Pakaian Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang, Lambang Kemuliaan dan Marwah Perempuan Minang

Perempuan Minang sedang memakai busana Limpapeh Rumah Nan Gadang.
Perempuan Minang sedang memakai busana Limpapeh Rumah Nan Gadang. (tanahdatar.go.id)

KLIKPOSITIF - Perempuan Minang sangat kuat mempertahankan adat dan budaya terutama dalam hal berpakaian. Bila ada kegiatan upacara adat, hari besar agama atau nasional yang digelar di Rumah Gadang atau di Museum Istano Basa Pagaruyung, atau tempat lainnya maka perempuan Minang memakai pakaian adat Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang.

Pakaian adat Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang ini melambangkan kebesaran dan kemuliaan serta menjaga marwah perempuan Minang.

baca juga: Hari Ini, Seorang Pasien COVID-19 Meninggal Dunia di Tanah Datar

Menurut Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat Puti Reno Raudha Thaib seperti dilansir di laman detiknews.com, menyampaikan pakaian adat Bundo Kanduang ini pernah dipakai Ketua DPR RI Puan Maharani pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-76 di Istana Negara Jakarta.

Busana adat Bundo Kanduang yang dikenakan Puan Maharani bernuansa krem, merah, dan emas yang berasal dari Lintau, Tanah Datar , Sumatera Barat. Nama pakaian adatnya adalah Tangkuluak Balenggek. Baju itu melambangkan kebesaran dan kemuliaan perempuan Minang.

baca juga: Kegiatan KIE di Tanah Datar, Darul Siska Sebut Ini Penyebab Capaian Vaksinasi Sumbar Rendah

Puan Maharani boleh memakai busana adat Bundo Kanduang karena dia anak seorang penghulu. Ayahnya merupakan penghulu, sementara ibunya, Megawati Soekarnoputri, ketika masih menjabat sebagai Presiden RI, juga pernah diberi gelar Sangsako Puti Reno.

Konsep pakaian perempuan Minang pada dasarnya terdiri dari 4 komponen yakni baju kurung Basiba (lapang), kain kodek (seperti kain sarung), tutup kepala, dan kain selendang. Baju kuruang Basiba adalah dasar pakaian adat Minang.

baca juga: Polres Tanah Datar Gelar Vaksinasi di Rutan Batusangkar, 160 Orang Divaksin

Sementara itu, dilansir dari laman www.perpustakaan.id, menjelaskan baju adat Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang memiliki keunikan terutama terletak pada bagian penutup kepalanya yang menyerupai bentuk tanduk kerbau atau atap rumah gadang .

Pakaian Bundo kanduang merupakan pakaian adat Minangkabau yang dikenakan oleh para wanita yang sudah menikah. Sementara untuk pria maupun untuk sepasang pengantin, dikenal juga jenis pakaian lainnya.

baca juga: Kebakaran Dekat Istano Basa Pagaruyung Tanah Datar, Dua Kedai Ludes Terbakar

Makna Limpapeh Rumah Nan Gadang ini merupakan lambang kebesaran bagi para istri. Pakaian tersebut merupakan simbol dari pentingnya peran seorang ibu dalam keluarga.

Limpapeh memiliki arti tiang tengah dari bangunan rumah adat Minangkabau . Peran Limpapeh dalam memperkokoh menegakkan bangunan adalah analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga.

Jika Limpapeh roboh, maka rumah juga akan roboh. Ini sebuah pesan agar wanita atau seorang ibu yang tidak pandai mengatur rumah tangga. Dan oleh sebab itulah keharmonisan rumah tangga tidak bertahan lama dan hubungannya akan sama roboh.

Perlengkapan pakaian Bundo Kanduang adalah tingkuluak (tengkuluk), baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah (kalung), galang (gelang), dan beberapa aksesoris yang lain.

Tingkuluak merupakan sebuah penutup kepala yang bentuknya menyerupai kepala kerbau atau atap dari rumah gadang . Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dikenakan sehari-hari maupun saat dalam upacara adat tertentu.

Baju Batabue atau baju bertabur adalah baju adat Minangkabau baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan tentang kekayaan alam daerah Sumatera Barat yang begitu berlimpah. Corak dan motif dari sulaman ini pun sangat beragam.

Baju batabue dapat dijumpai dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bagian tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang biasa disebut minsie. Minsie adalah sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang wanita Minang harus taat pada batas-batas hukum adat yang berlaku.

Lambak atau sarung adalah pakaian bawahan pelengkap pakaian adat Minangkabau Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan berikat. Sarung dikenakan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya bisa disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung adat Nagari atau suku mana yang memakainya.

Salempang adalah selendang yang terbuat dari kain songket. Salempang di letakan di pundak wanita. Salempang menyimbolkan bahwa wanita harus memiliki welas asih pada anak dan cucu, serta harus waspada akan segala kondisi.

Umumnya seperti pakaian wanita dari daerah lain, penggunaan baju adat Minangkabau untuk wanita juga dilengkapi dengan beragam aksesoris seperti galang (gelang), dukuah (kalung), serta cincin.

Dukuah memiliki beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang wanita harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam dasar kebenaran.

Jadi, bila perempuan Minang sedang memakai busana Limpapeh Rumah Nan Gadang maka akan tampak kemuliaan dan marwahnya. (*)

OPINI: Irfan Taufik

Editor: Fitria Marlina