Bidan di Pasbar Beri Penghargaan Dua Dukun Beranak

Bidan Tota Dina usai beri penghargaan terhadap dua nenek dukun beranak Jorong Pasir Panjang
Bidan Tota Dina usai beri penghargaan terhadap dua nenek dukun beranak Jorong Pasir Panjang (Irfansyah Pasaribu)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Dua orang dukun beranak asal pasir panjang diberi penghargaan. Penghargaan itu diberikan oleh Posyandu Pasir Panjang, Kecamatan Ranah Batahan, Pasaman Barat.

Penghargaan yang diberikan tersebut bentuk apresiasi karena telah membantu persalinan ibu hamil dan merawat bayi-bayi yang lahir sejak tahun 2017 di daerah itu.

baca juga: Dua Terduga Pengedar Narkoba Dibekuk Polisi di Pasaman Barat

"Dua dukun beranak yang sudah lansia ini sangat membantu kita selama ini. Mereka membantu persalinan dan merawat bayi-bayi yang lahir," sebut Tota Dina yang merupakan Bidan Desa di Jorong Pasir Panjang, Jumat (5/3/2021).

Ia mengatakan dua nenek tersebut juga menyerahkan sepenuhnya kepada bidan desa mulai tahun 2017. Mereka juga membantu untuk pemantauan proses persalinan para ibu hamil.

baca juga: Berada di Zona Kuning, Dinas Kesehatan Klaim Pasaman Barat Terbaik Penanganan Corona di Sumbar

"Kita menjalin mitra kerjasama. Sebab, menjadi bidan desa di suatu tempat yang menganut tradisi kuat menjadi salah satu tantangan," katanya.

Menurutnya tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan ketika melayani warga di wilayah pedesaan yang masih banyak ditemukan profesi dukun beranak.

baca juga: Diduga "Bongkar" Bengkel Sepeda Motor di Pasbar, Seorang Pemuda Dibekuk Polisi

"Kebetulan di Jorong Pasir Panjang ada dua dukun beranak yakni nenek Arisah dan Nenek Nurmalina. Sebelumnya masih banyak yang melakukan proses persalinan di rumahnya," jelasnya.

"Namun sejak kita melakukan mitra kerjasama, dua nenek ini telah menyerahkan seluruhnya proses persalinan kepada tenaga medis," sambungnya.

baca juga: Antisipasi Adanya DPC Tandingan, Pengurus Partai Demokrat Pasbar Datangi Polisi

Kata dia sebelumnya dilakukan pendekatan terhadap dukun beranak tersebut dan terhadap keluarganya agar para ibu yang ingin melahirkan diajak ke bidan setempat.

Ia mengaku juga telah melakukan pendeketan sejak dia ditempatkan dinas pada tahun 2007. Tetapi tahun 2017 baru bisa dilakukan kerjasama.

"Sejak pelayanan melahirkan beralih ke bidan , bukan berarti jasa nenek dukun beranak ini ditinggalkan begitu saja. Proses persalinan tetap didampingi oleh nenek dukun ini," tuturnya.

Ia mengungkapkan bahaya proses persalinan tanpa menggunakan sarung tangan memiliki risiko infeksi. Sedangkan dalam proses persalinan menolong ibu hamil sudah tentu memegang perut.

"Tangan penolong harus steril. Bahaya jika tidak ditangani secara medis seperti plasenta bayi yang dibiarkan lama atau tertinggal di dalam," ungkapnya.

Sementara dalam proses persalinan dengan bantuan dukun saat perawatan bayi yang menggunakan minyak cengkeh atau dicampur dedaun lainnya sangat berisiko dalam mengikat tali pusat.

"Mengikat tali pusat dengan bermaksud tali pusat agar cepat putus, ini sangat beresiko pada bayi. Namun sejak kita melakukan penyuluhan dua nenek ini telah mengikuti sesuai prosedur medis," jelasnya.

"Nenek-nenek dukun ini pada awalnya geli memakai sarung tangan. Akhirnya kita berbagi tugas, saya yang menolong persalinan mereka yang bersihin bayi," sambungnya.

Sementara itu kedua nenek ini telah beraktibitas rutin dalam pengajian masjid. Meski hingga saat ini masih ada yang meminta bantuan mereka, namun hanya melakukan pemijatan sesuai yang diberikan petunjuk kesehatan.

Sementara nenek Arisah sangat terharu atas penghargaan yang diberikan tanpa diduganya. Ia mengatakan penghargaan yang diberikan itu adalah pertama dalam hidupnya.

"Seumur hidup tidak pernah saya dihargai seperti ini sampai diberikan penghargaan, apa lagi sampai dipoto," tutupnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Rezka Delpiera