Dinas Kehutanan Akan Bagikan 2.400 Koloni Galo - galo di Sumbar

Panen madu Galo- galo di rumah dinas Gubernur Sumbar beberapa hari lalu
Panen madu Galo- galo di rumah dinas Gubernur Sumbar beberapa hari lalu (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Dinas Kehutanan Sumatera Barat (Dishut Sumbar) akan membagikan 2.400 koloni lebah tanpa sengat (Trigona) kepada masyarakat tahun ini di provinsi itu.

lebah jenis Galo - galo atau Kelulut itu akan dibagikan kepada masyarakat yang tinggal dalam dan sekitar kawasan hutan . Supaya mereka punya alternatif penghasilan selain merambah hutan .

baca juga: Ada Ruang Layanan Konsultasi Hukum di DPMPTSP Sumbar

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Yozarwardi menjelaskan, menyebar koloni Galo- galo sebagai upaya swasembada madu di provinsi itu. Dalam hitung-hitungannya, 2.400 koloni bisa menghasilkan 1,2 ton perbulan.

"Budidaya ini untuk meningkatkan nilai tambah hasil produk kehuntan. Tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dalam dan sekitar kawasan hutan , kemudian alternatif usaha bagi masyarakat yang berprofesi di hutan ," terangnya, Kamis, 1 April 2021.

baca juga: Gubernur Sumbar: OPD Harus Berinovasi untuk Mendapatkan DID

Menurut Yozarwardi, budidaya Galo-galo memberikan peluang bagi masyarakat yang selama ini ilegal logging beralih kepada budidaya. Selain itu, budidaya mampu mencukupi kebutuhan bulanan masyarakat.

"lima kotak saja bisa menghasilkan uang Rp.3000.000 lebih, hasilnya mencukupi bulanan dan mereka tidak lagi melakukan ilegal logging," ungkapnya.

baca juga: Kampung Bahari Nusantara Sungai Pisang Diyakini Masyarakat Bahari

Kata Yozarwardi, madu Galo- galo merupakan bahan baku membuat porpolis dengan nilai jualnya cukup tinggi. Artinya budidaya sangat menjanjikan.

Kemudian kedepan perlu upaya peningkatan konsumsi madu masyarakat Sumbar. Saat ini konsumsi madu Indonesia berkisar 10 sampai 18 gram pertahun, perlu ditingkatkan.

baca juga: Penyediaan Rumah Layak Huni di Sumbar Belum Optimal

"Kalau konsumsi madu kita sampai 50 atau 500 gram pertahun, artinya kita butuh 2,5 ton madu pertahun. Kebutuhan ini akan dicukupi oleh pebudidaya yang kita bantu nantinya," terang Yozarwardi. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir