Komunitas Pecinta Alam Liar Maligi Pasbar Ajak Masyarakat Menjaga Alam

Salah seekor elang yang mendiami alam liar di Pantai Maligi Pasaman Barat
Salah seekor elang yang mendiami alam liar di Pantai Maligi Pasaman Barat (Istimewa)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Komunitas Pecinta Alam Liar Nagari Persiapan Maligi, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat - Sumbar mengajak semua orang untuk kembali mengingat alam . Hal itu disampaikan oleh salah seorang komunitas pecinta alam liar Founder Pandah ArtGreen, Surya kepada KLIKPOSITIF , Minggu (7/3/2021).

"Di peringatan World Wildlife Day, kami ingin mengajak semua untuk kembali mengingat betapa mesra dan dekatnya leluhur kita dengan Alam . Ini bukan selebrasi yang harus diingat pada setiap tahunnya," sebutnya.

baca juga: Pemkab Pessel Anggarkan Bantuan Safari Ramadan Rp7,5 Juta Per Masjid dan Musala

Menurutnya setiap orang memiliki definisi tersendiri tentang apa itu arti alam liar. Bahkan sebagian ada yang beranggapan, bahwa alam liar adalah hutan dan hewan-hewan buas.

Sebagai negara yang memiliki lambang burung garuda, hal ini menandakan warga negara Indonesia bersahabat dengan alam . Begitu juga di ranah minang yang menyematkan kerbau yang memiliki etos kerja tinggi.

baca juga: Agendakan 55 Kunjungan, Begini Teknis Safari Ramadan Pemkab Pessel Tahun Ini

"Leluhur kita saja dahulunya memanggil Harimau dengan sebutan 'Inyiak'. Sedangkan dalam filsafat memakai kata ' Alam Takambang Jadi Guru'. Ini bukti bahwa masyarakat Sumbar juga sangat mencintai alam liar," jelasnya.

Ia juga mengatakan alam liar adalah bumi. Bumi yang dipenuhi dengan keanekaragaman flora dan fauna, mulai dari ukuran atom hingga yang berukuran raksasa. "Sebelum adanya manusia, bumi adalah alam liar yang harmonis. Jika begitu, manusia pun adalah bagian dari alam liar. Hanya saja di zaman modern kata liar dan buas menjadi konotasi negatif," katanya.

baca juga: Dua Terduga Pengedar Narkoba Dibekuk Polisi di Pasaman Barat

Sedangkan saat ini menurutnya manusia tak lagi berpikir universal tentang fungsi masing - masing mahluk di alam semesta ini. Sementara manusia tanpa bergeser berfikir vertikal, bahwa manusia lebih tinggi derajatnya dari hewan dan tumbuhan.

Surya dengan komunitasnya saat ini bergerak dalam konservasi penyu dan juga memulihkan serta merawat ekosistem pantai Maligi. Di daerah itu terdata didiami beberapa hewan langka.

baca juga: Ini Tiga Program Prioritas Kerakyatan Bupati Pessel dalam Musrenbang RKPD 2022

Hewan langka itu yakni 2 ekor Penyu, 5 ekor jenis Elang, 3 jenis Primata dan 2 Rangkok. Kata dia masih banyak species hewan lainnya. Sedangkan untuk hutan Maligi juga masih mempunyai Hutan Pantai dan Hutan Mangrove.

"Hutan Mangrove ini luas, akan tetapi jika dibandingkan dengan luas hamparan perkebunan sawit milik perusahaan swasta, hutan mangrove tinggal sedikit," katanya.

Maligi adalah salah satu kampung kecil yang terletak di pesisir pantai Pasaman Barat. Secara luas Pasaman Barat adalah rumah dari alam liar yang cukup kompleks memiliki hutan hujan tropis, dua gunung, hutan mangrove dan pantai.

Banyak satwa liar di Pasaman Barat seperti Macan Dahan, Kucing Emas, Kuau dan lainnya. Sedangkan untuk tumbuhan, banyak tumbuhan endemik dan langka seperti Bunga Bangkai.

"Apakah alam liar adalah kumpulan untuk sebuah kata sebutan untuk hewan - hewan atau hutan hutan itu yang paling penting?. Tidak, semua mempunyai hak dan tugas," tanyanya.

"Bahkan lalat yang kotor dan menjijikan bagi sebagian orang, adalah hewan pengurai bagi sampah yang kita hasilkan. Bayangkan jika tidak ada lalat," sambungnya.

Untuk itu ia berharap untuk bersama menjaga alam liar. Menurutnya tidak perlu ada sesuatu yang luar biasa untuk dikerjakan agar alam liar tetap terjaga, yang terpenting tetap menjaga keseimbangan.

"Kita sebagai manusia cukup melakukan dan tempatkan diri sebagai makhluk yang mempunyai hak dan tugas serta saling menjaga bumi dengan makhluk lain," harapnya.

"Jangan berlebihan, jangan serakah, hormati hak dan tugas mahluk lain di bumi ini. Mari jaga keseimbangan alam untuk kelangsungan kehidupan sesama makhluk," tutupnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Ramadhani