepon yang tertera pada laporan. "Assalamualaikum pak, saya Boy dari PLN , apa tadi bapak melapor melalui aplikasi PLN Mobile?" tanyanya.

baca juga: Tak Lagi Gelap-gelapan, PLN Salurkan Listrik ke Tiga Desa di Pasaman Barat

"Iya pak, ini saya menunggu bapak di pinggir jalan. Lokasinya di dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pak," ujar seorang lelaki yang mengangkat teleponnya.

"Terus saja bang, kita sudah dekat," katanya kepada Novrianto.

Tak berapa lama, seorang lelaki bertubuh tambun melambaikan tangan kepada Boy dan Novrianto. "Itu bang," kata Boy sambil menunjuk ke arah lelaki itu.

Novrianto langsung menghidupkan lampu sein mobil ke arah kanan. Ia berhenti tepat di depan sebuah warung bakso yang saat itu sedang dalam keadaan tutup.

"Wah, cepat juga ya pak," kata lelaki tambun yang melaporkan melalui aplikasi PLN Mobile.

"Maaf agak terlambat ya pak," jawab Boy sambil berlari ke arah lelaki itu.

"Gak apa-apa pak. Ini sudah cepat kok pelayanannya," katanya.

Boy kembali ke dalam mobil untuk mngambil perlengkapan yang akan ia gunakan. Begitu juga dengan rekannya Novrianto menggapai helm yang ada di bangku tengah mobil yang ia kendarai.

Mereka bersama menghampiri lelaki yang bernama Hafiz (34). "Bapak mau mengganti CB kan pak?" tanya Boy memastikan.

"Iya pak," jawabnya singkat.

Novrianto mengeluarkan beberapa helai kertas yang ia bawa, sementara Boy mulai memasang helm dan sarung tangannya. Ia akan mengecek apakah listrik untuk bangunan itu masih tersambung atau tidak.

"Sudah bang?" tanya Boy memastikan segala persetujuan penggantian CB telah ditandatangani dan mereka akan melakukan tugasnya.

"Sudah, ini CB barunya," ujar Novrianto sambil menunjukkan CB baru yang ia bawa.

Boy langsung menuju meteran yang ada di depan warung bakso milik Hafiz. Ia mengeluarkan perlengkapannya dan langsung mengganti CB sesuai permintaan pelanggan PLN itu.

Selang 10 menit, Boy dan Novrianto telah menyelesaikan tugasnya. Mereka berdua langsung berpamitan kepada Hafiz. Karena masih ada pelanggan yang membutuhkan jasa mereka untuk memperbaiki listrik di rumahnya.

"Kemana lagi kita," tanya Novrianto.

"Ke arah Khatib Sulaiman bang. Di dekat Trans Mart," katanya.

Mereka berdua langsung menaiki mobil mini bus warna putih itu untuk menuju lokasi yang ditunjuk oleh aplikasi PLN Mobile. Rintik hujan mengiringi perjalanan dua lelaki itu. 10 menit kemudian, mereka sampai di titik koordinat yang ditunjukkan oleh aplikasi tersebut.

Seperti biasa, Boy langsung menghubungi pelapor yang nomor teleponnya telah tertera di aplikasi PLN Mobile.

"Assalamualaikum pak, saya Boy dari PLN , kami sudah berada di koordinat yang bapak berikan pak," katanya.

"Sekarang posisi bapak dimana,?" tanya lelaki yang melaporkan adanya kerusakan listrik di rumahnya.

"Kami di samping Trans Mart pak," jawab Boy.

"Lokasi rumah saya tidak di sana pak, Rumah saya masuk ke gang sebelum Masjid Raya Sumatera Barat, nanti ada mushalla di dalam terus masuk lalu belok kiri pak," katanya.

"Owh begitu ya pak? baik pak, ditunggu ya pak, kami menuju ke sana," kata Boy.

Sambil mengurut dada, Boy mengatakan "Lokasinya gak di sini bang, kita belok kiri di jalan raya," katanya kepada Novrianto.

Kekesalan tercermin di wajah keduanya, karena lokasi yang dituju sangat jauh berbeda dengan lokasi yang dilaporkan melalui aplikasi PLN Mobile.

Setelah tiga menit berkendara, Boy menunjuk sebuah gang yang berada di sebelah kiri mereka. "Itu gangnya bang. Kita masuk ke dalam," katanya.

