Direktur Pengelolaan Sampah KLHK: Coba Kepala Daerah di Sumbar Belanja Pakai Kambut, Warga Bakal Ikutan

Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Novrizal Tahar bersama Kadis DLH Sumbar Siti Aisyah
Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Novrizal Tahar bersama Kadis DLH Sumbar Siti Aisyah (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Direktur Pengelolaan Sampah , Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah , Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Novrizal Tahar menyampaikan, persoalan sampah bisa terselesaikan dengan merubah perilaku dan kebiasaan masyarakat.

Kebiasaan masyarakat bisa dilakukan pemimpin dengan memberikan contoh positif kepada masyarakat atau ada inisiatif dari sekelompok masyarakat membangun kesepakatan untuk tidak ketergantungan pada bahan plastik.

baca juga: DLH Sumbar Minimalisir Resiko Penularan Pandemi dari Limbah Penanganan Covid-19

Hal itu disampaikannya saat Rapat Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan itu bertema Singkronisasi Perencanaan dan Pelaksanaan Urusan Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Pengelolaan Persampahan di Convention Hall Bukit Lampu Padang, 19 April 2021.

"Seperti di Banjarmasin, warga belanja ke Mall membawa Kampia atau Kambut (Kambuik) dari rumah, perilaku ini ditrendkan dan menjadi trend. Di Jakarta sudah ada pasar tanpa kantong plastik," ungkapnya.

baca juga: Sejak Awal Ramadan, DLH Padang Catat Peningkatan Sampah Batok Kelapa

Menurutnya, akan terjadi perubahan jika kebiasaan itu dilakukan secara terus-menerus. Apalagi kepala daerah yang memberikan contoh.

"Coba Bupati/Walikota pakai Kambut belanja ke pasar, lalu dijadikan trend. Pasti banyak yang ngikutin," katanya.

baca juga: Ini Lima Daerah di Sumbar Dapat Kucuran Dana Pusat untuk Pengolahan Sampah di Destinasi Wisata

Menurut Novrizal, metode itu cocok dengan masyarakat Minangkabau yang punya karakteristik meneladani perilaku baik dari pemimpinnya. Apalagi kantong dari anyaman daun pandan ini sudah sejak dahulu dipakai masyarakat sebelum ada kantong plastik.

"Coba tidak banyak bicara tapi dijalankan, apalagi dari dulu Kambut sudah ada di Minangkabau dan digunakan masyarakat kita," terangnya.

baca juga: Sampah TPA Air Dingin Bisa Dijadikan Bahan Bakar Pengolahan Semen Padang dan PLTU Teluk Sirih

Kadis DLH Sumbar Siti Aisyah menyebutkan, kesadaran telah dimulai dari lembaganya sendiri. Dinas Lingkungan Hidup kata dia setiap kali mengadakan rapat dan acara tidak lagi menyediakan minuman yang dikemas dari bahan plastik.

Di beberapa pusat perbelanjaan seperti super market dan pasar tradisional menurut Siti juga sudah memulai penerapan kantong plastik berbayar. Namun ia mengakui penerapan kantong plastik berbayar ini masih belum menyeluruh di Sumbar.

Siti mengimbau kepada masyarakat yang berbelanja ke pasar supaya membawa kantong belanjaan dari rumah untuk mengurangi konsumsi kantong plastik. Bahkan menurut Siti harusnya masyarakat Sumbar mulai mengikuti cara belanja masyarakat di negara maju di mana kantong belanjaan terbuat dari kertas. Kantong dari kertas diketahui sangat mudah terurai. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir