Gubernur Sumbar: Sampah Salingka Danau Maninjau Perlu Dikelola Agar Tidak Merusak Pariwisata

Danau Maninjau
Danau Maninjau (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

AGAM, KLIKPOSITIF - Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah membuka Forum Diseminasi Kelitbangan dengan tema "Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah Menjadi Nilai Ekonomis" bertempat di SD Negeri 25 Sungai Tampang Kabupaten Agam, Jumat (9/7/2021).

Dalam sambutannya menyampaikan, bahwa masalah sampah sudah merupakan isu strategis yang menjadi salah satu penyebab pencemaran lingkungan. Sesungguhnya kebersihan itu sebagian dari Iman. Karena itu, untuk menjaga kebersihan terutama diri sendiri dan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.

baca juga: Gubernur Sumbar Minta TP PKK Data Orang Kaya di Nagari

" Sampah menjadi permasalahan utama di Sumbar. Khususnya di daerah salingka Danau Maninjau ini, sebagai daerah wisata, sampah menjadi momok tersendiri. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, akan berpengaruh terhadap pariwisata, sehingga perlu dukungan semua pihak," kata Mahyeldi.

Seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan swasta harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah sampah ini. Masalah sampah merupakan hal yang krusial (sulit terselesaikan). Terutama bila masalah kebiasaan dan kekurangan fasilitas kita terhadap lingkungan.

baca juga: Gubernur Janjikan Atlet Raih Medali Emas dapat Bonus Lebih Besar dari PON Jabar

Sampah selalu menimbulkan masalah yang rumit dalam masyarakat yang kurang memiliki risiko terhadap lingkungan. Apalagi kalau sempat dibuang ke Danau Maninjau . Disisi lain, air danaunya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Ketidakdisiplinan mengenai kebersihan dapat menciptakan suasana semrawut timbunan sampah .

"Maka timbul bau tidak sedap, lalat berterbangan, dan gangguan berbagai penyakit siap menghadang di depan mata. Bahkan bisa menimbulkan penyakit," ujarnya.

baca juga: Sepuluh Sanggar Seni di Sumbar Dapat Fasilitasi Kebudayaan

Padahal untuk mengatasi masalah sampah ini masyarakat bisa melakukan dengan cara mudah yang dimulai dari rumah tangga. Pisahkan sampah organik yang dapat terurai seperti sisa sayuran, makanan dan lainnya dengan sampah anorganik (yang tidak dapat terurai). Seperti botol minuman, kertas, kardus dan sejenisnya.

Selanjutnya Gubernur Sumbar menjelaskan, dalam pengelolaan sampah , bisa menerapkan Prinsip 4R yaitu, yang pertama, Reduce (Mengurangi), sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau materi yang digunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

baca juga: Wagub Sumbar Pastikan Ketersediaan Stok Vaksin di Sumbar Aman

Kedua, Reuse (Memakai kembali), sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum menjadi sampah . Selanjutnya untuk yang ketiga Daur Ulang (Mendaur ulang), sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang bahkan dapat menambah penghasilan masyarakat.

Misalnya di tingkat Nagari yang bisa dilakukan melalui pendirian BUMNag bank sampah yang menjadi penampung sampah anorganik seperti botol bekas, kardus dan lainnya serta menjualnya ke Industri yang mendaur ulang sampah .

"Hal ini warga disini bisa menambah penghasilan masyarakat, budidaya maggot dari sampah organik, pembuatan kompos bahkan bisa menghasilkan energi (listrik dan bahan bakar)," terangnya.

Kemudian untuk yang ke empat, Ganti (Mengganti), teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang-barang yang lebih tahan lama.

"Apabila ke empat poin di atas dapat kita lakukan dan lebih peduli, peka serta meningkatkan kesadaran, maka saya yakin daerah ini akan menjadi makmur dan sejahtera. Selanjutnya orang-orang akan datang ke Danau Maninjau untuk berpariwisata," ungkap Mahyeldi.

Sementara itu, Bupati Agam Andri Warman mengatakan, masalah sampah di Danau Maninjau ini kurang tertangani, maka akan mencemari lingkungan dan sumber daya alam di sekitarnya. Masalah sampah ini menjadi momok bagi semua pihak.

Sehingga kualitas alam Maninjau menurun. Ini karena selama ini tidak ada pola penanganan yang diberlakukan secara baku, yang bisa dijalankan oleh masyarakat dengan kapasitas yang dimiliki. Sementara itu, pembangunan terus bergerak, pengotoran lingkungan, pengotoran kawasan danau dan sumber mata air semakin buruk dan kotor.

"Ini tidak sehat dan tidak baik bagi masyarakat salingka danau Maninjau. Lingkungan yang tidak sehat akan membuat kita menjadi mudah tertular penyakit," sebutnya.

Secara khusus, Andri berharap masyarakat nagari bersinergi dengan pemerintah melakukan pengelolaan sampah dengan cara melaksanakan pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat dalam meningkatkan tanggung jawab terhadap pengelolaan sampah .

Editor: Joni Abdul Kasir