Novrianto mengikuti instruksi Boy dan masuk ke dalam sebuah gang sempit di Jalan Khatib Sulaiman. Perjalanan mereka menggunakan mobil terhenti karena melihat gang buntu setelah Mushalla yang ditunjukkan oleh lelaki itu.

Boy kembali menghubungi lelaki yang melaporkan itu dan menanyakan lokasi rumahnya. "Pak, kami sudah di depan Mushalla. Rumah bapak yang mana?" tanya Boy.

"Tunggu sebentar pak saya keluar," jawab lelaki itu.

Selang beberapa menit seorang lelaki menggunakan sepeda motor warna merah keluar dari gang sempit itu. Ia langsung menghampiri Novrianto yang berdiri di samping mobil.

"Pak saya yang melaporkan kerusakan pak," kata lelaki itu.

"Kalau boleh tahu kerusakannya apa pak?" tanya Novrianto.

"Listrik di rumah saya tidak hidup pak, padahal pulsanya ada," katanya.

"Owh begitu, lebih baik kita cek saja dulu pak," katanya.

Novrianto dan Boy langsung mengikuti lelaki yang menggunakan sepeda motor tersebut dengan berjalan kaki. Beberapa menit berjalan, lelaki itu menghentikan kendaraannya di sebuah rumah di sebelah kiri.

"Ini rumah saya pak. Itu meterannya pak," kata lelaki itu.

Novrianto yang telah menggunakan helm, sarung tangan dan perlengkapan lainnya langsung mengecek bagian kabel yang menuju ke meteran dengan manggunakan obeng tespen.

"Arusnya jalan," katanya sambil menoleh ke arah Boy.

"Coba lihat bagian saklar di dalam bang," saran Boy.

Sementara Boy mencoba memastikan arus yang masuk melalui meteran. Ia memencet tombol yang ada di meteran tersebut dan melakukan restar mesin meteran itu.

"Sudah bisa pak," sorak pemilik rumah saat melihat lampu di dalam rumahnya menyala.

Novrianto dan Boy langsung berpamitan karena tugas mereka telah selesai. "Sudah aman kan pak?, kami permisi dulu kalau begitu," kata Novrianto.

"Terimakasih banyak pak," kata lelaki itu.

Dua lelaki itu kembali berjalan mengikuti gang sempit itu dan menuju mobil mereka yang terparkir di halaman Mushalla. "Langsung balik ke kantor aja bang, sudah jam setengah lima," kata Boy kepada Novrianto.

Novrianto hanya mengangguk sambil membuka pintu mobil untuk kembali ke kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) di Jalan Khatib Sulaiman untuk melaporkan pekerjaan mereka sejak pukul 08.00 WIB.

Tetap Melayani Selama Pandemi

Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) Persero tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat selama masa pandemi Covid-19. Meskipun banyak yang bekerja dari rumah, tapi tidak untuk bagian teknis listrik.

Super Visor Unit Layanan Pelanggan (UPL) PLN Wilayah Sumatera Barat, Muh Ali Anang Lubis mengatakan bahwa selama hampir satu tahun pandemi Covid-19, tidak satu pun anggota yang ia bawahi libur atau bekerja dari rumah.

"Selama pandemi ini kami tetap bekerja seperti biasa. Work From Home (WFH) tidak berlaku pada kami dan kami terus memberikan pelayanan kepada pelanggan sesuai pengaduan," katanya.

Menurutnya, agar petugas di lapangan tidak terpapar virus Covid-19, pihaknya telah membekali mereka dengan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan handsanitizer.

"Seluruh petugas sudah kami bekali APD dan tetap melaksanakan tugas seperti biasanya selama masa pandemi Covid-19," lanjutnya.

Menurutnya, alasan tidak memberikan WFH kepada petugas teknis itu karena mereka adalah ujung tomba berjalannya sistem perbaikan jaringan listrik di Kota Padang.

"Kalau tidak ada teman-teman teknik ini, tentu akan berpengaruh kepada kepuasan pelanggan dan aliran listrik sendiri. Salpai saat ini teman-teman semuanya masih dalam keadaan aman dari virus Corona," katanya.

Penulis: Halbert Caniago | Editor: Ramadhani