Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau Launching Buku Saudagar Emas Minangkabau

Pentas teater Marentak Tanah Bundo saat launching buku Saudagar Emas Minangkabau
Pentas teater Marentak Tanah Bundo saat launching buku Saudagar Emas Minangkabau (Istimewa)
PADANG, KLIKPOSITIF - Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau (YPKM) meluncurkan buku perdana tentang catatan perjalanan pemilik toko emas Murni H. Arnis Saleh, di Alek Malewakan PKM di Ladang Tari Nan Jombang, Kota Padang, Rabu (2/6) malam.

Perayaan Pusat Kebudayaan Minangkabau dan peluncuran buku yang berjudul Saudagar Emas Minangkabau ini meriahkan oleh pentas teater "Marentak Tanah Bundo" karya Ery Mefri.

baca juga: Gubernur Sumbar: Desa Adat Penjaga Adat dan Tradisi Minangkabau

Ketua Badan Pembina Irman Gusman dalam sambutannya mengatakan, kebudayaan adalah suatu sistem gagasan, tindakan, dan karya-cipta yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

"Itu mencakup unsur-unsur bahasa, sistem religi, ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem sosial, ekonomi, hingga kuliner dan kesenian," ujar Irman saat menyampaikan Orasi kebudayaan

baca juga: Gubernur Sumbar: Kemah Seniman jadi Obat Kerinduan untuk Berkarya

Irman menyampaikan, setiap suku bangsa mempunyai identitas, ciri-ciri dasar dan tipologi kebudayaannya sendiri. Ciri dasar kebudayaan Minangkabau ditunjukkan oleh adanya bahasa Minangkabau, sistem materinial yang unik.

Serta sistem sosial dan praktik kehidupan yang berpegang teguh kepada ajaran islam dan adat Minangkabau yang dipadukan dalam filosofi Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, syarak mangato adat mamakai.

baca juga: Pertunjukan Usai, Saatnya Lomba Esai Tingkat Nasional

Perpaduan agama Islam dan adat Minangkabau menjadi landasan dasar bagi masyarakat Minangkabau dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, Rudolf Mrazek, penulis Biografi Sutan Sjahrir, menyebut dua tipologi budaya Minangkabau, yakni "dinamisme" dan "anti-parokialisme".

Keduanya ditandai dengan tradisi merantau, berjiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter dan berpandangan luas sebagaimana ditemukan dalam diri orang-orang Indonesia terkemuka yang berasal dari Minangkabau dari dulu hingga sekarang.

baca juga: Kemewahan Khas Indonesia Hadir di Bumi Minang

Sejak berabad-abad silam orang Minang telah merantau ke berbagai tempat di Nusantara ini, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya, Brunei,

hingga ke Thailand Selatan dan Filipina.

Para pengelana awal bangsa

Eropa yang mengunjungi Asia Tenggara mencatat bahwa orang

Minangkabau sudah menetap di Semenanjung Malaysia jauh sebelum

bangsa kulit putih datang ke sana. Sebuah laporan pertengahan Abad ke-

19 menyebutkan tentang "The Minangkabau State in Malay Peninsula" atau Negara Minangkabau di Semenanjung Malaya.

Negeri itulah yang kemudian kita kenal sebagai Negeri Sembilan, salah satu negeri atau negara bagian dalam kerajaan Federal Malaysia yang sekitar 60 persen penduduknya adalah keturunan Minangkabau. Negeri Sembilan sampai sekarang juga masih mengamalkan "Adat Perpatih", kata lain untuk adat Minangkabau, sebagai dasar kehidupan sosial mereka.

Selain berdiaspora beserta adat, budaya dan sistem sosialnya, orang

Minang juga membawa serta unsur budaya yang lain, seperti bahasa, agama, kesenian, hingga tradisi kuliner atau masakan seperti randang yang berdasarkan suvei CNN sejak sepuluh tahun lalu telah diakui sebagai makanan paling enak di dunia (the most delicious food in the

world).

"Jadi kalau ada orang Malaysia, misalnya, menyebut randang sebagai warisan budaya nenek moyang mereka, juga tidak dapat kita salahkan. Karena memang di antara nenek moyang mereka itulah yang

membawa tradisi memasak rendang dari Minangkabau ke Semenanjung

Malaya," jelas mantan ketua DPD RI itu.

Menurut Irman, kebudayaan Minangkabau dan seluruh masyarakat pendukungnya, di ranah maupun di rantau, adalah potensi besar bagi kemajuan daerah Sumbar dan kebudayaan Minangkabau khususnya dan Indonesia pada umumnya.

"Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau yang kita lewakan hari ini, siap turut serta dan bergandeng tangan dengan seluruh unsur pelaku dan pemangku kepentingan kebudayaan Minangkabau, menjadi mitra bagi pemerintah daerah dan lembaga-lembaga pemerintahan umumnya, demi memajukan, merayakan, dan memartabatkan kebudayaan Minangkabau bagi kemajuan dan kesejahteraan daerah dan masyarakat," jelasnya.

