Surau di Museum Istano Basa Pagaruyung, Selain Tempat Ibadah Juga Pusat Kegiatan Masyarakat

Surau yang dibangun di Belakang Museum Istano Basa Pagaruyung menjadi tempat beribadah dan kegiatan masyarakat.
Surau yang dibangun di Belakang Museum Istano Basa Pagaruyung menjadi tempat beribadah dan kegiatan masyarakat. (Fitri Syarifah/liputan6.com)

KLIKPOSITIF - Bagi masyarakat Minangkabau , Surau yang dibangun di sekitar Rumah Gadang atau di komplek Museum Istano Basa Pagaruyung, tidak saja berfungsi sebagai tempat beribadah atau shalat tetapi sejak dari dulu sudah menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam banyak hal seperti rapat/pertemuan, peringatan hari-hari bersejarah dan kegiatan sosial lainnya.

Menurut Penulis Drs Bastiam, MM seperti dilansir dari Antara, menyampaikan Surau dijadikan tempat kegiatan yang edukatif bagi para pemuda khususnya di malam hari, yang diisi dengan kegiatan yang positif.

baca juga: Hari Ini, Seorang Pasien COVID-19 Meninggal Dunia di Tanah Datar

Kalau dilihat dari sejarah masa lalu boleh dikatakan Minangkabau banyak melahirkan tokoh nasional bahkan internasional, dimana mereka pernah belajar di Surau seperti Mohammad Hatta, M. Yamin, H. Agus Salim, Hamka, Sutan Sjahrir. Mereka mempunyai andil besar dalam menegakkan kemerdekaan RI dimasa lalu.

Jika ditelaah lebih jauh, latar belakang kehidupan saat remaja para tokoh tersebut sangat dekat dengan Surau, artinya menjadikan mereka karakter-karakter tokoh yang berkepribadian kuat, berkemampuan nalar dan memiliki sensitifitas terhadap kehidupan sosial masyarakat, sehingga menjadikan mereka tokoh yang berkwalitas dan disegani.

baca juga: Kegiatan KIE di Tanah Datar, Darul Siska Sebut Ini Penyebab Capaian Vaksinasi Sumbar Rendah

Dulu, kalau seorang anak laki-laki Minangkabau mendekati masa remaja masih tidur di rumah orangtuanya, maka dia akan ditertawai dan diolok-olok oleh teman seangkatannya sebagai Bujang Gadih (lelaki banci), anak manja dan sederet cemoohan lain yang membuat remaja pria waktu itu hanya berdiam di rumah orangtuanya di siang hari dan kalau malam hari mereka berkegiatan dan tidur di Surau.

Di Surau itulah semua kegiatan dan aktifitas remaja pria di malam hari berlangsung, mulai dari belajar mengaji/agama, belajar adat/budaya dan kesenian Minangkabau , belajar bela diri/pencak silat, dan kegiatan lainnya. Yang rajin belajar mengaji dan menekuni agama dewasanya mereka menjadi ustadz/pemuka agama, maka lahirlah ulama-ulama besar seperti Buya Hamka. Yang rajin belajar adat/budaya dan kesenian mereka dewasanya menjadi budayawan dan seniman besar seperti Chairil Anwar dan budayawan tersohor lainnya.

baca juga: Polres Tanah Datar Gelar Vaksinasi di Rutan Batusangkar, 160 Orang Divaksin

Sementara itu, Menurut Wartawan Yal Aziz seperti dilansir di laman sumbarprov.go.id, menjelaskan secara ilmiah, Surau adalah lambang kesakralan yang mencerminkan sikap religius, sopan santun serta kepatuhan generasi muda kepada Allah Yang Maha Kuasa. Bahkan bisa dikatakan, perkembangan anak Minangkabau ditentukan dari banyaknya porsi waktu yang mereka habiskan sebagai bagian hidupnya sehari-hari di Surau.

Sebaliknya, jika seorang anak lebih banyak berada di Lapau tanpa pernah mengaji di Surau, maka orang menyebut mereka Parewa. Sebaliknya, jika waktu yang dihabiskan oleh seseorang lebih banyak di Surau, maka orang itu disebut urang Siak atau Pakiah.

baca juga: Kebakaran Dekat Istano Basa Pagaruyung Tanah Datar, Dua Kedai Ludes Terbakar

Karena itu, dari aspek mental keagamaan, bagi masyarakat tradisional Minangkabau terutama kaum prianya, fungsi Surau jauh lebih penting dalam membentuk karakter mereka di kemudian hari.

Kemudian jika dilihat struktur bangunan Rumah Gadang memang tidak menyediakan kamar bagi anak laki-lakinya. Bahkan, setelah berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau seperti terusir dari rumah induk. dan hanya pada waktu siang hari mereka boleh bertempat di rumah guna membantu keperluan sehari-hari.

Sedangkan pada waktu malam, mereka harus menginap di Surau. Selain karena tidak disediakan tempat, mereka juga merasa risih untuk berkumpul dengan Urang Sumando (suami dari kakak/adik perempuan) dan mendapat ejekan dari orang-orang karena masih tidur dengan ibu. Dalam ucapan yang khas, lalok di bawah katiak mande.

Di Surau mereka bukan hanya sekedar menginap atau tidur. Tapi banyak aktifitas penting yang mereka lakukan di Surau. Seperti belajar Silat, adat istiadat, randai, indang menyalin tambo yang dilaksanakan berbarengan dengan aktifitas keagamaan seperti belajar tarekat, mengaji, shalat, salawat, barzanji dan lainnya. Karakter pembentukan Islam tradisional sesungguhnya berangkat dari aktifitas seperti ini.

Secara fakta, bisa diatakan sangat besar fungsi dan peranan Surau bagi perkembangan generasi muda Minangkabau pada masa lalu. Surau mewadahi proses lengkap dari sebuah regenerasi masyarakat Minangkabau , sesuatu yang sulit dicari tandingannya dalam kultur manapun di dunia ini.

Kemudian adat budaya yang mengacu pada konsepsi alam takambang jadi guru yang melahirkan kebijaksanaan sehingga orang Minangabau harus tahu di nan-ampek (kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereang), adalah bentuk kearifan yang diperoleh melalui pelatihan terpadu yang mengintegrasikan antara konsepsi ideologis dengan norma-norma budaya dan praktis lewat lembaga semacam Surau.

Menurut Sastrawan AA Navis seperti dilansir dari Wikipedia, istilah Surau sudah dikenal di Minangkabau jauh sebelum kedatangan agama Islam. Surau merupakan tempat berkumpulnya anak laki-laki yang sudah akil baligh untuk tidur di malam hari serta menekuni bermacam ilmu dan keterampilan. Fungsi ini tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi diperluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman.

Pada masa awal perkembangan Islam di Minangkabau telah berkembang sistem pendidikan yang dikenal dengan nama Surau. Sistem ini terdiri dari 3 unsur yakni Buya/Ulama yang berperan sebagai guru/tutor, murid dan asrama sebagai tempat menginap para murid.

Jadi, yang terpenting saat ini bagaimana Surau dijadikan tempat beribadah, tempat belajar dan diskusi agama, pengembangan adat dan budaya, serta kegiatan sosial masyarakat lainnya sesuai dengan filosofi orang Minangkabau Adaik basandi Sarak, Sarak basandi Kitabullah. (*)

OPINI: Irfan Taufik

Editor: Fitria Marlina