Sampuran Rajo Panjang, Wisata Alam yang Baru Ditemukan di Situak Pasaman Barat

Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat, Decky H Saputra bersama Ketua Pokdarwis Situak, Zona Sapta yang turun lansung mencoba berenang menyusuri Sampuran Rajo Panjang
Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat, Decky H Saputra bersama Ketua Pokdarwis Situak, Zona Sapta yang turun lansung mencoba berenang menyusuri Sampuran Rajo Panjang (Irfansyah Pasaribu)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Pasaman Barat adalah salah satu daerah kabupaten di Sumatera Barat yang memiliki gunung perbukitan, sungai, danau dan laut. Daerah ini kaya objek wisata dan diyakini menyimpan banyak spot atau lokasi wisata yang masih alami.

Selain memiliki gunung tertinggi di Sumatera Barat yakni Gunung Talamau dan memiliki hamparan pantai yang langsung berhadapan dengan laut Samudera Hindia. Banyak ditemukan beberapa spot bahkan baru diketahui dan belum tersentuh.

baca juga: Puluhan Pedagang Gorengan dan Kue Tradisional di Pariaman Dilatih Tingkatkan Kapasitas

Namun keindahan alam itu tidak banyak diketahui karena belum dikelola dengan baik. Hal itu dikarenakan sebelumnya pemerintah melalui Dinas Pariwisata setempat tidak pernah serius untuk melihat potensi alam yang ada, sehingga keindahan alam yang ada tidak pernah terekspos ke dunia luar.

Spot wisata tersembunyi ini kini diberi nama Sampuran Rajo Panjang, spot ini adalah salah satu spot air terjun dengan ketinggian sekitar 50 meter yang baru ditemukan di Jorong Situak, Nagari Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang. Spot ini berada di antara bukit barisan yang membentang.

baca juga: Bertemu Menko Polhukam dan Menpan RB, Walikota Pariaman Sampaikan Hal Ini

Di Sampuran Rajo Panjang tidak ada spesies ikan biota air tawar yang hidup dikarenakan air nya yang sangat biru itu memiliki pH yang sangat rendah. Letak Sampuran Rajo Panjang ini berjarak sekitar 3 kilometer dari ujung perkampungan Jorong Situak.

Untuk menuju lokasi objek wisata alam yang berada dalam hutan ini dibutuhkan tenaga esktra karena jalan yang ekstrim. Sebab belum ada jalan alternatif karena harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer dengan melewati bukit yang curam dan terjal.

baca juga: Andre Rosiade Bantu Sopir Angkot yang Tangannya Patah dan Anaknya Sakit

Jika wisatawan ingin berkunjung harus ditemani pemandu lokal di bawah naungan Pokdarwis Situak. Di daerah itu sangat kental dengan aturan adatnya, bagi wisatawan yang tak bisa mematuhi aturan adat tak akan diberi izin masuk berkunjung.

Selain objek wisata Sampuran Rajo Panjang, di Jorong Situak banyak menyimpan wisata - wisata alam lainnya. Keberadaan sejumlah wisata alam di Jorong Situak masih banyak yang belum diketahui oleh para wisatawan dan begitu juga para penjelajah alam atau sejarah.

baca juga: Polisi Ungkapkan Kronologi Kebakaran Gudang Minyak di Padang Pariaman

Ada sebanyak 8 potensi wisata yang tersimpan di kampung tertua di Kecamatan Lembah Melintang itu yakni Danau Laut Tinggal, Air Terjun Sipagogo, Goa Lubuk Tano, Bendungan Belanda, Kuburan Kuno Penyebar Agama Islam, Kuburan Rajo Andolan dan terakhir yang baru ditemukan Sampuran Rajo Panjang.

Menurut mitos berkembang, air yang mengalir di Sampuran Rajo Panjang diyakini berasal dari Danau Laut Tinggal yang dimana danau itu merupakan danau vulkanik sehingga ikan biota air tawar tak bisa hidup.

Danau itu mengandung Sulfur yang berbahaya bagi tubuh. Hal itu dikuatkan karena dikaki gunung ditemukan sumber mata air panas, yang diduga menandakan adanya aktivitas vulkanik didalam perut bumi di pegunungan itu.

Air danau tersebut tersebut tidak dapat dikonsumsi karena rasa air tersebut tidak enak dan Phnya menurut penelitian sangat rendah berkisar pH 2. Selain itu tidak ada hewan yang hidup di sepanjang aliran air danau, baik ikan maupun hewan lainnya.

Namun belum ada dilakukan penelitian terkait air yang mengalir di Sampuran Rajo Panjang apa layak untuk di konsumsi atau ada hubungan nya dengan Danah Laut Tinggal, karena jarak Danau Laut Tinggal dengan Sampuran Rajo Panjang membutuhkan 8 jam perjalanan dengan jalan kaki.

"Sampuran Rajo Panjang ini baru ditemukan, tinggi air terjun nya sekitar 50 meter dan disekitaran sampuran ini ada goa dengan kedalaman sekitar 20 meter," sebut Ketua Pokdarwis Situak, Zona Sapta kepada KLIKPOSITIF , Selasa (19/10/2021).

Sampuran Rajo Panjang dikenal dengan air nya yang biru, untuk menjangkau kelokasi wisatawan tak diberi izin berkunjung tanpa ditemani pemandu dari Pokdarwis Situak mengingat akses ke lokasi sangat ekstrim dan harus melewati bukit yang curam.

"Kami berharap pemerintah untuk serius mengelola objek - objek wisata alam ini. Beri kami kepastian dan keseriusan. Potensi sudah ada, namun bagaimana ini bisa berkembang kedepannya," harapnya.

"Kami pelaku kelompok sadar wisata juga berharap diberi pembekalan SDM dalam pengelolaan objek wisata, sehingga kami bisa profesional dengan standar lisensi yang ada, sehingga para wisatawan bisa terpuaskan," sambungnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat, Decky H Saputra menyebutkan Kabupaten Pasaman Barat berada ditingkat paling bawah di Sumbar dan belum masuk dalam peta wisata di Sumbar apalagi dalam peta wisata nasional.

"Saya baru dilantik Agustus 2021 kemaren dan sejak dilantik saya berupaya membenahi SDM para Pokdarwis yang ada terlebih dahulu. Bukan berarti kita tak ada wisata, daerah kita yang paling kaya objek wisata di Sumbar ," sebutnya.

Sejauh ini Decky menilai Pokdarwis yang ada tidak dibina dengan baik dan serius selama ini sehingga objek - objek wisata tidak pernah terekpose ke dunia luar. Hendaknya para Pokdarwis diberi perhatian serius agar dunia pariwisata Pasaman Barat bisa maju dan dikenal.

Sebab kata dia pengelola objek - objek wisata yang ada adalah para Pokdarwis bukan dinas pariwisata itu sendiri. Menurutnya Dinas Pariwisata hanya bersifat sebagai pelayan dan pembuat regulasi dalam dunia pariwisata. Untuk itu kata Decky di tahun 2022 dirinya akan fokus dalam hal perbaikan SDM para Pokdarwis.

"Dinas Pariwisata bukan pebisnis wisata. Kita hanya pelayan dan pembuat regulasi tentang bagaimana arah wisata Pasaman Barat kedepannya menjadi wisata yang berbasis masyarakat," terangnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Ramadhani