Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Minta Jurnalis Sumbar Hadirkan Berita Menyejukkan

Kegiatan Peningkatan Peran Jurnalis dalam Publikasi Kerukunan Umat Beragama Pasca Pandemi Covid 19 di Grand Rocky Hotel Bukittinggi, Jumat malam (17/9/2021
Kegiatan Peningkatan Peran Jurnalis dalam Publikasi Kerukunan Umat Beragama Pasca Pandemi Covid 19 di Grand Rocky Hotel Bukittinggi, Jumat malam (17/9/2021 (istimewa)

BUKITTINGGI, KLIKPOSITIF -- Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kemenag RI, menggelar kegiatan Peningkatan Peran Jurnalis dalam Publikasi Kerukunan Umat Beragama Pasca Pandemi Covid 19 di Grand Rocky Hotel Bukittinggi, Jumat malam (17/9/2021).

Kepala PKUB Kemenag RI Nifasri mengatakan, kegiatan ini ajang silaturrahim antar tokoh agama, tokoh masyarakat dan para jurnalis. Kehadiran jurnalis bukan bermaksud untuk mengekang atau membatasi kerja jurnalis itu sendiri.

baca juga: Buntut Meninggalnya 11 Siswa MTs di Ciamis, Kemenag Larang Madrasah Untuk Melakukan Kegiatan Ini

"Kita berharap ke depan bagaimana

jurnalis di Sumatra Barat ini memberitakan yang menyejukkan yang mengademkan. Kalau ada permasalahan di lapangan diklarifikasi dulu," katanya.

baca juga: 11 Siswa Meninggal Saat Susur Sungai, Kemenag Inginkan Ada Evaluasi Kegiatan Ekstrakurikuler Madrasah

"Jangan tau-tau mendapat informasi dari orang perorang lalu ditulis di media kemudian viral akhirnya ribut," sambungnya.

Ia mencontohkan kasus yang terjadi di Kabupaten Sijunjung, harusnya dikonfirmasi dulu, apa iya pejabat disana melarang untuk beribadah, karena agama ini sensitif.

baca juga: Media Prancis Soroti Suara Azan di Indonesia, Ini Jawaban Tegas Kementerian Agama

Dikatakannya, di Indonesia yang belum terpengaruh itu soal agama. Soal politik, sosial dan budaya sudah diserang dari berbagai sisi.

"Jika agama yang diserang dan dipengaruhi bukan hanya Sumatera Barat yang hancur semua provinsi di Indonesia juga akan hancur," ungkap Kapus dengan penuh keprihatinan.

baca juga: Ini Daftar 380 Masjid dan Musala Penerima Bantuan Terdampak Covid-19

Menyikapi hal itu, lanjutnya, Kementerian Agama melakukan kegiatan di berbagai daerah untuk menampung isu-isu yang berpotensi konflik, yang sudah ada konflik dan soliusi ke depan seperti apa.

Ia juga mengingat jangan sampai terulang lagi beberapa kasus yang terjadi saat ini, seperti pembakaran mesjid ahmadiyah oleh oknum masyarakat di Sintang dan kasus di Gorontalo, Suka Bumi dan daerah lainnya.

"Dari kejadian-kejadian itu ternyata dampak dari sosialisasi kebijakan yang belum maksimal. Kita ini negara hukum semua kebijakan itu ada dasarnya. Jika dasar-dasar itu dipatuhi tidak akan terjadi konflik" ujar Kapus menekankan.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 (tiga) hari, Jumat - Minggu (17 - 19 September 2021) menghadirkan jurnalis, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung, Sawahlunto dan Kota Bukittinggi.

Plt. Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, H. Syamsuir yang hadir didampingi Kakan Kemenag Bukittinggi, H. Kasmir berharap ke depan Sumatra Barat semakin rukun, damai dan memahami arti kerukunan itu dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara.(rilis)

Editor: Muhammad Haikal