Ini Yang Harus Dilakukan dan Tidak Boleh Dilakukan Jika Terjadi Gempa dan Tsunami

PADANG, KLIKPOSITIF - Gempa dan tsunami bisa terjadi kapan saja di Sumatera Barat, karena daerah Sumatera Barat berada di jalur rawan gempa .

Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya mengetahui beberapa hal yang harus dilakukan jika terjadi gempa atau ada potensi tsunami , terlebih bagi masyarakat yang bermukim di daerah rawan tsunami .

baca juga: PKBM Dharma Nagari Solok Selatan Latih Barrista Kopi Dengan Program Life Skill

"Ada beberapa hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan jika terjadi gempa atau tsunami ," kata Ketua Komunitas Siaga Tsunami ( Kogami ) Sumatera Barat, Patra Rina Dewi saat dihubungi klikpositif.com, Kamis 30 September 2021.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh masyarakat jika terjadi gempa dengan kekuatan tinggi adalah menyelamatkan diri dari gedung tinggi.

baca juga: Musorkablub KONI Pessel Siap Digelar, Pendaftaran Calon Ketua Dibuka Mulai Hari Ini

"Hal ini dilakukan agar saat gedung-gedung tinggi roboh, tidak ada korban jiwa dan masyarakat bisa selamat," katanya.

Hal kedua jika gempa sudah selesai, maka harus mencari gedung tinggi atau shelter untuk berlindung jika gempa tersebut disusul oleh tsunami .

baca juga: Pemko Pariaman Minta ATCS ke Kemenhub, Ini Fungsinya

"Untuk di Kota Padang ada beberapa shelter yang bisa digunakan seperti tiga shelter yang dibuat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tiga lokasi," katanya.

Hal ketiga yang harus dilakukan adalah dengan tidak membawa kendaraan saat melakukan evakuasi mandiri ke tempat ketinggian, gedung atau shelter.

baca juga: Kota Pariaman Raih 2 Penghargaan dari Kementerian

"Jika membawa kendaraan, maka akan mengakibatkan kemacetan dan waktu untuk menyelamatkan diri akan terbuang di jalan," lanjutnya.

Selain tiga hal yang harus dilakukan itu, ada beberapa hal yang tidak dianjurkan untuk dilakukan jika terjadi gempa dan tsunami .

Hal pertama yang tidak dianjurkan untuk dilakukan jika terjadi gempa adalah memanjat pohon yang ada di sepanjang pesisir pantai.

"Jika terjadi tsunami , pohon tidak akan sanggup menahan dorongan gelombang yang datang. Maka sebaiknya menuju gedung atau shelter saja," katanya.

Hal kedua yang tidak boleh dilakukan adalah menuju bibir pantai untuk melihat apakah air laut surut atau tidak setelah terjadi gempa .

"Karena tidak selalu tsunami itu didahului dengan surutnya air laut karena pesisir pantai di Sumatera Barat akan turun sepanjang 1,7 kilometer dan surutnya air laut tidak akan terlihat setelah gempa terjadi," lanjutnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada jika terjadi gempa atau tsunami suatu saat dan yang paling penting memiliki rencana penanggulangan keluarga.

Penulis: Halbert Caniago | Editor: Haswandi