Pemprov Sumbar Jajaki Pemanfaatan Teknologi Hydrodrive untuk Pengelolaan Sampah

Wagub Sumbar Audy Joinaldy
Wagub Sumbar Audy Joinaldy (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Untuk meminimalisir persoalan sampah di Sumbar, Pemerintah Provinsi menjajaki teknologi pemusnah sampah hydrodrive yang diusung oleh PT Bumi Resik.

"Kita jajaki semua teknologi yang memungkinkan untuk pengolahan sampah terutama di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) sampah regional agar tidak menjadi permasalahan lingkungan," kata Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy di Ruang Rapat Kantor Gubernur, Senin,(13/09).

baca juga: Pemerintah Harus Mitigasi Pelaksanaan PTM, DPR: PTM Penting, Meski Ditemukan Klaster Covid-19 di Sekolah

Teknologi hydrodrive yang diusung oleh PT Bumi Resik memanfaatkan air yang dipanaskan sebagai bahan bakar untuk memusnahkan residu sampah yang tidak bisa diolah lagi.

Teknologi yang telah dimanfaatkan pada beberapa daerah di Indonesia itu diklaim ramah lingkungan sehingga tidak akan mencemari udara dan lingkungan sekitar.

baca juga: Pergeseran Jabatan, Gubernur Sumbar Lantik Dua Pejabat Eselon II

Wagub Audy mengatakan secara umum Pemprov Sumbar sangat tertarik untuk menggunakan teknologi itu. Namun karena investasi yang tentu berorientasi profit atau keuntungan, volume sampah di Sumbar dinilai "tanggung". Sedikit tidak, banyak juga tidak.

Selain itu biaya jasa kompensasi pengolahan sampah dari kabupaten/kota juga relatif kecil baru Rp20 ribu per ton sementara estimasi biaya pengolahan dengan teknologi tersebut sekitar Rp60 ribu hingga Rp85 ribu per ton.

baca juga: Seorang Ibu Rumah Tangga di Tanah Datar Positif COVID-19

Ditambah lagi untuk pengadaan alat dalam kondisi refocusing anggaran saat pandemi COVID-19 juga sulit dilakukan karena jumlahnya cukup besar.

Sementara itu calon investor PT Bumi Resik, Djaka Winarso mengatakan pengolahan dan pemusnahan sampah menggunakan teknologi hydrodrive adalah rangkaian dari proses pemilahan sampah mulai dari sumber. Hanya residu sampah yang tidak bisa diolah yang dimusnahkan dengan teknologi itu.

baca juga: Sumbar Targetkan Geopark Ranah Minang Jadi UNESCO Global Park Pada 2023

Konsep kerjasama dengan pemerintah daerah juga fleksibel dengan memperhatikan potensi yang ada di daerah. Sumbar yang memgedepankan sektor peetanian dinilai cocok dengan teknologi tersebut karena salah satu hasil akhir dari proses pengolahan sampah tersebut adalah kompos yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian.

Editor: Joni Abdul Kasir