Cara Aman Bertransaksi Elektronik, Ini Kata Pakar di Lima Puluh Kota

Ilustrasi.
Ilustrasi. (net)

LIMA PULUH KOTA , KLIKPOSITIF - Era digital ditandai dengan transaksi finansial yang tidak lagi menggunakan uang tunai. Melainkan menggunakan sarana elektronik, seperti transaksi melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu debet, kartu kredit, serta transaksi yang menggunakan teknologi tinggi seperti e-banking, e-commerce, atau epayment.

Hal itu diutarakan Kepala SMK Pariwisata IT Nurul Iman, Ruri Susanti saat menjadi narasumber dalam webinar Literasi Digital yang digelar Kemenkominfo RI, di Kabupaten Lima Puluh Kota , Sumbar, beberapa waktu lalu.

baca juga: Niniak Mamak Harus Berperan Dalam Meningkatkan Angka Vaksinasi di Daerah

"Untuk menjaga keamanan transaksi digital, dapat dilakukan dengan cara buat password yang aman, rahasiakan kode OTP, monitor saldo, rutin cek riwayat transaksi, menggunakan anti virus, dan di bawah pengawasan Bank Indonesia atau OJK dan sudah memiliki sertifikasi PCI DSS," jelasnya.

Narasumber lain, Direktris Radio Citra Solok, Erna Yuniarti menjabarkan penyelenggara sistem elektronik, harus menyelenggarakan sistemnya secara andal, aman, dan bertanggung jawab.

baca juga: Cek Kesiapan COD Pembangkit Listrik EBT, Manajemen PLN Sumbar Kunjungi PLTM Siamang Bunyi

"Keamanan siber harus terus diperkuat. Baik itu pemeliharaan dan isolasi fisik, memperbaiki kerentanan, serta pelacakan berkesinambungan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMA IT ICBS Payakumbuh, Mekri Supriansyah menyebut era teknologi menjadi tantangan baru bagi masyarakat multikultural Indonesia.

baca juga: Rumah Belajar Bintang Kurenah Bersiap Menggelar Kurenah Ibuah Festival di Payakumbuh

"Namun terkadang multikulturalisme kurang tepat digunakan, bahkan masyarakat multikultural sering disamakan dengan masyarakat pluralisme," katanya.

Dosen Universitas Ekasakti, Firdaus Diezo menyebut infodemik adalah informasi yang berlebihan tentang suatu masalah, sehingga sulit untuk menemukan solusinya. Penyebaran informasi yang salah, disinformasi, dan rumor selama keadaan darurat kesehatan dapat menghambat respons kesehatan masyarakat yang efektif dan menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan di antara masyarakat.

baca juga: Tingkatkan Angka Vaksinasi di Daerah, DPC Gerindra Lima Puluh Kota Gelar Vaksinasi Massal

"Contoh infodemik, seperti klaim bahwa mengenakan masker menghambat pernapasan, vaksinasi memperpendek umur, Covid-19 adalah konspirasi, atau bahkan meninggal setelah divaksin," katanya.

"Disinformasi atau hoax pada dasarnya sifatnya manusiawi. Namun yang berbahaya adalah efek yang ditimbulkan, serta menghambat penanggulangan Covid-19," katanya.

Webinar diakhiri oleh influencer, Felicia yang menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkatoleh para narasumber. (*)

Editor: Taufik Hidayat