Songket dengan Motif Minang Kuno Berusia Ratusan Tahun Diproduksi di Canduang Agam

Proses pembuatan songket di Canduang Agam
Proses pembuatan songket di Canduang Agam (KLIKPOSITIF/Haswandi)

AGAM , KLIKPOSITIF - Meski motif kain Minangkabau tempo dulu sangat langka dan sulit untuk ditemukan, namun ternyata masih ada pengrajin di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat yang merevitalisasi motif kuno yang telah beratusan tahun.

Mereka adalah Nanda Wirawan (39) alumni Teknik Lingkungan Unand, bersama suaminya Iswandi Bagindo Parpatiah, alumni Seni Rupa UNP (45).

baca juga: Mengenal Iis Kuswara, Peracik Jamu Tradisional dari Agam

Saat ini suami isteri tersebut membuat songket dengan motif kuno di Studio Wastra Pinankabu miliknya di kawasan Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh Kecamatan Canduang , Kabupaten Agam , Sumbar.

Tidak mudah untuk mendapatkan motif kuno yang boleh dikatakan sudah hampir punah. Untuk mendapatkan motif tersebut, harus berjuang keras mencarinya ke berbagai daerah dan berbagai tempat, mulai dari museum kuno hingga mencari foto-foto atau dokumentasi zaman dulu yang masih tersisa.

baca juga: Bupati Agam Lantik Jetson Jadi Pj Sekda Agam

"Ini merupakan bentuk menghidupkan kembali songket -songket kuno di Minangkabau. Jadi, di Minangkabau itu, setiap nagari memiliki songket dengan corak dan filosofi yang khas masing-masingnya, sesuai dengan kultur masyarakat setempat," ujar Nanda Wirawan saat ditemui awak media, Jumat 11 Juni 2021.

Ia menyebut, saat ini hanya ada tiga sentral tenun yang kuat di Sumatera Barat dan pada umumnya kain-kain itu menurutnya dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasar.

baca juga: Pemkab Agam Turunkan Puluhan Tim Vaksinator Sukseskan Gebyar Vaksinasi

"Sementara kain-kain kuno yang dibuat nenek moyang kita dahulunya itu setiap motifnya memiliki nama dan makna. Jadi bukan hanya benda pakai atau ornamen, tapi songket itu lebih merupakan manuskrip bagi filosopi orang Minangkabau dahulunya. Jadi, itulah yang menjadi visi utama kami untuk membangun Studio Tenun Pinankabu," jelas Nanda Wirawan .

Dalam perkembangannya, studio ini mencoba mengeksploirasi kain-kain lama Minang, yang ternyata dinilai sangat menarik.

baca juga: Update COVID-19 Agam: 1 Terkonfirmasi, 1 Sembuh

Teknisnya, pembuatan songket dengan motif kuno ini menurut Nanda memiliki tingkat kerumitan yang sangat tinggi. Kalau untuk songket biasa untuk satu motif hanya menemukan sekitar 40 baris motif dalam setiap tenunnya, namun dalam songket yang diproduksinya bisa ditemui 250 untuk setiap motifnya.

"Rata-rata setiap kainnya ditenun dalam waktu 2 bulan. Tapi proses keseluruhannya itu tidak hanya tenun, ada 9 tahapan mulai dari memasak benang, ekstraksi bahan pewarnaan, mencelup, menggulung benang sampai tahap finishing, ini satu kain bisa memakan waktu sampai 6 bulan," jelas Nanda.

Untuk bahan baku sendiri, Nanda menjelaskan lebih banyak menggunakan serat alam, mulai dari sutera, katun, rami dan wol.

"Untuk bahan benang makau atau benang motifnya menggunakan bahan dari Kyoto Jepang. Jadi, ada satu desa di Kyoto yang merupakan sentra tenun klasik selama ratusan tahun di Jepang, mereka memproduksi sendiri benang emasnya," jelas Nanda.

Karena prosesnya rumit dan memakan waktu panjang, serta menggunakan bahan baku yang berkualitas, harga yang dipatok di pasaran juga otomatis tinggi, berkisar antara Rp7,5 juta hingga Rp25 juta.

Untuk diketahui, berkat upaya merevitalitasi motif songket kuno Rumah Gadang di Minangkabau, Nanda Wirawan pernah meraih penghargaanSeal of Excellencedari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) dalam kategori Award of Exellence for Handycraf di Malaysia pada Desember 2012.

Editor: Haswandi