"Tagak Tampughuang" Tradisi Menyambut Malam 27 Ramadan di Kampung Maligi Pasbar

Terlihat seorang anak kecil sedang bersuka cita membakar tempurung yang telah disusun pada sebuah kayu di Kampung Maligi
Terlihat seorang anak kecil sedang bersuka cita membakar tempurung yang telah disusun pada sebuah kayu di Kampung Maligi (Surya)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Pada malam ke 27 Ramadan di Kampung Maligi, Nagari Persiapan Maligi, Kecamatan Sasak Tanah Pasisie, Pasaman Barat - Sumbar akan dijumpai barisan api di setiap rumah warga.

Tagak Tampughuang adalah sebuah tradisi di Kampung tersebut untuk menyambut malam 27 Ramadan . Warga disana dari segala umur akan mempersiapkan tempurung kelapa kering yang sudah dilobangi dan menyusun nya pada sebatang kayu sekitar 2 meter.

baca juga: Ini yang Ditemukan Puskesmas Simpang Empat Pasbar, Terkait Masalah Kesehatan Ibu Hamil dan Balita

Surya salah seorang warga Kampung Maligi mengatakan jika warga sudah menyusun tempurung kelapa yang sudah dilobangi pada sebuah batang kayu, lalu kemudian mendirikan dihalaman rumah masing - masing, hal itu menandakan hari itu malam 27 Ramadan telah tiba.

"Proses tradisi ini dimulai dari siang hari, dimana masyarakat dari segala umur mulai menjemur tempurung lalu melubangi ditengah nya kemudian menyusunnya pada sebatang kayu," sebutnya Sabtu (8/5/2021) malam kepada KLIKPOSITIF .

baca juga: Puluhan Pelajar Tak Patuhi Prokes COVID-19 Saat Pulang Sekolah, Satpol PP Tanah Datar Lakukan Hal Ini

Ia mengatakan tempurung - tempurung kelapa yang telah tegak itu akan di bakar setelah berbuka puasa. Biasa nya tempurung tersebut akan habis menjelang sahur atau saat Salat Subuh.

" Tradisi ini tetap terjaga dan tak tergerus zaman. Meski belakangan ini ketika di ujung Ramdan kita akan dibisingkan dengan suara mercon atau petasan, namun tradisi ini tetap ada di Kampung Maligi," katanya.

baca juga: PPKM Efektif Turunkan Kasus dan Menghambat Laju Penyebaran Covid-19 di Luar Jawa Bali, Realisasi PEN Capai Rp404,70 Triliun

Surya sendiri tidak tau kapan tradisi Tagak Tampughuang ini mulai dilakukan dan apa makna filosofi serta logika yang masuk akal tentang tradisi tersebut.

Tradisi tagak Tampughuang belum diketahui pasti kapan mulai ada di Kampung Maligi. Namun diungkapkan Surya, menurut para tetua - tetua Kampung Maligi hal itu sudah berlangsung sejak dahulu dan memiliki makna filosofi.

baca juga: Akui Ada Hambatan Kegiatan Ekspor Semenjak Pandemi Covid-19, Ini Langkah Menhub Pulihkan Kegiatan Perekonomi

Dijelaskan Surya ada beberapa filosofi yang disampaikan tetua - tetua Kampung Maligi tentang tradisi Tagak Tampughuang tersebut yakni masyarakat Maligi meyakini pada 27 Ramadan adalah malam Lailatul Qadar, maka tradisi ini adalah bentuk suka cita untuk menyambutnya.

Kemudian sebagai gambaran bahwa bulan Ramadan adalah bulan penghapusan dosa. Maka Tagak Tampughuang menggambarkan bagaimana tempurung itu habis dimakan api.

Selanjutnya sebagai pengingat bahwa jika seorang manusia berbuat kezaliman, maka manusia tersebut akan dibakar seperti tempurung itu kelak.

Sebagai penerangan, karena pada zaman sebelum masuknya arus listrik ke Kampung Maligi, pada malam 27 Ramadan adalah malam yang sibuk. Sebab malam itu masyarakat akan disibukkan hilir mudik mengantarkan zakat atau pun membuat berbagai makanan.

Tradisi itu juga menyambut sukacita untuk warga rantau yang pulang kampung. Terakhir untuk menegaskan Kampung Maligi adalah salah satu daerah penghasil buah kelapa terbesar di Pasaman Barat.

"Apapun itu filosofis dan logika yang terkandung dalam tradisi Tagak Tampughuang, menurut saya tradisi ini sangat unik dan harus dipertahankan sebagai kearifan lokal," tutupnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Eko Fajri