Setelah Berkuasa 30 Tahun, Presiden Chad Tewas Ditembak Pemberontak

Presiden Chad Idriss Deby
Presiden Chad Idriss Deby (Net)

KLIKPOSITIF - Nasib mengenaskan mengakhiri kehidupan Presiden Chad Idriss Deby yang telah berkuasa selama 30 tahun di negara Afrika Tengah itu. Ia dilaporkan tewas usai ditembaki kelompok pemberontak.

Dilansir dari VOA Indonesia, tentara Chad mengatakan, Presiden Idriss Deby tewas dalam bentrokan dengan para pemberontak.

baca juga: Gal Gadot Komentari Konflik Israel-Palestina, Warganet: Ironis Sampean Memerankan Tokoh Pahlawan dalam Film, di Dunia nyata?

Berbicara di stasiun televisi nasional hari Selasa (20/4/2021) waktu setempat, seorang tentara Chad mengatakan, Deby tewas karena luka-lukanya ketika mengunjungi tentara di garis depan. Di mana dalam beberapa hari terakhir ini pasukan pemberontak yang dikenal sebagai "Front for Change and Concord in Chard" telah memperluas gerakannya di utara menuju ibu kota N'Djamena.

Pemerintah dan parlemen telah dibubarkan, dan juru bicara Tentara Chad Azem Bermendao Agouna mengatakan sebuah dewan militer akan berkuasa di Chad selama 18 bulan mendatang. Ia mengatakan dewan itu akan dipimpin putra Idriss yang berusia 37 tahun, yaitu Jenderal Mahamat Idriss Deby Itno.

baca juga: Biden Sebut Israel Berhak Bela Diri, Optimis Rentetan Kekerasan Segera Berakhir

Belum ada konfirmasi independen tentang sebab-sebab meninggalnya presiden Chad itu.

Juru bicara militer Amerika di Komando Afrika menyampaikan rasa belasungkawa kepada rakyat Kanada dan mengatakan AFRICOM "memantau dengan seksama gerakan pemberontak di Chad."

baca juga: Cari 3 Korban Perahu Terbalik, Tim SAR 50 Kota Temukan Tas Hitam di Sungai

Hal senada disampaikan juru bicara bagi Sekjen PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric.

Sementara itu Kedutaan Besar Amerika di N'Djamena telah memerintahkan seluruh stafnya untuk mengungsi, merujuk pada potensi terjadinya kerusuhan.

baca juga: Idul Fitri, Mesut Ozil dan Mohamed Salah Unggah Masjid Al-Aqsa

Deby yang berusia 68 tahun telah memimpin Chad pasca kudeta pada Desember 1990, menjadikannnya salah satu pemimpin Afrika yang paling lama berkuasa. Para pengkecam menyebutnya otoriter dan mengecam caranya mengelola pendapatan dari hasil minyak Chad. Namun negara-negara Barat melihatnya sebagai sekutu yang penting dalam upaya melawa kelompok-kelompok ekstremis di Afrika Barat dan Sahel, seperti Boko Haram yang bermarkas di Nigeria.

Editor: Eko Fajri