Kenang Tragedi Korban Wamena, Nofri Zendra : Nasrul Abit Ayah Kami

Nofri Zendra (Sekretaris Ikatan Keluarga Minang (IKM) Wamena) bersama Narul Abit saat melihat langsung kondisi korban Wamena yang merupakan warga Sumbar
Nofri Zendra (Sekretaris Ikatan Keluarga Minang (IKM) Wamena) bersama Narul Abit saat melihat langsung kondisi korban Wamena yang merupakan warga Sumbar (Dok. Nofri Zandra)

PESSEL, KLIKPOSITIF- Kepergian Nasrul Abit, tentu duka mendalam bagi semua kalangan di Sumbar, terkhusus Kabupaten Pesisir Selatan. Sosok pemimpin yang bijaksana dan penuh keberanian, salah satunya kenangan dalam tragedi berdarah Wamena yang tentu saja masih hangat bagi Nofri Zendra.

Nofri Zendra yang merupakan putra asal Pessel yang juga Sekretaris Ikatan Keluarga Minang (IKM) Wamena menyebut, Nasrul Abit seorang Wagub kala itu adalah sosok Ayah bagi perantau Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, korban tragedi 23 September 2019 Wamena.

"Dulu hingga kini sosok Nasrul Abit selalu sama bagi kami, sosok seorang ayah dan pemimpin yang peduli dan punya dedikasi tinggi untuk masyarakat, khusus perantau Papua di Wamena," ujar Nofri Zendra.

Menurut, Nofri Zendra, kala itu melalui tangan Nasrul Abit dan dukungan tokoh Sumbar lebih dari 800-an jiwa korban Wamena berhasil dibawa pulang ke Tanah Minang, khususnya korban terbilang banyak dari Pessel.

Pria yang akrab disapa Izen ini kembali mengingat kedatangan Nasrul Abit di tempat lokasi pengungsian, tepatnya di Markas Kodim 1702 Jayawijaya.

Kala itu Nofri Zendra ia selalu ikut mendampingi Nasrul Abit dan menyaksikan melihat kondisi warganya di sana yang saat itu di antara korban kerusuhan sudah putus asa bisa pulang ke kampung halaman (Sumbar).

Namun, dengan kedatangan Nasrul Abit ketika itu tidak seperti 'Sitawa Sidingin' seperti obat bagi mereka. Karena dengan kedatangan Nasrul Abit, mereka seketika itu bisa pulang ke Sumbar.

"Tapi, Alhamdulillah kami saat itu seperti dapat air dalam dahaga. Saat itu dengan kedatangan beliau di Oktober itu bulan itu pemulangan korban dari Wamena . Saat itu beliau juga bantu pemulangan jenazah korban kebakaran ruko-ruko oleh perusuh," terangnya.

Hampir genap dua berlalu pasca recovery konflik, banyak perantau Minang memutuskan kembali ke Wamena dan sebagian telah menetap di kampung halaman. Mereka notabene berasal dari Pesisir Selatan kembali menggantungkan hidup dengan berjualan seperti biasa di Wamena.

Di tengah kesibukan mereka, yang seharus salam hangat ketika mengingat kala itu, namun berbalas duka hari ini, mereka mendoa Ayah (panggilan untuk Nasrul Abit dari perantau diselamatkan di Wamena) berbuah surga.

"Kami sangat berduka, beliau adalah sosok ayah bagi kami. Berjibaku melihat kondisi kami di Wamena dan berjuang hingga dunsanak kami sampai ke kampung halaman dan hari ini sudah ada yang buka saha kembali. Untuk Ayah semoga di tempatkan di Surga," ujar Nofri Zendra.

Tangan Dingin Nasrul Abit Bagi Korban Wamena

Tragedi Wamena berdarah pada Senin 23 September 2019, menyisakan luka yang mendalam bagi banyak orang, terutama bagi perantau Minang yang selama ini mengais rezeki di ujung Indonesia itu.

Pagi, sekitar pukul 08.30 WIT ratusan massa tiba-tiba menyerang kios-kios yang rata-rata dihuni oleh pedagang Minang. Kelompok massa membabi buta dengan membakar kios-kios pedagang. Bahkan 9 warga Minang asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat meninggal dunia.

