Pengamat Terorisme: Remaja Paling Mudah Direkrut, Ini Penyebabnya

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Pengamat terorisme Nasir Abbas menilai usia remaja paling rentan terdoktrin ajaran radikalisme. Sebab, umumnya mereka telah belajar agama.

Sehingga usia remaja sangat rawan terpapar pemahaman radikalisme.

baca juga: Indonesia Jadi Tuan Rumah Presidensi G20, Ini Kata Presiden Jokowi

"Memang usia remaja itu yang paling mudah dipengaruhi dan gampang direkrut. (Sebab) ilmu pengetahuan agama mereka masih sangat dangkal," ujar Nasir dilansir dari SuaraJakarta.id, Kamis (1/4/2021).

Nasir menambahkan, para remaja yang telah terkena doktrin tersebut, akan muncul rasa kebencian dan permusuhan terhadap pemerintah Indonesia.

baca juga: Penegakan Hukum Elemen Penting Dukung Indonesia Emas 2045

"Karena mereka menerima paham tersebut, disaat diajak diskusi, disampaikan tukar pikiran. Muncullah rasa kebencian, muncul rasa permusuhan kepada pemerintah ," tuturnya.

"Kemudian ditambahkan lagi harus berjuang, harus membela Islam. Jika mereka itu tidak menyangkal, tidak mendapatkan (pemahaman) yang lain, maka berpotensi menjadi pelaku (teroris)," imbuhnya.

baca juga: Kemenkes Terbitkan SE, Biaya RT-PCR Hasil Cepat Tidak Boleh Lampaui Tarif Tertinggi

Marak Aksi Teror

Di luar itu, mantan salah satu petinggi kelompok Jamiah Islamiyah (JI) ini menilai maraknya aksi teror di Indonesia dalam beberapa hari terakhir, dipicu penangkapan para terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror.

baca juga: Menkeu: Ekonomi Syariah Bantu Pulihkan Dampak Pandemi

Diketahui, dalam beberapa hari terakhir, aksi teror kembali marak di Indonesia. Dimulai dari bom Makassar yang menyasar sebuah gereja, Minggu (28/3/2021) lalu.

Kemudian, seorang terduga teroris menyerang petugas di sebuah pos penjagaan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021) sore kemarin.

"Aksi di Gereja Katedral Makassar begitu juga di Mabes Polri kemarin, adalah aksi lanjutan, aksi balas dendam terhadap teman-teman mereka yang ditangkap," ujar Nasir Abbas.

"Jadi jiwa mereka terpanggil dan terpancing untuk membuat yang sama. Walaupun tidak pernah ketemu dengan kelompok yang itu," sambungnya.

Pemerintah Adalah Musuh

Selain balas dendam, Nasir Abbas menilai jika saat ini para teroris sudah menganggap pemerintah Indonesia sebagai musuh mereka.

"Mereka yakin, bahwa sekarang sedang perang, wajib fardhu ain, memerangi pemerintah Indonesia. Kalau sudah fardhu ain berperang di Indonesia, bahkan wanita dan lelaki angkat senjata," katanya.

"Jadi suatu keyakinan selain keyakinan faktor balas dendam," Nasir menambahkan.

Editor: Eko Fajri