Berdasarkan informasi yang Irman dapatkan, Gubernur

Mahyeldi Ansharullah, kini sedang menyusun sebuah Dewan Kebudayaan Sumbar. "Ini jelas harapan baru, di mana semua

pelaku kebudayaan Minangkabau akan dapat bekerjasama dan saling

bersinerji," ulasnya.

Sehingga kebudayaan Minangkabau dapat difungsikan dan digerakkan sebagai modal dasar dan modal sosial untuk mencapai kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat Sumbar di

masa-masa yang akan datang.

Sepatah kata pembentang tikar dari Sekretaris Umum Yulizar Yunus Datuk Rajo Bagindo, mewakili Ketua Umum Pusat Kebudayaan Minangkabau Shofwan Karim, karena kondisi, duduk mendampingi Gubernur, untuk menyampaikan sepatah kata mambantangkan lapiak acara pelewaan Pusat Kebudayaan Minangkabau dan Peluncuran Buku Biografi Haji Arnis Saleh, Saudagar emas Minangkabau yang ditulis penulis besar Hasril Caniago diberi pengantar sejarawan Prof. Dr. Mestika Zed (almarhum).

Tamu yang diundang langsung di gedung seni ini secara luring (offline) 40 orang dan daring (online) dalam pengawasan ketat Prokes Covid-19 dan 200 orang daring, terdiri dari unsur masyarakat budaya, swasta, pemerintah, politisi, akademisi dan sejarawan lainnya.

Yulizar Yunus menjelaskan, Pusat Kebudayaan Minangkabau disingkat PKM ini merupakan sebuah Yayasan, berbadan Hukum SK Menkumham RI, berdiri sejak 3 Juli 2015. Pelewaannya tertunda karena berduka, beberapa pendiri (Darman Moenir dan Taufiq Thaib) termasuk ketua umum sebelumnya Prof Mestik Zed wafat, disusul hambatan pandemi covid-19 lainnya.

PKM dalam cita-cita sejarahnya mengemban fungsi rumah gadang tempat duduk bersama bagi pemangku dan lembaga kebudayaan lainnya dan menjadikannya sebagai wadah mekanisme sentral kesertaan dalam pemajuan kebudayaan terutama sebagai aktor pembangunan masyarakat budaya.

Rangkaian penyelenggaraan alek kebudayaan pelewaan PKM ini, diisi dengan kegiatan utama peluncuran buku Biografi H. Arnis Saleh, Saudagar Emas Minangkabau. Dimeriahkan pertunjukan seni pergelaran tari "Merentak Ranah Bundo" karya koreografer Ery Mefri pimpinan Ladang Tari nan Jombang.

"Kami berikan aplous pada Ladang Tari nan Jombang ini satu-satunya terbesar di Sumatera, yang produk seninya digelar secara internasional di berbagai Negara," tuturnya.

Dikatakan juga, Gubernur turut membanggaka Ladang Tari Nan Jombang sejak sebagai Walikota Padang dulu, sehingga memahami agenda Ladang Nan Jombang yang festival setiap minggu pertama tiap bulan.

"Pak Gub bertanya, Ery, masihkah ada Kamis malam berbisik itu?.," Ujarnya menirukan perkataan gubernur.

Agenda alek ini juga disertai penandatanganan piagam kerja sama PKM dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), STMIK Indonesia dan Padang TV disaksikan Gubernur. Kerja sama dengan lembaga kebudayaan lain menyusul duduk bersama.

Dia juga menyampaikan terimakasih pada semua pihak yang membantu penyelenggaraan Alek kebudayaan ini. Terutama pada H Arnis Saleh beserta para budayawan yang setia "maunyian" alek kebudayaan ini.

"Serta sokongan moril dari Pemerintahan Provinsi melalui Bapak Gubernur. Kami yakin pelaksanaan alek ini ada lemah dan kurangnya. Kalau ada preseance yang tidak didudukan pada tempatnya serta pelayanan lainnya yang tidak maksimal, kami memohon maaf.

Dalam perayaan tersebut juga ditampilkan tari dengan judul Marentak Ranah Bundo yang dibawakan oleh Alwi Karmena, Muhammad Ibrahim Ilyas, Zamzami Ismail, beserta rekan lainnya.

Acara juga diisi dengan Pemutaran video profil H Arnis Saleh sebagai saudagar emas Minangkabau yang berjaya. Pada pembukaan juga dimeriahkan oleh Pasambahan yang dibawakan Mak Katik. Lalu Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah melaunching buku H Arnis Saleh sekaligus membuka acara perayaan alek malewakan PKM.

Editor: Joni Abdul Kasir