Ada hikmah di balik setiap peristiwa, ada pula pembelajaran usai rusuh Wamena. Kekompakan urang awak di seluruh Indonesia kian nyata di Nusantara. Terlebih setelah kedatangan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit (NA) di Wamena, perhatian pemimpin begitu terasa.

Para korban Wamena mengungsi ke Kodim dan Polres sejak awal kerusuhan. Mereka menyelamatkan diri hanya dengan pakaian dibadan. Saat itu yang tidak tahu harus berbuat apa-apa. Sembilan warga Sumbar menjadi korban mau diapakan.

Sehari setelah kejadian jenazah para korban sudah dibawa ke rumah sakit, Nofri Zendra selaku Sekretaris IKM (Ikatan Keluarga Minang) Kabupaten Jayawijaya mendapat telepon dari keluarga korban di kampung halaman. Keluarga meminta tolong diuruskan jenazah korban agar bisa dipulangkan ke Pesisir Selatan.

Keluarga mengaku siap menanggung biaya asalkan korban dimakamkan di rumah. Nofri Zendra mengaku sedih, erbayang nasib mereka, sudah ditinggal keluarga, harus pula menanggung biaya pemulangan.

Peti jenazah bukan perkara mudah. Harga satu peti mencapai Rp 8 juta. Ketua DPW IKM Papua langsung berkoordinasi dengan Pemprov Sumbar. Peti jenazah akan ditanggung Pemprov Sumbar.

Menurutnya, ia bersama masyarakat lainnya langsung menjemput peti jenazah dan membawa ke rumah sakit. Pada hari itu jenazah berangkat menuju Kabupaten Jayapura. Berhubung waktu sudah sore jenazah bermalam di sana dan diterbangkan ke Padang esok hari, 26 September. Sekitar Pukul 21.00 WIB jenazah sampai di BIM. Jenazah diterima langsung oleh Wagub Nasrul Abit untuk kemudian diserahkan pada pihak keluarga.

Momen mengejutkan terjadi. Pagi di 27 September Wagub berangkat ke Jayapura. Beliau sampai esok hari. Sesampai di Jayapura beliau menyambangi warga Minang di tempat pengungsian di Sentani. Sebab, sebagian pengungsi waktu itu sudah diterbangkan menggunakan pesawat Hercules dari Wamena.

Wagub menjenguk Putri, salah seorang korban yang lolos dari pembakaran. Keesokan harinya tanggal 29 september beliau melanjutkan perjalanan ke Wamena beserta rombongan. Di sinilah awalnya pengungsi merasakan bagaimana sosok seorang Nasrul Abit yang sebenarnya.

Pengungsi tidak lagi melihat seorang Wagub, bukan seorang pemimpin daerah. Namun, kami melihat kedatangan sosok seorang ayah untuk melihat anak-anak yang dapat musibah di perantauan. Nasrul Abit memastikan keadaan anaknya dan keluarganya dalam keadaan baik.

Suasana semakin haru hingga tangis membuncah.

Seorang ibu-ibu yang ikut bersama Wagub pun tak tahan menahan tangis. Dia tersedu. Kemudian diketahui, perempuan berhati lembut itu bernama Hilma, Kepala Bidang Rantau di Biro Rantau Pemprov Sumbar.

Kemudian meninggalkan bandara bersama rombongan untuk mengelilingi Kota Wamena, menyaksikan langsung puing-puing sisa kebakaran.

Sepanjang perjalanan Nasrul Abit menangis melihat sisa kejadian. Mungkin benak Nasrul Abit terlintas jerit tangis korban saat kejadian. Perjalanan kami berhenti seiring pijakan rem sopir kendaraan di Kodim 1702 Jayawijaya. Rombongan menghampiri warga yang mengungsi di sana.

Pengungsi pun minta foto bersama. Sesaat luka warga terobati. Nampak keceriaan dari wajah warga Minang di saat itu. Bahkan beberapa warga berpelukan dengan Nasrul Abit. Pengungsi telah didatangi seorang pahlawan. Pada kunjungan itulah, pertemuan antara Pemprov Sumbar, Pemda Wamena dan IKM Jayawijaya menuai kesepakatan.

Baca Juga

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Haswandi