DPR: Maknai Kemerdekaan dengan Fokus Lawan Pandemi Corona

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani (DPR)

KLIKPOSITIF - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengajak masyarakat memaknai peringatan HUT RI ke 76 tahun sebagai momentum merefleksikan perjuangan para pahlawan dengan kesungguhan dan fokus berperang melawan pandemi.

"Setiap masa memiliki tantangannya sendiri. Saat ini kita dihadapkan dengan ancaman bencana kesehatan dan permasalahan ekonomi yang dapat membuat bangsa kian terpuruk. Mari maknai kemerdekaan dengan meningkatkan persatuan, bergandeng tangan melawan pandemi. Singkirkan kepentingan pribadi dan kelompok serta fokus bersinergi dalam upaya pengendalian Covid-19," katanya.

baca juga: Ingat Tiga Hal Ini Bisa Pemicu Kenaikan Kasus Covid-19

Netty meminta pemerintah agar fokus pada sektor kesehatan untuk mengendalikan penyakit. "Pemerintah harus fokus pada penguatan sektor kesehatan sebagai basis masalah pandemi. Jangan setengah hati. Tingkatkan anggaran kesehatan dan perlindungan sosial sebagai bentuk keseriusan penanggulangan pandemi," urai Netty.

Politisi Fraksi PKS ini mempertanyakan alasan turunnya anggaran kesehatan dari Rp326,4 triliun tahun 2021 menjadi Rp255,3 triliun di tahun 2022 (21,8 persen). "Bukankah ini saatnya kita memperbesar anggaran kesehatan? Ada begitu banyak persoalan dalam manajemen pandemi yang harus dibereskan dan membutuhkan dukungan anggaran. Serangan Covid-19 telah menunjukkan betapa rapuh struktur kesehatan yang kita miliki," tambahnya.

baca juga: Kasus Covid-19 di Seluruh Dunia Mulai Membaik, Menkeu Ingatkan untuk Terus Waspada

Netty mengapresiasi para petugas yang berada di garda terdepan dalam penanganan Covid-19 sebagai pahlawan. "Dulu para pahlawan memegang senjata untuk mengusir penjajah, maka sekarang kita banyak menemukan pahlawan yang memegang jarum suntik, menggali makam, menyetir ambulan, mendorong brankar dan sebagainya. Mereka adalah para pahlawan masa kini yang harus mendapat perhatian dari negara," tutupnya.

Editor: Eko Fajri